Masih terngiang di telinga kita fenomena kebakaran lahan yang selama beberapa bulan isunya menghiasi layar televisi dan jagat per-meme-an Indonesia. Kebakaran lahan seakan – akan menjadi isu tahunan yang selalu menghampiri negeri ini di kala kemarau berkepanjangan. Disini kita tidak akan membahas soal keadilan hakim yang beberapa kali dibuat meme oleh netizen, lebih dari itu kita akan membahas aksi presiden Jokowi dalam menangani asap dan kebakaran lahan di Indonesia.

Kebakaran lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan ternyata menjadi problematika tersendiri di negeri ini. Rinciannya lahan yang terbakar dari 1,7 juta lahan adalah Pulau Kalimantan 770.000 hektare yang 35,9% diantaranya merupakan lahan gambut. Pulau Sumatra 593.000 hektare dimana 45,9% merupakan lahan gambut dan 221.704 hektare area yang terbakar berada di wilayah Sumatra Selatan. Bahkan Jokowi harus turun langsung ke lokasi kebakaran dan sempat menggelar rapat terbatas. Fenomena ini jarang kita temui jika kita menengok ke belakang, tidak ada satu orang presiden pun yang mau untuk turun langsung ditengah kepulan asap dan bara api. Tapi lain lubuk, lain belalang, tak dinyana Jokowi dengan baju putihnya turun langsung menyiram titik–titik kebakaran dan sempat membantu regu penanggulangan kebakaran. Bahkan saat masuk ke tengah bara api, Jokowi tanpa didampingi ajudan dan juga pengamanan melihat langsung puing–puing kayu yang telah menjadi arang.

Jokowi di tengah kepulan asap via google
Jokowi di tengah kepulan asap via google

Beberapa orang pasti menganggap hal ini sebagai pencitraan atau sekedar blusukan di lahan yang terbakar. Akan tetapi, coba kita berfikir ke belakang, apakah selama ini ada pimpinan negara yang mau turun langsung tanpa pengawalan dan hanya menggunakan masker untuk melihat ranting–ranting yang terbakar. Selain menyiram di beberapa titik kebakaran, berikut ini adalah langkah–langkah Jokowi yang luar biasa untuk menangani kebakaran.

Water Bombing

water bombing via merdeka.com
Water bombing via merdeka.com

Water Bombing merupakan langkah pemadaman api dengan menggunakan pesawat. Lazimnya water bombing dilakukan ketika terjadi kebakaran yang sifatnya luas, seperti halnya kebakaran hutan maupun lahan (perbedaan lahan dan hutan bisa ditanyakan ke MasBen). Langkah ini dilakukan dengan menyiramkan air yang ada pada pesawat ke beberapa titik – titik kebakaran. Akan tetapi dalam kasus kebakaran lahan di Sumatera, Luhut Binsar Panjaitan yang ditunjuk sebagai ketua tim penanggulangan asap menilai kurang efektif karena kebakaran bukan hanya terjadi pada permukaan tanah, melainkan kebakaran juga terjadi dari dalam tanah.

Modifikasi Cuaca dengan Hujan Buatan

hujan buatan via google
Hujan buatan via google

Hujan buatan seringkali kita temui ketika terjadi kemarau berkepanjangan seperti halnya kemarin, langkah – langkah dalam membuat hujan buatan tidak semudah Sun Go Kong yang tinggal mendatangi Dewa Hujan untuk menurunkan hujan ke bumi. Akan tetapi hujan buatan dibuat dengan optimalisasi daerah – daerah yang memiliki awan hujan. Selanjutnya awan yang berpotensi hujan akan disemai dengan cairan kimia menggunakan pesawat terbang, sehingga hujan buatan dapat terjadi. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai proses pembuatan hujan buatan bisa ditanyakan pada ahlinya. Akan tetapi melalui proses pembuatan hujan buatan tersebut pemerintah berhasil mengurangi titik–titik kebakaran hutan seperti halnya di Jambi dan Sumatera Selatan.

Canal Blocking

canal blocking via google
Canal blocking via google

Canal Blocking merupakan proses pembuatan saluran air atau yang lazim disebut dengan embung di beberapa titik untuk mengurangi kebakaran sehingga tidak meluas ke area yang lain. Hal ini dilakukan karena ternyata penyebab kebakaran yang tak kunjung usai adalah titik kebakaran yang semakin meluas. Pemerintah membuat canal blocking di beberapa tempat seperti halnya di Jambi dan Palangkaraya. Selain itu peran berbagai macam relawan dan TNI juga dikerahkan untuk pemadaman api melalui penyiraman di titik–titik kebakaran.

Melalui beberapa langkah inilah Jokowi berhasil mengurangi titik–titik kebakaran yang melanda Sumatera dan Kalimantan. Beberapa langkah preventif juga telah dilakukan untuk meminimalisir kebakaran lahan di kemudian hari, salah satunya dengan menolak izin pembukaan lahan gambut dan mengoreksi ulang perihal surat izin pembukaan lahan gambut yang telah disetujui. Hal ini menjadi isu yang menarik mengingat gambut memiliki problematika tersendiri di negeri ini. Akan tetapi kita tidak akan membahas jauh masalah gambut dalam tulisan kali ini. Semoga pembaca bisa sabar menunggu, karena editor sedang menjalankan tugas suci di Ngawi.

Kembali pada permasalahan kebakaran dan peranan Jokowi dalam mengatasi kebakaran lahan, sebenarnya bangsa kita membutuhkan karakter pemimpin yang memberikan contoh bukan hanya memberikan perintah. Oleh karena itulah Jokowi rela untuk masuk ke tengah kepulan asap dan goyangan si Jago Merah. Bukan hanya ingin diliput media elektronik maupun sosial, karena sudah pasti di era saat ini semua media akan meliput setiap langkah yang dilakukan presiden. Mengapresiasi turunnya Jokowi langsung ke lokasi kebakaran dan sempat membantu tim penanggulangan kebakaran lahan lebih penting daripada nyinyir soal Jokowi yang cuma pencitraan atau perihal settingan media.