Perkembangan teknologi saat ini sudah menjadi sorotan dan konsumsi berita sehari-hari. Transformasi teknologi seolah sudah menjadi bagian dari budaya kehidupan masyarakat. Di beberapa negara maju, isu berkembangnya teknologi bukanlah sekedar melihat prospek bisnis penjualan atau meraih keuntungan. Terlebih untuk kalangan praktisi, hal ini menjadi tolak ukur efisiensi dan efektifitas pekerjaan. Hadirnya infrastruktur modern sangat dibutuhkan dalam menunjang kebutuhan profesional, mempermudah penyelesaian dan tentu menyederhanakan sesuatu yang rumit.

Terjadinya kasus „pejabat dan surat elektronik“ yang telah beredar di media massa belakangan ini, membuat saya ingin menyajikan contoh konkret betapa pentingnya media sebagai alat komunikasi. Tak usah panjang lebar, kebutuhan internet sudah wajib hukumnya bagi penduduk di seluruh wilayah Jerman. Secara umum, seluruh pekerjaan dibutuhkan sistem yang jelas dengan dukungan jaringan internet.

Saya yang terdaftar sebagai pelajar, mendapatkan alamat surat elektronik dengan domain resmi universitas. Beberapa teman yang menjalankan bisnis sebagai servis tukang ledeng dan tukang kebun sekalipun, memiliki alamat surat elektronik pribadi dengan menggunakan domain resmi firmanya.

Alamat surat elektronik, media komunikasi lazim digunakan di era digital.

Menggunakan perangkat terkini seperti smart phone, android juga sudah hal yang sangat lumrah. Mengingat tingkat mobilitas penduduk yang tinggi dan untuk tujuan peningkatan efektifitas waktu. Konsistensi menjadi peran penting dalam menjalin hubungan baik dengan kolega, serta menunjukkan sebuah keseriusan dan tanggung jawab atas resiko profesi dan pekerjaan. Di lingkungan sehari-hari, bila saya memiliki keperluan dengan petinggi universitas, pengajar, kolega sampai dengan tenaga administrasi tak perlu buang waktu banyak, cukup dengan mengirim surat elektronik dalam beberapa jam sudah mendapatkan balasan. Perbedaan jarak dan penghematan ongkos transport menjadi alasan utama sekaligus sangat efektif bagi saya dan kolega untuk melakukan teleconference, ketika kami diharuskan untuk berdiskusi atau dialog.

Mengamati kejadian kasus kebohongan publik mengenai alamat surat elektronik , sejujurnya telah membuat saya geli. Upaya berdalih sudah diungkapkan, namun buat saya pribadi tetap kurang logis dan terdengar sangat janggal. Entah dengan alasan lupa, tidak ingat atau karena tidak dikelola secara langsung oleh yang bersangkutan, malah semakin membuktikan betapa tidak profesionalnya seorang pejabat negara tersebut. Bahkan pernyataan bahwa pejabat negara tidak harus mengingat alamat surat elektroniknya, semakin membuat saya geleng kepala. Tidak habis pikir lagi, informasi mengenai alamat surat elektronik tersebut diragukan kebenarannya.

Mengkaji kejadian tersebut, memicu pertanyaan saya dan teman-teman tentang ketidaksiapan SDM dalam implikasi perkembangan teknologi, penyebab utamanya bisa diasumsikan ialah ketakutan akan transparansi. Dimana hal ini merujuk pada pertanyaan, “Siapkah bangsa kita akan era globalisasi dan digitisasi?“. Bila muncul anggapan bahwa tidak perlu hal sepele seperti alamat surat elektronik resmi pejabat negara diributkan, bukankah segala sesuatu menjadi besar dimulai dari hal sederhana terlebih dahulu?

4 COMMENTS

  1. Interaksi adalah praktek demokrasi. Email dan internet mempermudah interaksi. Pemerintah udah semestinya ‘diupgrade’, karena rakyatnya sebagian besar sudah bergeser jadi konsumen media digital. Sampai kapan pemerintah mau terus2an kejebak di jaman batu? Liat negara tetangga: Singapura aja pemerintahnya gencar kampanye kebijakan dan program2 lewat website+blog, Australia warganya bisa bayar pajak lewat internet. What an efficient way provided by public sector! Pemerintah mustinya jadi WAKIL rakyat yg memudahkan kehidupan sbg warga negara, bukan malah mempersulit.

  2. Kekhawatiran itu memang terjadi ….
    apakah betul negara kita akan siap dengan semua kemajuan teknologi komunikasi ini atau hanya sebagai follower. Terlihat betul kebutuhan teknologi komunikasi dari kacamata orang “luar” dengan orang kita. Sepertinya orang kita melihat semua itu hanya menjad bagian dari gaya hidup, karena tidak mau dianggap ketinggalan zaman atau gaptek.
    Karena saya bisa melihat contoh nyata orang yang mengerti fungsi dari teknologi komunikasi dengan orang yang hanya ingin kelihatan hi tech tapi malah jadi “bego”

  3. Teknologi = Akselerasi = Kesempatan. Kesempatan hanya milik orang yang “SIAP”.

    btw, gedung DPR itu konon menghabiskan anggaran 10 M pertahun loh untuk urusan internet.
    jadi, siapa yang gak siap ya? hehehe

  4. sepakat tuch … ketidak siapan menerima teknologi secara penuh termasuk dampaknya akan berakibat fatal … inilah ulah neolib yang selalu mengumbar hedonisme dibalik konsumerisme hingga orang merasa gak afdol kalo gak ikut trend .. perlu perjuangan melawan semua itu