Judul: Seven Theories of Religion: Dari Animisme E.B. Tylor, Materialisme Karl Marx Hingga Antropologi Budaya C. Geertz
Penulis: Daniel L. Pals
Penerbit: Qalam Yogyakarta
Tahun: 2001
ISBN: 9799440073

Membincang masalah agama selalu menarik diikuti baik pada dataran profan maupun transenden atau juga pada tingkat praktik maupun diskursus. Agama merupakan simbol yang diakui secara universal dan menjadi sebentuk manifestasi kehidupan. Bahkan agama sudah menjadi bagian integral dari kebudayaan dan peradaban manusia sepanjang massa.

Perspektif Atheis dan Theis

Seringkali pada saat yang sama, perbincangan tentang agama selalu dilekati dengan ragam pertanyaan yang bernada meragukan eksistensinya. Bagaimana sisi historis kemunculan agama? Mengapa harus muncul? Dalam gejolak emosional atau rasional? Mengapa agama yang bercita-cita ‘damai’, terkadang justru menciptakan gejolak massif yang membawa korban?

Seven Theories of Religion dikerjakan bagus oleh Daniel L. Pas, dan berusaha membahasnya dengan meminjam tujuh (7) paradigma atau sejenis cara pandang, yang telah dikenal luas.

1. E.B. Tylor (1832-1917)

Bagi E.B. Tylor (1832-1917), bapak teori animisme dan penulis buku masyhur Primitive Culture dan James George Frazer (1854-1941), si pemalu yang menulis buku The Golden Bough yang bercerita tentang adat dan kepercayaan primitif, agama dipotret dari kacamata animisme dan ‘magi’. Pandangan dari sang guru (Tylor) dan murid (Frazer) dalam perspektif Daniel L. Pals diposisikan untuk membantu kita memahami dari sisi mulanya, dengan mengapresiasi bentuk-bentuk kepercayaan agama yang bersifat asketis.

Meski E.B. Taylor dikenal bukan sebagai seorang yang mendalami masalah-masalah agama, tapi tentang kultur manusia (hlm. 28), namun hal itu dianggap bisa menjadi jembatan bagi pemahaman tentang historisitas bagaimana agama dihadirkan. Baginya, esensi agama, sama halnya dengan mitologi, adalah animisme (bahasa Latin, anima berarti roh) kepercayaan pribadi pada kekuatan di balik benda-benda (hlm. 41). Animisme bahkan bisa ditemukan dalam seluruh sejarah kehidupan manusia. Sedangkan Frazer sendiri hanya berusaha meneruskan metode berpikir yang diperkenalkan gurunya tersebut (hlm. 51), meski dengan sentuhan lain.

Esensi agama, sama halnya dengan mitologi, adalah animisme

2. Sigmund Freud

Lain lagi bagi Sigmund Freud, seorang psikolog dari Wina. Sampai sekarang, saat orang mendengar nama Freud, mereka akan mengaitkannya dengan terapi psikologis dan sex (hlm. 91). Hal itu boleh jadi benar, meski tidak seluruhnya.

Freud memang seorang pemikir yang heboh. Ungkapannya yang paling terkenal adalah agama akan menjadi penyakit syaraf yang mengganggu pikiran manusia secara universal. Bagi seorang yang taat dan beriman, tentu pernyataan ini sangat mengganggu.

Agama akan menjadi penyakit syaraf yang mengganggu pikiran manusia secara universal

Teori-teori Freud sangat luas dikenal masyarakat, misalnya tentang “Psikoanalisis dan Bawah Sadar” (hlm. 97). Berangkat dari agama Yahudi yang ia pelajari semasa kecil ia memperoleh banyak pengetahuan agama dan menganggapnya sebagai sebuah studi yang menjanjikan (hlm. 110). Sikap Freud sendiri sepenuhnya menolak agama. Bahkan seorang penulis biografi yang dekat dengannya mengatakan “selama hidup sejak awal hingga akhir, Freud adalah seorang atheis natural.”

Selama hidup sejak awal hingga akhir, Freud adalah seorang atheis natural.

3. Emile Durkheim

Kedua pemikir di atas secara signifikan cukup berbeda dengan yang selanjutnya, Emile Durkheim. Kita mengenal Durkheim akrab dengan kajian kemasyarakatan. Namun ia juga terlibat aktif mengkonstruksi pemikiran-pemikiran keagamaan. Bisa disimpulkan bahwa agama bagi Durkheim adalah murni bersifat sosial (hlm. 188). Ia mengatakan bahwa di semua perbendaharaan sosial kita, agama adalah sosok yang paling berharga.

Agama adalah sosok yang paling berharga

4. Karl Marx

Tibalah kita pada Karl Marx, sosok yang menjadi perbincangan di negeri kita akhir-akhir ini. Bisa jadi sebab-sebab mengapa Marx ‘dibenci’ oleh para pemeluk agama adalah karena ungkapannya yang menyebut bahwa agama adalah candu yang melelapkan tidur panjang manusia.

Cukup kontroversial lagi saat Marx mengatakan bahwa agama adalah ilusi dengan konsekuensi yang amat jahat bagi manusia (hlm. 232). Hal itu ditunjukkan saat ia membuat kegemparan dengan menulis buku yang menyerang agama ortodoks yang berjudul The Essence of Christianity.

Agama adalah candu yang melelapkan tidur panjang manusia.

5. Mircea Eliade

Mircea Eliade, seorang Profesor di Universitas Chicago yang lahir di Bucarest 9 Maret 1907. Bagi Eliade, agama harus dijelaskan menurut istilahnya sendiri-sendiri. Berbeda dengan pemikir sebelumnya, ia menghindari reduksionisme terhadap agama. Ia mendukung pendekatan agama yang lebih bersifat humanistik. Karya-nya yang cukup singkat namun bisa digunakan untuk menjelaskan konsep-konsepnya mengenai agama, adalah The Sacred and The Profane (1957) (hlm. 274).

6. Edward Evans-Pritchard (1973)

Sementara pada pemikir yang lain, Edward Evans-Pritchard (1973). Daniel L. Pals mengatakan andaikata ia masih hidup dan mengetahui namanya disandingkan dengan pemikir-pemikir besar di atas, tentu ia akan terkejut. E.E. Pritchard sendiri tidak mengusulkan teori-teorinya dimasukkan ke dalam pembahasan mengenai agama, bahkan ia sendiri mengumumkan diri sebagai “antiteori” agama.

Hal ini bisa dilihat dalam bukunya yang paling terkenal, Theories of Primitive Religion (1965) (hlm. 336). Namun justru berangkat dari itu, Pritchard dikenal sebagai sosok peneliti profesional yang dalam salah satu penelitiannya mengenai agama. Ia berhasil membongkar skema-skema dan konstruksi tentang teori agama yang dibangun oleh tokoh sebelumnya.

7. Clifford Gertz

Terakhir, penulis mengajukan Clifford Gertz, sosok antropolog budaya yang pernah tenar dengan hasil penelitiannya di Kediri Jawa Timur, The Religion of Java (1960). Agama bagi Gertz bisa didekati dengan faktor kebudayaan masyarakat. Agama bagi Gertz adalah: Sistem simbol yang berperan dalam membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, persuasif dan tahan lama di dalam diri manusia dengan cara; Merumuskan konsepsi tatanan kehidupan yang umum; Membungkus konsepsi-konsepsi ini dengan aura faktualitas semacam itu sehingga suasana hati dan motivasi tampak realistik secara unik (Religion as Cultural System; 90) (hlm. 414).

Secara umum pengkajian pemikiran tokoh yang dimaksud Pals cukup merepresentasikan pemahaman kita tentang agama dewasa ini. Meski penerjemahan yang dilakukan kurang sempurna, namun setidaknya buku ini memiliki arti penting bagi pengembangan wacana kita tentang agama.

1 COMMENT