Tulisan ini merupakan review artikel yang ditulis oleh Dr. Johny setiawan. Artikel berjudul Vertical Farming dan Ketahanan Pangan Nasional tersebut dipublikasikan oleh Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4).

Menurut data dari PBB, penduduk dunia pada tahun 2015 berjumlah sekitar 7,324 milyar. Sedangkan, jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa (3,45 % penduduk dunia). Posisi Indonesia tersebut berada di urutan keempat setelah negara Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Jika asumsi pertumbuhan penduduk adalah 1,5%, maka diperkirakan penduduk Indonesia tahun 2030 adalah 320 juta jiwa dan di tahun 2050 sebesar 430 juta jiwa. Angka tersebut tentu cukup mengerikan ketika melihat kota seperti Jakarta, Surabaya, atau Malang yang sekarang penuh sesak. Apalagi membayangkan perkiraan jumlah penduduk Indonesia di tahun 2050 nantinya. Bahkan mungkin untuk mencari lahan kuburan saja kesulitan.

Ledakan jumlah penduduk memang tidak dapat dihindari. Sedangkan, tanah di bumi justru semakin menciut akibat erosi. Belum lagi alih fungsi hutan dan lahan pertanian dijadikan lahan perumahan dan apartemen. Secara otomatis, perubahan zaman tersebut berimbas pada lahan pertanian yang semakin menyempit. Padahal kebutuhan pangan terus meningkat. Untuk itu, Indonesia perlu mempersiapkan persedian pangan secara sistematis dan sustainable untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Meski lahan untuk sektor pertanian semakin menipis, Indonesia sampai hari ini masih menjadi salah satu negara agraris terbesar di dunia. Namun, ironis mengetahui bahwa negara ini terpaksa impor untuk mencukupi kebutuhan pangannya. Hal yang kemudian menjadikan pemerintah terus menggenjot upaya swasembada beras dengan berbagai program andalannya.

Pertanian Vertikal (Vertical Farming)

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa lahan pertanian selama 12 tahun terakhir tidak ada peningkatan, bahkan menurun drastis untuk komoditas tertentu seperti kedelai. Kondisi tersebut tentu saja mengharuskan masyarakat dan pemerintah untuk membuat sebuah terobosan anyar. Beberapa strategi macam One Village One Product (OVOP) dilakukan sebagai salah satu alternatif antisipasi kondisi tersebut. Dan salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah metode vertical farming.

Proyek pertanian vertikal pertama kali dikenalkan pada Lembaga Kesehatan Lingkungan dan Mikrobiologi di Colombia University, New York, Amerika Serikat. Adalah profesor Dikson Despommie yang mulai memperkenalkan metode ini pada tahun 1999. Lambat laun, penggunaan metode tersebut mulai digunakan di berbagai daerah. Meskipun penerapannya masih terhitung minim. Hanya beberapa negara macam Singapuran dan Korea Selatan yang sudah menerapkan skala besar.

Pertanian vertikal memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut:

1. Menjadi Pemecah Masalah Keterbatasan Lahan Pertanian, Terutama Di Kota-Kota.

Vertical farming sangat cocok diterapkan di daerah urbanisasi. Dengan memanfaatkan bangunan bertingkat, pertanian vertikal sangat sesuai dengan pola bangunan di daerah perkotaan. Apalagi kebutuhan akan lingkungan yang sehat juga menjadi salah satu alasan penggunaan metode pertanian vertikal

2. Ketahanan Terhadap Perubahan Iklim, Faktor Cuaca, dan Bencana Alam yang Dapat Mempengaruhi Panen.

Pertanian vertikal tidak rentan terhadap perubahan iklim lokal. Jika terjadi bencana alam, kerugiannya tidak sebanyak pertanian horizontal dan regenerasinya pun lebih mudah.

3. Transportasi

Pertanian vertikal bisa memperpendek jalur transportasi komoditi dari produsen ke konsumen. Sehingga, penghematan energi bahan bakar bisa ditingkatkan dan biaya transportasi bisa ditekan.

4. Keanekaragaman

Dalam satu bangunan dapat dibudidayakan berbagai jenis tanaman pangan secara terpisah di setiap tingkat. Sehingga, hasil produksi pangan bisa diperoleh secara berkelanjutan. Produk alternatif pun akan banyak.

Kendala untuk mewujudkan pertanian vertikal adalah penyediaan energi yang cukup terutama masalah pencahayaan. Di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika yang teknologinya sudah maju, pencahayaan buatan yang mirip sinar matahari berharga sangat mahal. Apalagi di musim dingin, diperlukan pemanas untuk menjaga suhu tanaman sehingga menambah biaya yang mahal juga. Karena dinilai tidak ekonomis, negara-negara maju masih mengimpor bahan pangan dari negara-negara pertanian.

Indonesia mempunyai potensi keberhasilan yang lebih tinggi dibanding negara-negara eropa karena mempunyai pencahayaan alami. Indonesia mendapatkan sinar matahari yang cukup setiap hari dan sepanjang tahun. Keadaan iklim Indonesia juga relatif stabil, baik dari suhu udara maupun kelembamannya. Faktor-faktor penting dalam pembangunan pertanian vertikal di Indonesia adalah analisa jumlah kebutuhan pangan, pemetaan dan klasifikasi jenis tanaman, analisa neraca kebutuhan energi dan teknologi yang akan diterapkan, dan capacity buildingnya.

Indonesia seharusnya jangan terlena oleh kondisi geografis yang sangat kaya raya. Kiranya sudah saatnya untuk memikirkan solusi jangka panjang. Jika terus di zona nyaman, maka kita tidak hanya akan tertinggal, namun akan semakin mundur karena terkena bom waktu kelangkaan bahan pangan. Sumber daya manusia menjadi sangat penting untuk terus ditingkatkan kualitasnya agar tidak terus menggantungkan pada kekayaan alam saja. Apalagi masalah pertanian adalah kebutuhan pokok untuk segala aktivitas manusia.