Pada pekan kemarin (24/2) Diskusi Reboan mendiskusikan buku ketiga dalam trilogi Nusa Jawa karya Denys Lombard, setelah pada dua pekan sebelumnya membahas dua tema awal trilogi Nusa Jawa. Pada buku ketiganya ini, Lombard mengusung tema warisan kerajaan konsentris yang merupakan manifestasi kebudayaan Jawa akibat pengaruh dari hasil peradaban kerajaan nusantara, lebih tepatnya Kerajaan Mataram Islam. Substansi ini menjadi sulit untuk ditinggalkan karena merupakan klimaks dari pembahasan silang budaya masyarakat Jawa. Oleh sebab itu, pada diskusi ini peserta sangat antuisias untuk berpendapat dan menanyakan sesuatu hal yang kiranya sulit untuk dipahami.

Jalannya diskusi kali ini digugah oleh Fahrul Ulum yang notabene adalah Pemimpin Redaksi Avepress. Posisinya menjadi lengkap setelah Nasrun An-nahar bertugas sebagai pengatur jalannya diskusi agar tetap fokus. Sedangkan, sebagai notulen ialah Jawoto Tri Prabowo.

Kerajaan Konsentris

Kerajaan konsentris memiliki pengaruh penting dalam menyusun sejarah kebudayaan Jawa. Hal ini tidak lepas dari doktrin yang telah mempengaruhi jutaan penduduk jawa dalam beraktifitas keseharian. Fahrul, yang juga akrab disapa Mas Ben, selaku pemantik, menegaskan bahwa Mataram Islam dapat merubah sebagian besar sosio-kultur masyarakat Jawa yang awalnya lekat dengan tradisi Hindu, Budha, Animisme, dan Dinamisme. Meski pada realitanya perubahan ini tidak menghilangkan kebudayaan sebelumnya secara drastis. Akan tetapi, signifikansi perubahan budaya yang merata-hampir seantero pulau-menyebabkan analisis tidaklah mudah.

Mas Ben kemudian menguatkan argumentasinya diatas, ia mengutarakan bahwa doktrin kebudayaan dari kerajaan konsentris telah menghilangkan sebagian besar doktrin Indianisasi di Jawa. Salah satu faktor penting dari doktrin tersebut ialah adanya agen kebudayaan dari Mataram Islam. Diantaranya adalah: Pertama, adanya elit desa sebagai pemilik wewenang terhadap kepengaturan wilayahnya yang sesuai dengan mandat raja. Untuk menguatkan aparatus ini, keraton membuat semacam kegiatan diklat selama sekitar satu bulan untuk elit desa di keraton. Setelah itu, mereka akan dikembalikan ke desa dengan konsekuensi salah satu dari keluarganya disandera. Penyanderaan ini ditujukan agar pihak elit desa tidak membangkang dari keraton. Kedua, adanya polisi negara sebagai aparat penegak disiplin. Polisi diberi tugas untuk melakukan pengawasan terhadap segala aktivitas perpajakan dan ketertiban lainnya yang terjadi di suatu wilayah. Apabila terjadi sebuah pelanggaran, mereka akan melaporkan ke keraton untuk diadili dan di pengadilan mereka akan berposisi sebagai jaksa penuntut umum. Kedua agen ini menjadi penting dikarenakan fungsinya sebagai aparatus dari keraton yang mengontrol masyarakat agar tetap dalam jalur kekuasaan keraton.

Dalam kaitannya dengan ekologi politik, alih fungsi lahan hutan terjadi pada masa kerajaan ini, seiring dengan fokus utama keraton yang menginginkan pertanian sebagai sumber ekonomi utama kerajaan. Logika kebijakan agraria yang diterapkan oleh Mataram Islam juga tidak lepas dari aspek fundamental peta geografis keraton. Mataram Kuno yang diperkirakan berada di wilayah Jombang berdekatan dengan aliran Sungai Brantas dan dekat dengan pantai utara jawa. Sementara itu, kondisi Mataram Islam terletak di tengah-tengah pulau Jawa dan dulunya merupakan wilayah hutan. Hasil dari perpindahan geografis ini telah menjadi penegas dari fokus perekonomian yang bergeser, yakni dari maritim ke agraris.

Perubahan Budaya

Dalam penyajian materinya, Mas Ben berusaha mensistematiskan pembahasan Lombard dalam peroalan perubahan sosial-budaya yang terjadi antara pra Mataram Islam dan saat sistem kerajaan ini berjalan. Pria pengagum Film Bolywood ini memaparkan setidaknya ada lima perubahan yang terjadi berdasarkan buku Lombard, yakni: Struktur sosial, posisi kepemimpinan raja, aparatur negara, desa, dan peran wanita.

Pada struktur sosial perubahan terjadi disebabkan adanya perubahan pemahaman keraton tentang agama. Pada pra Mataram Islam, struktur sosial ditentukan melalui kasta menurut trah atau keturunan masing-masing. Pemahaman ini lekat kaitannya dengan ajaran Hindu yang datang dari India. Kondisi ini kemudian berubah saat Mataram Islam berkuasa. Struktur sosial kemudian nampak cenderung lebih egaliter. Meskipun dibalik itu, kelas sosial masih terlihat berdasarkan ekonomi, keturunan, dan pengetahuan. Kelas sosial ini menjadi kacau setelah VOC datang sebagai penjajah yang meluluhlantakan peradaban Jawa. Ia membuat kelas menjadi melebar dengan menciptakan sistem perbudakan seperti kerja paksa.

Perubahan pandangan keagamaan juga menyebabkan posisi politik raja menjadi berubah. Pada era pra Mataram Islam, raja digambarkan sebagai jelmaan dari dewa, atau yang biasa disebut Maharaja. Hal ini berbeda dengan penggambaran pada era Mataram Islam. Pada masa ini raja berposisi sebagai khalifatullah atau wakil tuhan di muka bumi. Perbedaan ini menunjukkan fakta bahwa perubahan ideologi dan agama telah merubah tata pemerintahan dan struktur politik kerajaan konsentris.

Selanjutnya, perubahan posisi politik raja menyebabkan aparat birokrasi juga berubah. Jika masa Mataram Islam seorang birokrat merupakan orang yang menjadi kerabat dari ndalem kerajaan dan orang biasa  yang memiliki jasa terhadap kerajaan, maka pada masa sebelum mataram kuno yang dapat menjadi birokrat adalah kerabat kerajaan dan pujangga (orang yang ahli di bidang agama dan teks).

Satu hal yang menjadi menarik dalam buku Lombard kali ini ialah pengungkapan data tentang otonomi daerah. Mas Ben menjelaskan bahwa adanya otonomi daerah pada masa Mataram Islam dapat dibuktikan melalui kewenangan yang dimiliki oleh desa. Pria asal Semenanjung Lembah Bengawan Solo ini menyebutkan bahwa dahulu pada masa Majapahit, lurah atau kepala desa telah dianggap sebagai pemancar kuasa raja. Otoritas ini kemudian ditingkatkan ketika masa Mataram Islam, lurah disebut sebagai pemimpin kecil yang memiliki wewenang untuk mengatur wilayahnya dalam batasan aturan kerajaan. Maka dari itu, sistem desentralisasi sebenarnya memiliki sejarah yang cukup panjang di Indonesia. Sayangnya, aktualisasi sistem ini pada masa sekarang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa lampau.

Terakhir ialah peran perempuan Jawa. Pada masa Mataram Kuno perempuan terpilih dapat memiliki hak sebagai penghubung dinasi, ratu, dan pasukan khusus. Kesadaran untuk melaksanakan kesetaraan gender ini kemudian harus dibatasi pada masa Mataram Islam. Hal ini tidak lain disebabkan oleh pemahaman keraton mengenai posisi perempuan dalam ruang sosial yang telah berubah.

Mas Ben kemudian mengatakan bahwa di buku Lombard perubahan pada kerajaan mataram kuno dengan islam tidak hanya lima itu saja. Namun, setidaknya lima perubahan itu merupakan perubahan yang signifikan terjadi. Bahkan perubahan itu sampai sekarang masih dapat dirasakan. Sekali lagi, bahwa perubahan kebudayaan Jawa yang terjadi pada masa Mataram Islam lebih diakibatkan adanya perubahan dalam kepercayaan keraton yang memeluk Islam. Hasilnya, pada masa ini doktrin Indianisasi sedikit demi sedikit mulai luntur dalam aktivitas sosial masyarakat Jawa.

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa renaisans di Mataram sebagaimana yang dikatakan Lombard terjadi pada rentang waktu yang lama. Masyarakat Jawa secara perlahan terus mencari bentuk-bentuk penyesuaian terhadap budaya baru Mataram Islam maupun Belanda. Artinya bahwa warisan Indianisasi tidak semerta-merta hilang begitu saja. Beberapa mengalami peniruan, pengulangan, pencocokan, dan juga pembuahan. Hal ini bisa dilihat dari sistem perpadanan yang sampai hari ini masih digunakan secara umum. Mulai dari penggunaan hitungan pasar, keberadaan keraton, hingga konsepsi posisi raja. Lebih dalam, Mas Ben menegaskan bahwa Lombard juga menggarisbawahi jika dalam usaha menemukan keseimbangan dan keserasian, masyarakat Jawa dikenal dengan masyarakat yang pandai membawa diri. Mereka adalah masyarakat yang tau bagaimana dan seperti apa menempatkan diri mereka. Dalam beberapa kasus, mereka akan akan memilih untuk ngalih atau menghindari konflik sosial, itulah mengapa konsepsi sing waras ngalah begitu melekat di masyarakat Jawa.

Kerajaan konsentris (Mataram Islam) yang memiliki hegemoni terhadap Jawa pada abad ke-15 tidak hanya merubah kondisi sosial dan budaya, mereka secara nyata juga terbukti telah mempersilahkan kolonialisme masuk ke dalam Jawa. Mas Ben dalam telaahnya terhadap buku Lombard menegaskan bila Perjanjian Giyanti yang menyebabkan VOC dapat memiliki otoritas kuasa beberapa wilayah Jawa. Dari sinilah secara perlahan VOC mulai menebarkan kuasanya melalui ekonomi dan politik.

Hingga kini, terdapat beberapa kebudayaan warisan kerajaan konsentris yang mengalami transformasi nilai. Penyatuan ribuan pulau dalam lingkar NKRI adalah suatu kejutan tersendiri bagi Lombard. Namun, di sisi lain, ia merasakan jika beragamnya masyarakat Indonesia beserta budaya dan adat masing-masing menjadikan bangsa ini sedikit mengalami stagnasi perkembangan. Jika dibandingkan dengan orang barat yang lebih terbuka dan bebas, masyarakat Indonesia lebih banyak dibenturkan dengan norma dan nilai keadatan (lokal). Untuk menjelaskan persamaan kebiasaan dari dahulu hingga sekarang, Lombard melihat bahwa masyarakat Jawa tak bisa dilepaskan dari kebiasaan mengembara (merantau). Semenjak dahulu, bahkan sebelum Majapahit, masyarakat Jawa memang sudah terbiasa hidup dalam pengembaraan. Karenanya, menjadi lumrah jika sampai sekarang budaya merantau tiada matinya.

Diskusi Reboan pada seri buku Denys Lombard ini pada akhirnya secara resmi diakhiri melalui perbincangan yang disajikan oleh Mas Ben. Beberapa kritik dilontarkan terhadap Lombard oleh peserta, seperti halnya penggunaan istilah renaisans yang dirasa tidak tepat penggunaannya. Tetapi salah satu keunggulan yang dimiliki karya trilogi ini ialah pengungkapan data sejarah yang sulit ditemukan dalam penelitian sebelum dan sesudahnya. Data dan dokumen ini telah menjadi penting bagi kita semua dalam mencari retakan sejarah Jawa untuk mencari kualitas kebudayaan yang lebih baik pada saat ini dan masa mendatang.