Buku Karya Denys Lombard dengan judul “Nusa Jawa: Silang Budaya” merupakan salah satu sarana untuk masuk dalam mempelajari budaya Nusantara, khususnya Jawa. Pada buku seri pertama, Lombard mencoba untuk mengurai tentang batas-batas budaya Jawa dengan budaya barat.

“Barat”, istilah yang mempresentasikan orang-orang Eropa dan Amerika telah memiliki hubungan yang intensif dengan penduduk Jawa. Bentuk atau ekpresi hasil persilangan budaya itulah yang kemudian menjadi fokus kajian Lombard dengan menggunakan model terbalik. Yakni meruntutkan fakta yang muncul saat ini untuk kemudian dilacak akar kemunculannya pada masa lampau. Adapun poin khusus yang dapat kita ambil dalam buku ini adalah bahwa Jawa tidaklah tunggal. Jawa berada dalam ruang konstelasi yang “ramai” dalam membentuk peradaban.

Dalam menguraikan hasil pengamatan atas budaya Jawa, Lombard mengawali uraiannya dengan laporan tentang gambaran atas kondisi geografis, geologis, ekonomi dan histori masyarakat Jawa. Secara geografis, Jawa berada dalam posisi yang cukup strategis karena berada di tengah pulau yang ada di Nusantara. Secara geologis, Jawa termasuk dalam daerah yang subur. Sedangkan secara kesejarahan, Jawa merupakan episentrum kerajaan yang besar di Nusantara. Mulai dari Singhasari, Majapahit, Padjadaran hingga Demak.

Cerita tentang pembaratan Jawa oleh Lombard diawali dengan kedatangan Bangsa-bangsa Eropa, khususnya Belanda. Melalui misi dagang, pelayar Belanda bernama Cornelis De Houtman mendarat di Banten. Melalui aktivitas perdagangan, penduduk Jawa dan Eropa (barat) telah terjadi interaksi yang intens. Atas interaksi itulah penduduk Jawa mampu mengenal dan bahkan melakukan peniruan atas budaya Eropa.

Selanjutnya, misi perdangan Eropa di Nusantara dilembagakan dengan membentuk VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada 1602. Dalam perjalanannya, VOC berubah, bukan sekedar lembaga bisnis tetapi juga menjaga alat politik yang digunakan untuk “menguasai” Jawa. Pada posisi tersebut, pembaratan yang terjadi tidak berjalan dengan baik. Kondisi tersebut lebih disebabkan oleh pendekatan konfrontatif, sikap eksklusif dan menganggap orang Jawa sebagai the other. Selain itu, kegagalan tersebut juga terjadi akibat pendekatan vis a vis yang dilakukan VOC terhadap penduduk Jawa yang mencoba mengganggu eksistensi dagang mereka. Sebelum pada akhirnya pada 1799 VOC bubar karena berbagai masalah yang terjadi di internal lembaga.

Bubarnya VOC tidak membuat pembaratan di Jawa berhenti. Proses pembaratan diteruskan oleh pemerintah Hindia Belanda. Pengelolaan kekuasaan tidak lagi konfrontatif terhadap pribumi tetapi lebih bersifat kompromis. Mereka berusaha meraih simpatik dan melakukan hegemoni-hegemoni secara halus dengan raja atau sultan untuk memuluskan kepentingan politiknya. Melalui pendekatan inilah kemudian pada abad ke-19 muncul politik etis (Devide Et Impera) yang diinisiasi oleh Van De Venter.

Lombard secara gamblang menggambarkan bagaimana struktur sosial masyarakat Jawa terbentuk sebagai salah satu akibat pembaratan. Sebagai hasil proses pembaratan pada masa kolonial Belanda, masyarakat Jawa terbagi dalam empak kelompok besar, yakni:

  1. Orang kristen yang muncul sebagai dampak dari aktivitas misionaris Belanda. Sampai saat ini, segmentasi tersebut bisa dilihat dari wilayah-wilayah di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, seperti Batak, Kepulauan Nias-Mentawai, Tanah Toraja dan Kepulauan Maluku.
  2. Golongan priyayi yang diberikan legitimasi oleh pemerintah kolonial, namun dikerdilkan pengaruhnya sehingga menutup peluang terjadinya perlawanan. Kaum priyayi dianggap sebagai golongan pragmatis karena sikapnya yang lebih banyak mendukung Pemerintah Belanda dan memperoleh manfaat dari culturstelsel. Kaum priyayi menjadi agen pembaratan di lingkungan keraton.
  3. Golongan tentara dan akademisi yang baru muncul menjelang kemerdekaan Indonesia. Golongan ini muncul sebagai akibat dibentuknya universitas oleh pemerintah kolonial dan angkatan bersenjata lokal oleh Jepang dalam pendudukannya yang singkat.
  4. Golongan kelas menengah. Kelas menengah ini muncul sebagai dampak dari urbanisasi yang makin gencar setelah kemerdekaan Indonesia. Ini tidak lepas dari pengaruh Belanda yang telah membangun perkotaan dan merangsang pindahnya masyarakat dari desa ke kota.

Kemudian, Lombard dalam karyanya juga menguaraikan dampak pembaratan yang terjadi pada masyarakat Jawa.

  1. Bidang ekonomi dan demografi. Pada bidang ini, Indonesia mengenal teknologi kereta api, pembangunan jaringan jalan raya dan ilmu pengobatan modern. Salah satu contohnya adalah Nederlandsch Indisch Artsenschool yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
  2. Bidang teknik pembinaan masyarakat. Melalui bidang ini, Indonesia telah mengenal sistem pencatatan administrasi negara, penanggalan dan sistem mata uang tunggal.
  3. Bidang busana, tingkah laku dan bahasa. Melalui bidang ini, Indonesia mulai mengenal dan menerima pakaian ala Eropa. Seperti penggunaan celana dan kemeja, gaya berjabat, penggunaan teknologi ketika makan, serta penyerapan Bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia.
  4. Bidang kata dan fakta politik. Melalui bidang ini, Indonesia mengenal istilah nasionalisme, komunisme, demokrasi dan revolusi. Meski Lombard juga mengatakan keseluruhan penyerapan tidak berhasil sepenuhnya.

Berbagai usaha pembaratan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda nampaknya tidak mampu menggeser secara radikal budaya nusantara, khususnya Jawa. Hal ini dapat dilihat bahwa keberadaan musik Barat masih belum mampu menggeser kekuatan dan keberadaan musik gamelan Jawa. Di sisi lain, pengaruh barat sedikit banyak juga telah masuk dalam budaya Jawa, misalnya dalam bidang seni, pendidikan, atau yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Masuknya nilai estetika Eropa telah membawa ekses yang menggerus aktivitas kebudayaan. Misalnya, aktivitas pariwisata telah merubah ritus-ritus yang semestinya sakral menjadi dangkal dengan hanya berorientasi pada pariwisata. Ritus-ritus budaya suci hanya diperlakukan sebagai komoditas untuk dinikmati wisatawan. Perubahan selera estetika inilah yang menurut Lombard sangat penting karena telah banyak dipengaruhi cita rasa Eropa.

Membaca buku tersebut dapat menyadarkan kita bahwa pembaratan terhadap semua lini kehidupan masyarakat nusantara bukanlah untuk kepentingan masyarakat lokal. Melainkan sebuah usaha dominasi, hegemoni, dan mengukuhkan budaya barat sebagai prasyarat atas penguasaan sumber-sumber ekonomi. Hasil akhir yang akan dicapai dalam proses tersebut adalah terjadinya pengikisan keluhuran nilai-nilai dan unsur-unsur kebudayaan masyarakat nusantara. Masyarakat nusantara menjadi orang-orang yang nihil identitas.

Meski demikian, Lombard juga menyajikan fakta bahwa usaha pembaratan yang dilakukan bukanlah tanpa perlawanan. Lombard menyatakan bahwa berbagai reaksi telah muncul atas usaha pembaratan. Diantaranya adalah sebagian masyarakat kolonialis yang enggan melakukan asimilasi dengan pribumi, sejumlah penganut Kristiani Belanda murtad dan sejumlah lainnya kawin campur sehingga muncul istilah Orang-Orang Indo. Di pihak lain, orang-orang nusantara yang terdidik juga melakukan perlawanan dengan jalan kesusateraan dan kesenian. Sedangkan, golongan masyarakat Nusantara yang ingin mengembalikan Nusantara pada budaya timur berkontribusi lewat pendidikan, nasionalisme dan jati diri kebangsaan.

Merefleksikan keberhasilan dan kegagalan usaha pembaratan sebagaimana diuraikan Lombard, maka pada era sekarang ini juga telah dan masih terjadi. Meskipun jika melihat sekup yang lebih kecil usaha tersebut berwujud dalam usaha “peng-arab-an” Indonesia. Usaha peng-arab-an adalah usaha yang dilakukan sebagian kelompok agama Islam di Indonesi yang mencoba melakukan “pemurnian” ajaran islam di Indonesia dengan berkiblat pada Timur Tengah.

Usaha peng-arab-an yang dilakukan adalah menjadikan budaya Arab sebagai icon masyarakat muslim di Indonesia. Usaha tersebut dapat berwujud dalam penggunaan simbol-simbol (pakaian, bahasa) budaya Timur Tengah untuk menggantikan simbol-simbol budaya Indonesai. Akan tetapi peristiwa usaha peng-arab-an mengalami kemandekan sebagaimana usaha pembaratan yang dilakukan orang Eropa.

Kendala tersebut tak lain juga datang dari berbagai kalangan yang mencoba mengawinkan budaya Indonesia dengan nilai-nilai Islam. Bentuk usaha untuk mengembalikan budaya Indonesia sebagai benteng dari usaha peng-arab-an sangat beragam. Misalnya, Abdurrohman Wahid atau Gus Dur yang membawa wacana “Pribumisasi Islam”, Nahdlatul Ulama (NU) dengan wacana “Islam Nusantara”, dll. Wacana-wacana tersebut yang disebarluaskan oleh kaum cendekiawan muslim Indonesia yang dapat dilihat sebagai salah satu usaha untuk mempertahankan budaya Indonesia.

 

*Notulensi Bedah Buku Silang Budaya (Batas-Batas Pembaratan) pada Diskusi Reboan Averroes