Tulisan ini sebenarnya berangkat dari kegelisahan pribadi melihat kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang tak kunjung selesai. Salah satunya adalah penyerbuan kantor PDI kubu Megawati, 27 Juli 1996, yang berada di Jalan Diponegoro 58 Jakarta yang juga tidak ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab sampai hari ini. Beragam aksi penuntutan penuntasan kasus tersebut, yang dilakukan oleh berbagai kelompok, seolah dianggap pemerintah sepintas angin lalu semata.

Majalah Tempo (edisi Agustus 1999) pernah melakukan investigasi tentang kasus yang sering disebut dengan Kudatuli ini (Kudeta 27 Juli dan ada pula yang menyebut Kerusuhan 27 Juli). Dalam laporan investigasi yang mereka lakukan, muncul pertanyaan yang begitu menggelitik, sebenarnya siapan yang masih peduli dengan kasus itu? Atau setidaknya siapa yang masih peduli dengan korban tragedi itu? Megawatikah? Ah, ternyata anak biologis dari Bung Karno itupun tidak begitu antusias untuk mengusutnya hingga tuntas. Bahkan yang lebih naïf lagi, ketika Megawati berkesempatan untuk mencicipi RI 1 pun ternyata kasus itu hanya mengendap, tanpa pernah muncul ke permukaan.

Dalam catatan sejarah, memang kubu Megawati pernah melakukan gugatan terhadap Soerjadi (ketua umum PDI versi pemerintah). Akan tetapi ketika gugatan itu mentah di pengadilan, selanjutnya tak pernah terdengar lagi usaha dari mereka untuk mencari keadilan lebih jauh tentang siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang menjadi korban. Bahkan ketika Megawati berkesempatan menjadi presiden, ucapan simpati kepada aktivis PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang notabene waktu itu menjadi kambing hitam tak pernah terucap.

Dalam investigasi Tempo, sengkarut tentang kasus Kudatuli ini penyebabnya adalah ketidaknyamanan Soeharto atas semakin naiknya popularitas Megawati pasca terpilih dalam Munas PDI 1994. Ini terlepas apakah naiknya Megawati ke tampuk ketua umum akibat kecelakaan sejarah atau bukan. Yang jelas naiknya Megawati membuat khawatir Soeharto bisa mengikis kredibilitas pemerintahan saat itu. Lantas dibuatlah skenario untuk penggulingan Megawati.

Maka kemudian muncullah kongres PDI di Medan pada Juni 1996, dimana Soerjadi kembali terpilih sebagai Ketua Umum PDI. Sementara itu di ibukota, Jakarta, juga terjadi aksi tandingan dari kubu Megawati. Mereka melakukan mimbar bebas yang dinilai pemerintah sebagai tindakan subversif. Disinilah kemudian muncul apa yang disebut oleh Soeharto sebagai jelmaan PKI yaitu Budiman Sudjatmiko yang juga sekaligus sebagai ketua PRD waktu itu.

Tersebutlah beberapa nama yang perannya tidaklah kecil dalam usaha penggulingan Megawati, tentunya selain Soeharto yang gundah gulana. Diantara mereka adalah Feisal Tandjung yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI. Dialah yang menerima tugas langsung dari Presiden Soeharto untuk segera menstabilkan kondisi internal PDI. Selanjutnya ada nama Syarwan Hamid (Kasospol ABRI) yang diduga sebagai perancang operasi. Informasi yang diberikan oleh Syamsir Siregar, mantan Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA) mengatakan bahwa Syarwanlah yang lebih tahu tentang ini. Maka Syarwanpun dengan tegas menyangkal keterlibatannya dalam kasus Kudatuli ini.

“Peristiwa itu bidang Pak Syarwan sebagai Kasospol. Tanya saja ke dia,” begitu kata Syamsir ketika  dimintai keterangan oleh Tempo.

Mantan Gubernur Jakarta, Sutiyoso yang waktu masih menjabat sebagai Pangdam Jaya, bertindak sebagai operator lapangan dan menolak berkomentar atas tragedi Kudatuli ini. Penyerbuan kantor PDI kubu Megawati ini terjadi sesaat setelah pemerintah (Soeharto) resmi mengakui kepemimpinan Soerjadi pasca terpilih di Munas Medan.

Tak kalah mengecewakan lagi adalah pernyataan Soerjadi yang mengaku sudah lupa proses tragedi kasus Kudatuli tersebut. Ia mengatakan bahwa kasus itu adalah urusannya DPP yang waktu itu dipegang oleh Budi Hardjono. Saat ini, semuanya yang diduga pernah terlibat seolah-olah mengalami amnesia akut yang lupa akan semua yang pernah mereka rencakan. Tak mau berkomentar apapun tentang Kudatuli. Seperti namanya, Kudatuli, dan akhirnya semuanya memang TULI!!!

1 COMMENT

  1. Bukannya yang kaya’ gini banyak banget ya? Penggelapan-penggelapan sejarah, untuk kepentingan pribadi… Sebut saja supersemar yang sampai sekarang ndak ketemu akarnya