“Rasa Cinta yang terdalam adalah ketika aroma keringat perjuangan mengalahkan aroma minyak wangi berharga jutaan” (Rendra Kurniawan)

Menyambut tanggal 14 Februari (Valentine’s Day), kita tidak bisa lagi melawan gejolak muda dengan banner anti-valentine ataupun pentungan ala ormas–ormas yang mengatasnamakan Islam. Valentine di kalangan anak muda sudah menjadi budaya yang harus dilestarikan. Meskipun, dewasa ini beberapa anak muda juga ingin terlihat anti-mainstream dengan menjadi pegiat anti-valentine. Lebih jauh, banyaknya penolakan ini ternyata berbanding lurus dengan jomblo makrifat yang ada di Indonesia. Daripada repot–repot harus membahas pro – kontra Valentine, kiranya lebih baik untuk membahas mereka yang bisa merepresentasikan rasa kasih sayang dengan sebenar-benarnya.

Romansa Bandung Bondowoso

bandung bondowoso dan roro jonggrang via google
Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang via google

Kisah Bandung Bondowoso dimulai dengan putri cantik bernama Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso berasal dari Kerajaan Pengging yang terpesona dengan kemolekan putri dari Kerajaan Prambanan. Meski kisah ini termasuk ke dalam kategori cerita rakyat, namun suguhan drama romantis Bandung Bondowoso ini tak kalah menarik dibandungkan kisah Jack and Rose dalam Titanic. Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan kerajaan Prambanan dan sebagai hadiahnya dirinya berhak untuk memimpin kerajaan tersebut.

Pada hari–hari kepemimpinannya, ia tergoda dengan kecantikan Roro Jonggrang yang merupakan putri dari Raja Prambanan. Tanpa berfikir panjang, ia memberanikan diri untuk melamar Roro Jonggrang. Namun, Roro Jongrang menolak menikah dengan pembunuh ayahnya. Akhirnya, ia kemudian memberikan syarat pada Bandung Bondowoso untuk membangun seribu candi dan dua sumur dalam waktu semalam.

Mendapati syarat tersebut, Bandung Bondowoso sedikit tercengang. Namun, setelah ia mendengarkan penggalan lagu Agnes Monica, “Cinta ini, kadang-kadang tak ada logika” mendapat keyakinan akan cintanya, ia kemudian menyanggupi syarat tersebut. Dengan menggunakan kesaktiannya, Bandung Bondowoso memanggil bala bantuan gaib untuk membangun seribu candi permintaan Roro Jonggrang. Permintaan Roro Jongrang pun terpenuhi.

Hikayat diatas menarik disimak jika melihat bagaimana rasa cinta bisa mengalahkan semua halangan dan rintangan. Bahkan seribu candi bisa dibangun dalam waktu semalam. Meski pada akhirnya kisah ini berakhir tragis, namun usaha Bandung Bondowoso sangat luar biasa dalam mewujudkan cintanya. Bandingkan dengan anak muda sekarang ini yang hanya bermodal cokelat, sepik-sepik medsos, atau sekedar memanfaatkan ninja pinjaman orang tua.

Cewek zaman sekarang via google
Beda cewek zaman dahulu dan sekarang via google

Jokowi Cinta Rakyat, Rakyat Cinta Jokowi

Lebih jauh, rasa cinta dan kasih sayang bukan hanya berkutat antara dua individu anak manusia. Tapi, cinta dan kasih sayang juga dapat didefinisikan perjuangan seseorang untuk dicintai oleh orang di sekitarnya. Agaknya, fenomena tersebut dewasa ini benar-benar terjadi. Lihat saja bagaimana seorang Joko Widodo begitu digue-guekan dieluh-eluhkan oleh rakyat Indonesia. Meski tak sedikit pula yang nyinyir, Jonru misalnya.

Rasa cinta tersebut ternyata tidak hanya didapat dengan mudah. Jokowi membangun kecintaan rakyat kepadanya melalui berbagai macam proses. Mulai dari blusukan, pancaran senyuman, hingga membuat kebijakan yang pro wong cilik. Ia mendekati-mendatangi-menyalami masyarakat. Untuk apa? Untuk memupuk persahabatan. Karena cinta selalu timbul dari persahabatan.

Kita tentu masih ingat ketika Jokowi memenangkan hati dan kursi Walikota Solo untuk kedua kalinya dengan mendulang 90% suara saat Pilkada. Hal tersebut mengindikasikan bagaimana masyarakat dimabuk cinta kepada Jokowi. Masih kurang? Tengok televisi. Seringkali terlihat rakyat berebut untuk memeluk atau sekedar bersalaman dengan orang nomor satu ini. Atau juga mengambil bukti dari kegalauan yang dialami masyarakat Solo ketika ditinggal Jokowi memimpin ibukota.

Jokowi dicinta rakyat via google
Jokowi dicintai rakyat via google

Selain mendekati untuk mencintai,  Jokowi juga memupuk cinta dengan berendah hati. Ia tak pernah sekalipun membenci atau membalas semua kritikan yang ditujukan kepadanya. Hal ini terbukti dari sikapnya pada Rizal Ramli yang terlampau rajin mengkritik kebijakan Jokowi. Namun, Jokowi hanya membalas dengan, “kritik adalah wujud cinta yang terdalam.” Bahkan, hari ini Jokowi menjadikan Rizal Ramli ke dalam squad pemerintahan yang dia pimpin.

Kita memang tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. Tapi, kita bisa memperjuangkan siapa yang kita cinta.

Penggalan kata bijak diatas seolah dipahami betul oleh Jokowi. Lewat program kebijakan yang diambilnya, ia ingin memperjuangkan kecintaan dan kesejahteraan rakyatnya. Selayaknya Bandung Bondowoso yang bersedia membangun seribu candi. Pembangunan yang dilakukan Jokowi sudah banyak. Mau tau? Pertama, pembangunan 13 bendungan besar yang sedang dalam proses pengerjaan untuk pengairan sawah. Kedua, pembangunan Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang. Ketiga, pembangunan jalan tol di berbagai tempat sebagai implementasi visi Nawacita.

Sebenarnya, masih banyak hal yang telah dilakukan Pemerintahan Jokowi. Meski begitu, semua yang sudah dilakukan Jokowi masih jauh dari kata sempurna. Tapi, bukankah kesempurnaan cinta didapat dari ketidaksempurnaan yang saling melengkapi? Atau, bukankah kebahagiaan tak pernah terwujudkan ketika salah satu pihak memilih berpangku tangan?