Judul: Teologi Ekonomi: Partisipasi Kaum Awam dalam Pembangunan menuju Kemandirian Ekonomi
Penulis: Benny Susetyo
Pengantar: Binny Buchory
Penerbit: Averroes Press
Tahun: 2006
Tebal: 172
ISBN: 9793997044

 

Dalam pengantar buku ini, penulis mengajak kita untuk merenungkan kembali apa yang diucapkan Bung Hatta (alm) di depan Rapat Senat Terbuka UGM, saat menerima penghargaan Doktor Hc tahun 1956. “Apa yang kita alami di Indonesia sehari-hari di sekitar kita, seolah-olah Pancasila itu diamalkan di bibir saja, tidak menjadi pelita di dalam hati untuk membangun masyarakat baru. Tiap-tiap golongan berkejar-kejaran mencari rezeki. Golongan sendiri dikemukakan, dan masyarakat dilupakan. Dalam teori kita mengikuti kolektivisme, dalam praktik dan perbuatan kita memperkuat individualisme. Dalam teori kita membela demokrasi sosial, dalam praktik dan perbuatan kita menghidupkan semangat demokrasi liberal (Lampau dan Datang, 1956:22).”

 

Kata-kata itulah yang mendorong penulis untuk menerbitkan buku yang semula adalah tugas akhir sarjana S-1. Menurutnya, selama republik ini dikendalikan “para bandit”, baik berdasi maupun preman, maka kita sulit mencapai kemakmuran. Mentalitas banditisme, yang dihidupi semangat VOC Belanda dan Tentara Dai Nipon, masih menjadi bercokol menjadi kultur bangsa ini. Di situlah kita melihat proses menjadi bangsa yang berperikemanusiaan, beradab dan berkeadilan jauh dari ingatan memori bangsa ini.

 

Partisipasi Kaum Awam

teologi ekonomiStudi yang khusus untuk melihat partisipasi kaum awam dalam pembangunan ekonomi di Indonesia saya kira masih relevan. Kaum awam dipanggil untuk memberikan kesaksian mereka di tengah-tengah dunia. Dengan ciri khasnya kaum awam dipanggil menjadi ragi di tengah dunia. Panggilan ini menuntut suatu keterbukaan kepada kurnia Roh Kudus. Kurnia Roh Kudus inilah yang menggerakkan kaum awam terlibat dalam masalah sosial.

 

Permasalahan saat ini dihadapi bangsa Indonesia adalah memperjuangkan keadilan dalam bidang ekonomi. Perjuangan ini tentunya harus didukung setiap warga negara. Demikian juga kaum awam sebagai warga negara tidak terlepas dari tanggung jawabnya sebagai warga negara.

 

Sebagai ungkapan dari tanggung jawabnya sebagai warga negara kaum awam dapat berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan ekonomi. Partisipasi ini dapat diwujudkan lewat kesaksian mereka dalam persaudaraan, pewartaan, liturgy dan pelayanan.

 

Partisipasi mereka dalam kesaksian untuk mewujudkan keadilan ekonomi sangat diharapkan. Oleh karena itu kaum awam perlu disadarkan akan panggilan menjadi ragi di tengah-tengah dunia. Kesadaran akan muncul bila didukung oleh pembinaan yang mengena di hati mereka.

 

Belum Terjawab Semua

 

Menurut Oleh Binny Buchori, Direktur Eksekutif Perkumpulan PraKarsa, yang memberi pengantar buku ini, buku yang diberi judul “Teologi Ekonomi: Partisipasi Kaum Awam dalam Pembangunan Menuju Kemandirian Ekonomi” menjanjikan, setidaknya dari judulnya, beberapa jawaban atas pertanyaan itu. Dari judul yang dipilih, setidaknya buku ini akan membicarakan, (1) bagaimana teologi dapat ikut menjawab masalah ekonomi dan keadilan sosial (2) apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat biasa; (3) masalah perekonomian Indonesia dan jalan untuk menuju kemandirian ekonomi. Walaupun setelah membaca secara keseluruhan belum menemukan semua hal yang saya cari terjawab di sini.

 

Titik tolak buku ini adalah bahwa Gereja Katolik telah ikut mengambil bagian dalam mewujudkan keadilan sosial sejak abad yang lalu. Hal ini terlihat dari ajaran sosial gereja yang dimulai pada Abad XIX (lihat bab Keterlibatan Kaum Awam dalam Pembangunan Ekonomi, sub-bab Ajaran Sosial Gereja oleh Bapak-bapak Paus).

 

Di sini penulis dengan baik mendeskripsikan bagaimana Gereja Katolik melibatkan diri dalam pembelaan kaum buruh dan mengajukan usulan agar negara memiliki peran melindungi kaum yang lemah, dan bukannya membiarkan golongan kaya melakukan eksploitasi terhadap golongan yang lemah. Selanjutnya penulis menceritakan kronologi keterlibatan Gereja Katolik dalam mendorong konsep negara kesejahteraan dan juga menanggapi kesenjangan antara negara kaya dan miskin.

2 COMMENTS