aliran-sesat2 KASUS aliran “sesat” mencuat lagi di Kabupaten Malang, setelah beberapa kasus juga terjadi di wilayah ini; kasus Kiai Ali Toha (2004), Yusman Roy (2005), dan Al Qiyadah Al Islamiyah (2007). Kali ini Jama’ah Syafaatus Sholawat yang berada di Dusun Bendo RT 25 Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung (10 Km ke arah timur Kota Malang) menjadi sasaran amuk massa karena ajarannya dianggap sesat, berbeda dari ajaran kebanyakan. Berikut laporan dari liputan Redaksi avepress.com

Tepatnya pada Kamis 26 Desember 2007 kompleks pusat kegiatan Jamaah Syafaatus Sholawat, yang terpisah dari pemukiman penduduk diserang massa yang nota bene adalah penduduk sekitar. Kaca jendela dan pintu hancur berantakan, serta beberapa perabot dibakar oleh massa. Kompleks pusat jamaah ini terdiri dari satu bangunan utama dan tiga bangunan kecil dibelakangnya. Bangunan utama, sebenarnya mirip dua rumah ukuran 36 dijadikan satu yang disekat dinding. Tiap-tiap bagian terdiri dari satu kamar dan aula yang digunakan sebagi tempat pengajian.

Tiga bangunan kecil di belakang bangunan utama, difungsikan untuk dapur, kamar mandi dan ruang makan yang bentuknya mirip musholla. Haji Ali Masyhar, Kepala Desa setempat membantah bahwa di antara tiga bangunan yang berantakan itu adalah musholla, “Itu bukan musholla mas, namun hanya bangunan yang menyerupai musholla. Warga tidak akan berani merusak musholla” tegasnya. Keterangan ini diperkuat oleh Nur Hambali, “Bangunan yang menyerupai musholla itu sebenarnya digunakan untuk tempat makan koq mas, bukan tempat shalat”, paparnya

Ya, pondok pesantren yang sering disebut sebagai Pedepokan Syafaatus Shalawat itu sekarang hanya tinggal puing-puing dengan police line yang menghiasi sekelilingnya, tanpa ada yang menempati. Karena sampai saat ini penjaga dan keluarganya yang menempati bangunan itu mengungsi ke rumah mertuanya di desa sebelah., yaitu Desa Sidorejo – termasuk dalam Kecamatan Jabung juga.

Sekilas Syafaatus Sholawat

Persisnya kapan ajaran Syafaatus Sholawat  bermula, sampai saat tulisan ini dibuat belum diketahui secara pasti. Adalah seorang ustadz muda bernama Abi Yatim (47) yang memulai mengajak warga sekitar Singosari berkumpul membaca sholawat. “Persisnya kapan Shafaatus Sholawat ada, saya sendiri tidak tahu mas. Namun saya dulu mulai belajar sama Abi sekitar tahun 2000”, ungkap Nur Hambali.

aliran-sesat21Pada tahun 2001-2002, dari hasil urunan jamaah akhirnya Syafaatus Sholawat bisa membeli tanah di Majalengka, yang kemudian dibangun pesantren, atau lebih dikenal dengan padepokan yang menjadi pusat Syafaatus Sholawat.

Penamaan padepokan atas bangunan Jamaah Syafaatus Sholawat Jabung dikemudian hari mendapat klarifaikasi dari Nur Hambali, “penamaan padepokan atau pesantren itu kan hanya masalah terminologi saja, pada intinya kan sama saja. Namun untuk daerah Malang, ya kita sesuaikan dengan kebiasaan Malang. Majalengka mungkin cocok dengan nama padepokan, sedang Malang cocoknya memakai pesantren. Pesantren Syafaatus Sholawat, kalau pake’ nama padepokan nanti asumsinya negatif”, imbuhnya.

Sosok Abi Yatim memang kurang begitu dikenal oleh masyarakat Singosari. Menurut penuturan Nur Hambali, Abi Yatim yang asli Palembang mempunyai isteri di Desa Langlang, Singosari. Dari pernikahan ini beliau dikarunia anak yang berumur 3 tahun. Meski mempunyai isteri dan rumah di Singosari, namun dalam kesehariannya Abi Yatim jarang berada di rumah. Beliau lebih banyak berkeliling dari satu daerah ke daerah lain menemui jamaahnya. Dan sejauh ini Jamaah Syafaatus Sholawat sudah tersebar di empat daerah, yaitu di Malang, Sidoarjo, Blitar dan Majalengka.

Nur Hambali adalah orang yang dipercaya oleh Abi Yatim untuk mengurusi Jamaah Syafaatus Sholawat yang berada di Malang dan sekitarnya. Sosok jejaka berumur 27 tahun ini tak mau menyebutkan dirinya adalah pimpinan Jamaah Syafaatus Sholawat Wilayah Malang, “kebetulan saya lebih dahulu belajar sama Abi, makanya saya diberi tugas untuk merawat jamaah. Saya bukan pimpinan, karena tidak ada struktur seperti itu dalam Syafaatus Sholawat” kilah pria jebolan STM Negeri I Singosari ini yang dalam kesehariannya bekerja sebagai pembuat kaligrafi dan desain advertaising.

Pria yang pernah “mondok” di Pesantren Nurul Huda Singosari asuhan KH. Manan (Alm) ini juga mengungkapkan, awalnya Jamaah Syafaatus Sholawat hanya diikuti 10 sampai 15 orang, namun lama-lama semakin banyak. Keberadaan jamaah ini mendapat momentum dengan lahirnya partai baru di kalangan Nahdliyin. Banyak pemuda yang menjadi partisan partai  ingin ikut belajar silat pada Abi Yatim. Sambil lalu, pemuda-pemuda ini juga diajak membaca sholawat berjamaah. Namun dalam keberlanjutannya, porsi untuk belajar silat dihilangkan.Berawal dari kegiatan itulah, terbentuklah Syafaatus Sholawat.

Sampai sekarang untuk daerah Malang Jamaah Syafaatus Sholawat sekitar 30-an orang. Ditambah jamaah di Sidoarjo dan Blitar jumlahnya 100 orang lebih. Sedang untuk seluruh Indonesia Nur Hambali tidak tahu pasti jumlahnya.

Nur Hambali sendiri merasa heran kenapa akhir-akhir ini ada orang-orang yang merasa tidak enak dan memusuhi Syafaatus Sholawat. “Kita tidak mejalankan ajaran sesat, rukun iman rukun shalatpun sama dengan lainnya. Syahadat yang kita baca juga sama. Saya juga tetap mengikuti tahlilan. Ya mungkin masalah ini bermula karena iri atau salah paham saja”, ungkapnya.”Kalau ditinjau dari kitab yang digunakan, sampai saat ini MUI menyatakan tak ada yang bermasalah. Lha wong kitab yang kita pakai itu sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Cuma, kitab yang kami pakai itu adalah hasil ramuan dari berbagai kitab kuning yang berbeda.Memang ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hal ini kami lakukan dengan tujuan untuk mempermudah jamaah yang awam supaya lebih cepat mengerti, lain itu tidak”, Nur Hambali menambahkan.

Sejalan dengan keterangan Nur Hambali. Andry Dewanto Ahmad (tokoh masyarakat Singosari), mengungkapkan bahwa ajaran Syafaatus Sholawat tidak ada yang sesat, shalat dan puasa sama seperti kebanyakan muslim lainnya. Kelompok ini hanyalah kelompok jamaah sholawat biasa yang kebanyakan pengikutnya adalah anak-anak muda. Dalam kesimpulannya, ia memandang ada semacam problem eksistensi sehingga beberapa jamaah tidak disukai oleh warga sekitar dan para kiai. Dan lagi, yang menjadi catatan negatif warga sekitar, kegiatan sholawatan muda-mudi ini dilakukan sampai larut malam. Hal ini menjadi akar kekesalan warga terhadap Syafaatus Sholawat.

Keberatan masyarakat terhadap kegiatan sholawat yang dilakukan muda-mudi hingga larut malam, menurut Nur Hambali bukan serta merta menjadi justifikasi bahwa jamaah ini liar atau bahkan sesat. Karena perlu diketahui bahwa setiap wanita yang ikut kegiatan sholawat wajib didampingi muhrimnya. Kalau soal kenapa pelaksanaannya sampai malam, Nur Hambali menuturkan,”jamaah kita kalau sore atau siang kan harus mencari penghidupan. Makanya kegiatan kita bisanya ya dilakukan malam hari, biasanya mulai dari jam 21.00-23.00 WIB. Kecuali kalau sedang puasa, kami biasanya makan sahur bersama di sini (rumah Nur Hambali-red). Namun untuk menanggapi keberatan warga sekitar, kami sekarang selesai sampai jam 22.00 WIB. Setelah itu biasanya teman-teman yang tidak pulang, memang ngobrol dan begadang sampai malam”, tuturnya.

Sedangkan terkait dengan isu berpindahnya pusat kegiatan dari Singosari ke Desa Jambangan dan kemudian ke Jabung karena akibat desakan warga sekitar Singosari yang tidak suka dengan keberadaan Syafaatus Sholawat, Nur Hambali membantahnya, “tidak benar bahwa kami berpindah-pindah karena akibat desakan warga sekitar. Dari dulu kegiatan yang kami lakukan memang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, ini dilakukan untuk mengakrabkan jamaah. Tempat yang di Jambangan dan Jabung itu memang cabang Syafaatus Sholawat, seperti halnya Singosari”, terangnya. “Untuk diketahui, jamaah yang di Desa Jambangan Kecamatan Pakis, kebanyakan adalah anggota TNI AU. Coba kalau ada warga yang berani mendesak untuk pindah?”, tambahnya.

Aksi Massa Atas Syafaatus Sholawat di Desa Sukolilo-Jabung

Sudah sejak awal keberadaan Jamaah Syafaatus Sholawat di Desa Sukolilo-Jabung menjadi pembicaraan warga. Sebagian warga ada yang tertarik untuk ikut, dan sebagian banyak tidak. Miftahul Huda, Zaenal, Wasi’an dan Kholid merupakan diantara yang tertarik untuk mengikuti kegiatan Jamaah Syafaatus Sholawat.

Titik balik Miftahul Huda bermula dari pernikahannya dengan gadis dari Desa Sidorejo, Jabung. Terutama dalam hal spiritulitas. Karena ketertarikannya terhadap ajaran Syafaatus Shalawat yang dianut ayah mertuanya, maka sejak tahun 2002 Huda -begitu ia biasadi panggil- mulai mengikuti aktivitas jama’ah ini.

Dalam perkembangannya, tahun 2006 Huda menghibahkan tanahnya untuk Syafaatus Sholawat, namun akad hibah ini belum tercatat secara resmi. Namun tindakan Huda tersebut kurang mendapat respon positif dari keluarga dekatnya. Nur Hambali mengungkapkan suatu kali ia pernah mendengar keluarga dekat Huda menyayangkan kalau tanah warisan keluarga itu dihibahkan kepada Syafaatus Sholawat, bahkan terkesan menghalang-halangi. “Memang sejak awalnya muncul masalah seperti itu, sudah ada yang menghalangi, ya masih keluarga dekat Cak Huda”, tutur Nur Hambali. “Saya sampai miris mendengarnya, masak keluarga dekat Cak Huda bilang keluarga Cak Huda itu kekurangan, anak banyak, tanah warisan koq malah dihibahkan”, tambahnya.

Meskipun demikian rencana pembangunan pesantren di tanah tersebut tetap berlanjut. Berbekal dana swadaya yang dihimpun dari jamaah, pada pertengahan 2006 pembangunan Pesantren Syafaatus Sholawat dimulai. “Pembangunan pesantren ini murni swadaya jamaah, kami tidak meminta bantuan keluar”, Nur Hambali mengungkapkan.

Semenjak itu kasuk-kusuk seputar aktivitas jama’ah Syafaatus Sholawat mulai berhembus. Sikap tertutup dan menyendiri mengundang kecurigaan warga sekitarnya. Gesekan-gesekan pandangan yang berbedapun mulai kerap terjadi antara jamaah dan warga. Yang lebih membuat warga berang, sikap jamaah yang tidak mau menghormati tokoh agama dan perbedaan pandangan mengenai larangan melakukan ziarah kubur serta selamatan bagi orang yang meninggal.

Namun dalam klarifikasinya Nur Hambali menolak tuduhan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa tidak benar Syafaatus Sholawat melakukan pelecehan terhadap ulama dan melarang jamaahnya untuk ziarah kubur dan melakukan selamatan bagi orang meninggal.

Melihat gejolak di masyarakat tersebut, pada bulan Oktober 2006 Ustadz Sholihan – seorang tokoh agama setempat yang juga Imam Mushola di RT 25- berinisiatif mengajak musyawarah Jamaah Syafaatus Sholawat. Dalam musyawarah tersebut pada intinya warga tidak mengizinkan Huda cs untuk melanjutkan aktifitasnya. Kecuali sudah mendapatkan izin dari desa.

Namun, keinginan warga tak diindahkan oleh Jamaah Syafaatus Sholawat, mereka masih tetap menjalankan aktivitasnya. Akhirnya permasalahan ini diadukan ke pemerintahan desa. Maka pada bulan Januari 2007 diadakanlah pertemuan antara Huda cs dengan pihak warga di balai desa. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa untuk sementara aktifitas Jamaah Syafaatus Sholawat dihentikan sampai ada izin dari RT, RW, dan desa.

Bukannya berhenti melakukan aktivitasnya, Jamaah Syafaatus Sholawat malah makin gencar melakukan syi’arnya. Bahkan Huda dengan dibantu oleh beberapa jamaah lain mulai membangun kompleks pesantren sehingga tampak lebih layak.

Hal ini membuat warga Dusun Bendo semakin geram terhadap sepak terjang Syafaatus Sholawat. Seperti yang dituturkan Ketua RT setempat, “selain keberadaan Syafaatus Sholawat yang tanpa izin, perkataan dari Jamaah Syafaatus Sholawat menyinggung perasaan warga kami,” tuturnya.  “Jelas saja kami tersinggung, masak kami dianggap men-Tuhankan kiai, selain itu mereka juga merendahkan nilai kekhusyukan shalat kami” tambahnya.

Selain itu, keberadaan Syafaatus Sholawat juga telah menyulut konflik keluarga salah pengikutnya.  Ainul Yaqin, warga RT 28 yang juga anggota DPRD dari dapil Jabung menuturkan, gara-gara istri Wasi’an tidak mau diajak ikut Syafaatus Sholawat, keluarga mereka hampir bercerai. Gosip pertengkaran keluarga ini berkembang di masyarakat dan menjadi black campaign tentang bahayanya ajaran Syafaatus Sholawat.

Bermula dari keresahan masyarakat yang menumpuk, kemudian tersiar kabar keberadaaan jamaah yang vis a vis dengan masyarakat nahdliyin. Pada kesimpulannya masyarakat menganggap ajaran Syafaatus Sholawat sesat. Karena itulah kemudian atas inisiatif dari Yahya Ubaid, Ketua MUI Kecamatan Jabung diadakanlah pertemuan di Kantor Kecamatan Jabung untuk mengklarifikasi apakah benar Syafaatus Sholawat menyimpang dari ajaran yang semestinya. Pertemuan tanggal 22 Nopember 2007 ini, dihadiri oleh seluruh jajaran Muspika Jabung, Ketua MUI Kab. Malang (Mahmud Zubaidi), Ketua MUI Jabung (Yahya Ubaid) dan sejumlah tokoh masayarakat. Dari pihak Syafaatus Sholawat diwakili oleh Nur Hambali (Singosari) dan M. Fatoni (Jombang).

Dalam pertemuan tersebut timbul perdebatan antara Pengurus Batsul Masail PC NU Kab. Malang (Munadi) dan Syafaatus Sholawat (M. Fatoni) mengenai pemaknaan shalat. Haji Ali Masyhar mengindikasikan pemaknaan Syafaatus Sholawat mengenai shalat seperti yang termaktub dalam kitab yang berjudul Beribadah Dengan Benar Berdasarkan Tuntunan  Al Quran Dan Hadist adalah menyimpang. “Masak Syafaatus Sholawat memaknai shalat subuh yang dua rokaat, sebagai hubungan antara hamba denga Allah, tiga rokaat dalam shalat Maghrib diartikan sebagai perjumpaan antara manusia, Muhammad SAW, dan Allah. Sedangkan empat rokaat dalam shalat Dzuhur, Asar, dan Isya’ dimaknai sebagai hubungan antara hamba, Allah, Rasul dan Malaikat. Namun ketika mereka ditanya dasarnya dari mana, semuanya tak bisa menjawab”, ungkapnya.

Pertemuan yang difasilitasi oleh MUI Jabung tersebut menghasilkan kesepakatan tentang dihentikannya aktivitas Syafaatus Sholawat di Jabung sampai ada kejelasan dari pihak terkait. Kesepakan ini ditandatangani di oleh Miftahul Huda, Nur Hambali dan Zainal Arifin atas meterai Rp 6000,00. Namun lagi-lagi kesepakatan itu dilanggar Syafaatus Sholawat, Huda cs tetap membandel dan aktivitas Jamaah Syafaatus Sholawat masih saja berjalan.

Atas usul masyarakat Dusun Bendo, Desa Sukolilo maka pada tanggal 27 Desember 2007 Yahya Ubaid memfasilitasi  pertemuan kedua di Kantor Kecamatan Jabung. Turut hadir dalam pertemuan tersebut AKP Agus Guntoro (Kapolsek Jabung), Suharno (Camat jabung), KH Mahmud Zubaidi, H.Ali Mashar (Kepala Desa Sukolilo),  Samsul Hadi (Ketua NU MWC) dan Ainul Yaqin, tokoh masyarakat setempat yang kebetulan menjadi anggota DPRD dari PKB dapil Jabung, serta beberapa tokoh masyarakat lainnya. Daalm acara ini juga dihadiri ratusan warga yang ingin mengikuti jalannya musyawarah.

Namun sebelum pertemuan kali kedua yang difasilitasi MUI Jabung tersebut membuahkan hasil, massa yang semula berencana mengikuti musyawarah di Kantor Kecamatan Jabung tersebut, berbalik lagi menuju Dusun Bendo dan menghancurkan Pesantren Syafaatus Sholawat. Aksi spontanitas warga ini merupakan puncak akumulasi kemarahan warga terhadap Syafaatus Sholawat. Karena sebelum kejadian perusakan itu, tepatnya tanggal 24 Deesember 2007, seperti dalam pengakuannya di depan polisi, Huda mengungkapkan bahwa warga Dusun Bendo memperingatkan dia untuk menghentikan aktivitas Syafaatus Sholawat. Namun peringatan itu tak diindahkan oleh pihak Huda cs. Bahkan Zainal, salah satu jamaah sempat berseloroh dengan nada menantang, “Hayo siapa yang berani mengusik padepokan itu?” Statemen inilah yang membuat warga semakin gregetan.

Mengetahui ada aksi massa di Dusun Bendo-Sukolilo, Kepala Desa Sukolilo dan Kapolsek beserta anak buahnya meluncur ke lokasi kejadian. Namun kondisi pesantren sudah tak terselamatkan lagi. Kaca dan pintu hancur, serta beberapa pearabot rumah telah terbakar. Polisi langsung mengamankan pengikut Syafaatus Sholawat, baik yang ada dilokasi kejadian maupun yang ikut dalam pertemuan. Dengan menggunakan empat kendaaan kepolisian yang terdiri atas satu mobil polsek Jabung, satu mobil polsek Pakis, dua mobil mobil Satreskrim, 18 pengikut Syafaatus Sholawat diamankan dan langsung diungsikan ke polres Kepanjen. Kedelapan belas orang itu adalah; Nur Hambali, Jl. Kebonagung, Kelurahan Losari, Singosari; Miftahul Huda, Sukolilo, Jabung; Mundir Ali, Sidorenggo Jabung; Moh. Tholib, Sukolilo, Jabung; Yahya Fahrudin, Tamanharjo, Singosari; Ahmad Fathoni, Sukolilo Jabung; Elok Musarifah, Kepung, Kediri; M Fathoni, Ceruk, Jogorogo Jombang; Imron Rosyadi, Jl. Suropati, Losari, Singosari; Asnapun, Blitar; Agus Awaluddin, Singosari; Nursarifah, Sukolilo, Jabung; Zainal Arifin, Singosari; Luthfi Zakaria, Singosari; Nurkholis, Singosari; Tono Wiguno, Tri Siraja, Kecamatan Trisik, Majalengka; Lasmi, Porong, Sidoarjo; Mulyono, Singosari.

Kepala Dusun Bendo, yang biasa di panggilPak Wo mengungkapkan, ratusan warga yang tak sabar menunggu hasil keputusan MUI secara sporadis melempari Pesantren Syafaatus Sholawat. Karena terbatasnya pengamanan desa, bangunan tersebut tak bisa diselamatkan lagi. Namun, “alhamdulliah adalah kejadian ini tak ada korban, karena sebelum perusakan dilakukan penghuni pesantren yang berjumlah sekitar 14-an orang oleh massa disuruh keluar dulu”, tuturnya.

Dari keterangan Pak Wo didapat status sesat atau tidak Syafaatus Sholawat masih belum jelas. Ditanya tentang kebenaran berita Syafaatus Sholawat yang menyimpang, Pak Wo menjawab dengan asal dan terkesan kabur. “Kalau dibilang sesat menurut kabar memang ada indikasinya. Tapi kami masih menunggu hasil musyawarah yang dilakukan MUI. Keberadaan jamaah ini juga tidak jelas mas, lha wong ijin saja tidak. Kalau keberadaannya saja tidak jelas, kami takutnya generasi sini ikut-ikut”,  terangnya kemudian.

Sejak saat kerusuhan terjadi, kasus Syafaatus Sholawat ditangani oleh Polres Malang. Kasat Reskrim Polres Malang mengungkapkan, kasus ini tidak bisa serta merta dinilai sebagai kasus kriminal. Karena kasus ini menyangkut aspek perlindungan dan ketentramanan masyarakat. Lebih lanjut ia menerangkan bahwa Jamaah Syafaatus Sholawat yang dibawa ke Mapolres Malang di Kepanjen adalah semata-mata untuk pengamanan, dan bukan untuk penyidikan.

Dari penuturan Darto, salah seorang staf Polres Malang diketahui, duduk permasalahan sebenarnya adalah kesalahpahaman belaka. Ia menyimpulkan, apa yang diajarkan oleh kelompok ini tidak ada yang berbeda dengan ajaran pada umumnya. Mereka lebih menekankan pada aspek spiritualitas. Namun demikian, warga tersinggung karena jamaah yang kebanyakan masih muda tersebut jumawa dan sering membenturkan pendapatnya yang jelas-jelas tidak diterima masyarakat sekitanya. “Ini masalah salah paham saja, komunikasi yang kurang. Wajar anak muda yang baru belajar silat biasanya sok-sokan,” terangnya

Keesokan harinya (Jum’at, 28 desember 2007) seluruh Jamaah Syafaatus Sholawat sudah diperbolehkan pulang, namun jika ada yang masih membutuhkan perlindungan, dipersilahkan untuk tinggal di Mapolres Malang. Setelah dipersilahkan pulang, Miftahul Huda tak langsung menuju Dusun Bendo, namun pergi ke Jombang, sementara keluarganya diungsikan ke Sidorejo (rumah mertuanya).

Beberapa tokoh masyarakat Desa Sukolilo menyayangkan kejadian ini. H. Ali Masykar, Kepala Desa Sukolilo misalnya, “sebenarnya masalah ini bisa dirundingkan dengan kepala dingin, masalahnya belum jelas, karena kajian MUI belum keluar. Lha kalau begini kan malah menjadi kabur. Tapi apa mau dikata, membendung amarah ratusan warga, sayapun tak kuasa” keluhnya.

Setelah kejadian tersebut, Kepala Desa bersama Kapolsek Jabung berupaya untuk menenangkan warga Dusun Bendo. Dalam kesempatan sehabis jum’atan, dia menghimbau warganya agar mampu menahan diri dan tak menaruh dendam terhadap Jamaah Syafaatus Sholawat, karena bagaimanapun mereka adalah warga dan saudara sedusun. Dalam kesempatan tersebut Ali Masyhar mengungkapkan, kejadian ini menjadi pelajaran bagi pendatang baru, apalagi untuk pendatang dengan motif untuk menyebarkan ajaran diharapkan menghargai penduduk sekitarnya. Wallahu A’lam.

Damanhuri
email: reza_marco_chavez at yahoo.co.id

15 COMMENTS

  1. Yah lumayan, kasus sesat dan yang menyesatkan timbul lagi di Malang yang terkenal adem ayem. Kalau ada kasus begini kan Malang jadi terkenal,walaupun dengan steriotip minor. Namun sesat dan tidaknya altivitas Jama’ah Syafaatus Sholawat jangan hanya dimonopili MUI doang dong. Sodorkan masalah ini pada Wong Tengger atau Orang Samin, pasti jawabannya akan berbeda. Ya begitulah kondisi bangsa ini, meski merdeka yang masih patuh pada asas tunggal yang sebenarnya tidak tunggal. Aaaaalah gak tau aku………………

  2. wow!!!!
    safaatussholawat saya kira bukan aliran sesat. yang sesat adalah orang-orang yang menyesatkan safaatusholawat.
    ternyata negara kita memang belum merdeka. terlebih dalam melaksanakan ibadah agama. kalau sudah merdeka, tentunya orang bebas melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinannya.
    sesatnya seseorang itu karena menyesatkan orang lain gitu katanya di hadist

    heeee…..

  3. Asslk,wr.wb.
    safaatussholawat menurut saya tidak sesat.Pengajiannya berupa tausiah pengkajian ulang/mengingatkan jemaahnya secara berkelanjutan mengenai ajaran-ajaran Islam pada umumnya, mengenai rukun Iman dan Rukun Islam.Mengingatkan ummat agar selalu percaya dengan Allah, tidak menduakan Allah, melaksanakan Shalat 5 waktu. Penjelasannya berdasarkan Ayat-ayat Al Quran dan Hadist.Memberikan jawaban akan pertanyaan dari jemaah yang tidak mengetahui tentang apa Islam itu, apa gunanya sholat,bagaimana cara sholat yang benar, juga akhlakul karimah menurut Islam.Buku yang di terbitkan, walaupun tidak secara resmi, isinya sama dengan buku-buku panduan pelaksanaan rukun iman dan rukun islam yang lain yang berdasarkan Al Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW.
    wass

  4. asalamu’alaikum wr.wb
    sesat atau tidaknya suatu ajaran itu hanya Alloh yang dapat menentukanya,,,iay toooo…..
    menurut saya syafatush sholawat itu tidak sesat,,smua ajarannya sesuai dengan al-Quran dan hadist ,,buku2 yang mreka pelajari pun tak ada yang mnyimpang.dalam syafatush sholswat di pelajari asmaul husna dengan mendalam,,dan mengarah pada pengamalan dalam khidupan sehari-hari.HUALLOHUALAM hanya Alloh yang dapat menilai hati hambanya,,
    wassalamualaikum wr wb

  5. biarlah ALLAH sendiri yang menilai kami sesat dan tidaknya,kami hanya berusaha megenal tuhan lebih dekat lagi melalui nama dan sifatNYA,semoga kami mendapat petunjuk dariNYA,hanya kebaikanlah yang kami harapkan.

  6. saya alumni Syafa’atus Sholawat Waktu Masih mengajarkan beladiri, masalahs esat tidaknya kami biarlah Alloh yang menilai, Kalau terus seperti ini antara satu organisasi dan lainnya saling berkata sesat kapan Umat islam bisa bersatu?? Biniyati liridho lillahi ta’alla wa’rohmatihi,wa’taufikihi,wa’hidayatihi,wa’nurri subhaanahu wata’alla wabi syafa’ati Nabiyyi Muhammadin SAW – Al-Faatihah

  7. Gkk Boleh Bilang sesat ..kita harus cari tau dr mna sesatnya…. itu … jng Dengar kata Orng2.. Kita semua Punya tuhan ..menurut saya Minta saja Pentunjuk sama allah.. benarkah itu sesat… gitu donk ..tanya ama tuhan langsung ..jangan asal sok ber iman…
    Padahal Kafir… !!! Intrupeksi diri itu lebih baik dari pada .. Sok Beriman………
    _ _ Syafa’atush sholawat itu tidak sesat..kok…menurut saya ….. disitu setau saya belajar Memahami AlQur’an.. dan Hadist ..DAn Mengamalkan isinya tersebut… Serta Belajar Mengenal Allah Swt… Dengan Memahami Sifat 2 dan perbuatan nya.. AL ASMAUL HUSNA…..
    _.. Hamba Allah _
    PaLembang

  8. Buktinya Allah Redho … SAMA Syafa’atus Sholawat ..sampai sekarang bertambah..banyak … jamaah nya………………. !!! Alhamdulillah… bgitu jg dngan pondoknya

  9. ass… sesat dan tidak liran itu..bukan urusan kmu.. karena apa… ( selamatkan lah dirimu dan keluargamu.). sudahkan selamat..pikir donk …. jd sblum kita berkata .. dipikir dahulu ya…..
    ___________________________ >>>>

    😉

  10. “syafaatush sholawat” Di sinilah saya lebih mengenal sifat2 tuhan …. Thankyou allah