(Review Film PK, Sutradara Rajkumar Hirani)

Ia datang ke bumi untuk melakukan sebuah penelitian. Seperti halnya manusia yang meneliti planet lainnya, ia datang karena mengetahui keberadaan bumi dan seisinya. Terutama karena manusia, mahluk asing (bagi mereka) yang tinggal di luar planetnya.

Di tempat asalnya, tak ada bahasa, tak ada pakaian dan tak ada kebohongan. Semua mahluk berkomunikasi lewat pikiran, semua mahluk telanjang baik telanjang secara fisik maupun secara pikiran, mereka tak mengenal konsep kebohongan. Ia tak punya nama, karena sikapnya yang aneh dan selalu bertanya-tanya tentang fenomena di dunia, orang kemudian menyebutnya “Peekay” atau PK yang berarti manusia mabuk.

Berawal dari peristiwa dicurinya remote control yang berfungsi mengirimkan signal untuk memanggil pesawatnya, ia terpaksa menjelajahi kota. Ia melaporkan kehilangan barangnya kepada polisi dan hanya mendapat jawaban “Polisi itu manusia, bukan Tuhan”. Semua orang yang ia tanya juga menjawab “serahkan urusanmu pada Tuhan”.

Dari jawaban banyak orang tentang remote controlnya, ia kemudian mengkonsepsikan tuhan secara berbeda. Beranggapan bahwa setelah menaruh sesaji dan beberapa uangnya di Kuil, Tuhan secara otomatis akan membantunya menemukan remote control-nya. Tak puas dengan tuhan agama Hidu, ia berpindah ke Gereja, membawa beberapa lembar uang  dan sesaji air kelapa. Alhasil ia diusir dari Gereja. Sebelumnya ia melihat pendeta mengangkat segelas whine, dalam benaknya yang polos ia berpikir bahwa Tuhan sudah bosan dengan air kelapa. Perjalananya berlanjut ke masjid dengan membawa persembahan whine. Tak pelak, ia pun dikejar umat Islam karena dianggap menghina Tuhan. Perjalananya mencari tuhan semakin membuatnya bingung dan memunculkan pertanyaan “mengapa di bumi ada banyak tuhan, masing-masing punya tempat dan aturan yang berbeda”. Cerita  pun berlanjut hingga ia menyembah semua Tuhan dengan harapan bahwa salah satunya ada yang benar.

Jaggu, Sesosok wartawan cantik yang tertarik dengan crita dan pertanyaan-pertanyaan PK mencoba meyakinkan bosnya untuk mempertemukan PK dengan Tapaswi, seorang pemuka agama Hindu dengan harapan Tapaswi bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan PK tentang Tuhan, bukan mengkonfrontasikan keduanya.

Film ini juga dilengkapi dengan haru-biru cerita cinta. Saat menunggu waktu pertemuan degan Tapaswi, terjadi guncangan berat dalam jiwa PK dan Jaggu. Diam-diam PK jatuh cinta kepada Jaggu. Karena PK pula, Jaggu kembali mengingat kegagalan cintanya dengan Sarfaraz, seorang pemuda Pakistan yang ia temui di Belgia bertahun-tahun sebelumnya. Di saat yang bersamaan PK juga kehilangan Dheru Singh teman pertamanya di Bumi.

Film dan Kritik Sosial

Melalui film ini, Rajkumar Hirani Films memperoleh pendapatan US$ 85 juta atau sekitar Rp 1,07 triliun, pendapatan tertinggi dalam sejarah perfilman India. Karena film ini pula, Amir Khan, pemeran PK beserta sang sutradara sempat dilaporkan ke polisi.

Terang saja film ini mengundang kontroversi, film ini mengusik sisi kehidupan yang paling sensitif, soal agama. Konsep agama dan ketuhanan dikritik degan gaya komedi satir. Jika tak melihat film ini hingga akhir, anda pun akan menganggap bahwa film ini berisi penistaan agama.

Harus diakui bahwa dalam beberapa scene film ini terkesan menertawakan agama. Misalnya PK mengatakan bahwa ia menemui tuhan di WC, dan pertanyaan: “jika tuhan mendengarkan keluh kesah manusia secara langsung, lalu apa pentingnya patung tuhan?”.

Sejatinya bukan hanya soal agama, film ini juga mengkritik fakta-fakta sosial. Misalnya soal pencurian sandal di tempat peribadatan, ritual atas nama tuhan terlalu menghamburkan uang padahal kemiskinan masih belum teratasi dan korupsi aparatur negara.

Melalui scene tentang turunnya jumlah pendapatan Tapaswi, Rajkumar Hirani berusaha mmberikan pesan bahwa ketika seseorang menjadi pemuka agama, janganlah mengatasnamakan tuhan untuk memperoleh keuntungan. Seringkali seorang tokoh agama menyalahgunakan ketokohannya untuk “membohongi” umat.

Manusia memang seringkali masih berfikir “kausal” dan itung-itungan. “Jika aku memberi maka aku akan menerima”, “kupersembahkan ini pada tuhan maka aku dapatkan yang kuinginkan”. Pola pikir semacam ini akhirnya justru mempersulit diri sendiri dan mengesankan bahwa tuhan adalah sosok yang membutuhkan persembahan. Sedikitpun Tuhan tak membutuhkan persembahan maupun peribadatan manusia. Tuhan berhak berkehendak, setiap pertolongan dariNya bukan atas besaran persembahan manusia tapi karena keikhlasan manusia dan karena kehendakNya.

Film ini juga mengilustrasikan hubungan manusia dengan tuhannya ibarat anak dengan ayahnya. Ayah tak akan meminta syarat apapun ketika hendak memberikan sesuatu kepada anaknya. Seperti seorang pria memberikan boneka kepada kekasihnya atas dasar sayang dan cinta tak mengharap keuntungan harta benda. Pola pikir “kausal” dan itung-itungan akan menyeret manusia pada keadaan tanpa rasa sayang dan keikhlasan. Sama seperti lagu ciptaan Steven Simons yang kemudian disadur oleh Ahmad Dhani dan Chrisye: “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masih kah kau bersujud kepadaNya”.

Bagian akhir film ini berusaha menyadarkan bahwa manusia adalah sosok kecil yang seringkali merasa besar. Ungkapan Tapaswi mengenai pembelaan dirinya terhadap tuhannya segera terpatahkan oleh argumen PK bahwa manusia hanya mahluk kecil yang menghuni bagian yang sangat kecil dari alam semesta yang diciptakan tuhan. bagaimana mungkin manusia yang sangat kecil ini dapat membela tuhannya. Bukankah hal ini sama seperti yang diungkapkan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur): “Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.”