Setelah memahami cara berfikir Foucault, ambil jeda sedikit untuk nyeruput kopi kemudian mendiskusikan seputar pemikiran dalam wilayah seks, pengetahuan, dan kekuasaan. Analisisnya terhadap wacana tentang seks yang berhubungan dengan pengetahuan dan kekuasaan dapat ditemukan dalam bukunya yang berjudul Sejarah Seksualitas. Lantas seberapa pentingkah memahami wacana tentang seks? Kekuasaan dalam seputar wacana tentang seks telah membuat perempuan tidak boleh duduk “mengangkang” dan dibutuhkan kehati-hatian untuk berkata mengenai alat kelamin dalam tempat umum. Lalu bagaimana konstruksi wacana tersebut dibangun?

Hubungan Antara Seks, Pengetahuan, dan Kekuasaan[1]

Dalam buku Sejarah Seks Foucault pada awal-awal bab membahas mengenai Kaum Victorian. Kaum Victorian adalah masyarakat yang dipengaruhi oleh pengadilan tingkah laku ala Ratu Victoria I (1819-1901). Dimana pada masa itu ratu tidak hanya mengendalikan kerajaan tetapi juga tingkah laku kawulanya. Bagi Kaum Victorian, kesantunan puritan sangat penting. Bahkan perilaku dan tindakan seksual di masa itu tidak hanya dikekang, tapi juga dibungkam. Namun, karena tidak mungkin dilarang sepenuhnya disediakan tempat khusus bagi yang ingin melakukan tindakan seks secara bebas yakni di rumah pelacuran dan rumah sakit jiwa. Padahal pada awal abad ke-17 konon seks tidak ditutup-tutupi.

Di abad ke 17 terjadi ledakan wacana tentang seks. Dimulai dari munculnya Kaum Victorian, hingga kemudian melahirkan sebuah kesantuan yang membungkam aktivitas atau keseharian mengenai seks. Peraturan yang ada menghendaki sebuah hukum kolot. Siapapun yang menyalahi norma tersebut, maka akan diberi sebuah status atau sanksi sosial, misalnya orang mandul yang menegaskan keberadaanya. Di satu sisi ada kaidah kesantunan baru mengenai seks hingga pengujarannya yang dibatasi. Akan tetapi, di sisi lain berkembang wacana menyimpang tentang seks seperti kata-kata kotor dan ejekan menggunakan daerah sekitar seksualitas. Ini membuktikan bahwa dalam setiap kekuasaan selalu muncul perlawanan.

Foucault terus bercerita pada abad ke 18 terjadi sebuah perombakan mengenai tradisi masyarakat klasik. Perombakan ini dimulai atas laju perkembangan masalah dalam masyarakat hingga pengetahuan. Munculnya pengetahuan mengenai kependudukan seperti angka kelahiran, kematian dan pertumbuhan menyebabkan kekuasaan membangun jaringan dan strategi baru. Masalah kependudukan kemudian juga menjadi masalah ekonomi-politik yang harus diatur oleh otoritas. Hal ini disebabkan masalah kependudukan dianggap sebagai sumber masalah yang akan menjangkit pada masalah sosial baru. Argumentasi ledakan penduduk yang tak terkendali akan membuat persoalan perekonomian yang tidak merata. Pada akhirnya, anjuran etika dan moralitas seks dalam masyarakat yang sebelumnya hanya diadili kini harus diatur. Diciptakanlah Polisi sebagai pengatur seks melalui berbagai wacana yang berguna dan terbuka.

Perkembangan wacana seks kemudian berlanjut dan kompleks yang beriringan dengan ilmu kedokteran umum, pengadilan, dan psikiatri. Kedokteran menyumbangkan pengetahuan tentang penyakit saraf. Psikiatri menemukan sebuah penyakit jiwa pada perilaku onanisme dan “overseks”. Abad pertengahan telah menyusun wacana yang benar-benar tunggal di sekitar tema birahi dan pengakuan dosa. Selanjutnya selama berabad-abad terakhir ketunggalan relatif itu dipecah belah, disebar, diperbesar jumlahnya dalam suatu ledakan wacana yang berbeda-beda. Hal ini terwujud dalam demografi, biologi, kedoktan, psikiatri, psikologi, moral, pedagogi. Proses ini kemudian bukan berarti seks dilepaskan begitu saja, wacana tentang seks tetap ada dalam bentuk yang samar-samar tersembunyi, seperti arsitektur bangunan, dan bangku-bangku sekolah. Sejatinya sejak bahasa dipaksakan pada zaman klasik, di sekeliling seks telah disusun satu jaringan pewacanan yang rumit, beragam, khas, dan menekan dalam sebuah sensor menyeluruh.

Agar kekuasaan langgeng dibutuhkan sebuah partisipasi secara tetap, penuh perhatian, dan juga penuh keingintahuan. Selain itu, kekuasaan juga mensyaratkan sebuah kedekatan, seperti: pemeriksaan fisik, pengamatan yang cermat, dan curahan hati. Selanjutnya agar kekuasaan mengenai wacana seks juga semakin kokoh, dalam sistem paksaan besar dan tradisional  harus dapat dibangun dalam bentuk ilmiah. Foucault kemudian mengangkat lima jemarinya: Pertama, pembakuan ilmu klinis. Kedua, dengan postulat suatu kausalitas umum dan ke segala arah. Ketiga, asas menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang secara hakiki bersifat laten. Keempat, dengan metode intrepretasi (pengakuan). Kelima, medikalisasi berbagai dampak pengakuan. Dari kelima uraian kekuasaan yang disebutkan tersebut menyebabkan kekuasaan menjadi produktif.

Foucault kemudian kembali memberikan pemaparan untuk menegaskan strategi dan mekanisme kekuasaan-pengetahuan dalam wacana tentang seks pada abad XVIII. Bahwa melalui histerisasi seks perempuan nantinya tubuh harus tunduk pada wacana tentang kedokteran dan dihubungkan pada norma. Kemudian pedagogisasi seks anak melalui perjuangan melawan mastrubasi dilakukan sebagai bentuk untuk mengawasi anak. Selanjutnya, adanya sosialisasi perilaku prokreasi yang memberikan kepada pasangan tanggung jawab sosial dan kedokteran berupa kontrol kelahiran. Terakhir adalah psikiatrisasi kenikmatan yang menyimpang dengan tujuan untuk mendiagnosis penyimpangan-penyimpangan dan memungkinkan orthopedi seks yang baru. Ini menunjukkan bentuk normalisasi terhadap perilaku menyimpang.

Dari perjalanan seks dari masa ke masa sebenarnya menampakkan dua asumsi pemusatan represi. Pertama, pada abad ke-17 dimana larangan pokok telah hadir agar masyarakat dan individu harus bersikap santun. Kedua, pada abad ke-20 dimana mekanisme telah menunjukkan kelonggarannya, namun perang bukan lagi atas nama raja yang harus dibela justru perang dilancarkan atas nama eksistensi seluruh masyarakat.

Penjelasan Foucault panjang lebar mengenai seksualitas membuat banyak hal yang dapat ditarik seputar wacana seksualitas. Pada dasarnya pengetahuan yang kita pahami saat ini memiliki hubungan dengan kekuasaan. Melalui seksualitas juga dapat tergambarkan suatu kekuasaan yang digambarkan dalam tatanan disiplin dan berjejaring. Kedisiplinan tersebut tidak dapat diidentikkan dengan institusi dan aparat. Karena kedisiplinan adalah suatu modal untuk menjalankan kekuasaan yang terdiri dari sarana, teknik, prosedur, tingkat-tingkat penerapan, sasaran-sasaran. Disiplin juga bisa disebut sebagai anatomi kekuasaan ataupun teknologi (lihat mekanisme dalam penjara panoptik).[2]

Membongkar Nalar Kekuasaan di Sekitar Kita

Sejurus dengan kopi yang menyisakan satu lepek saja, Foucault memberi penjelasan bahwa tidak mudah untuk meringkas apa yang telah ada dalam pikirannya. Namun, setidaknya hikmah perbincangan ini merupakan pemantik bagi kita untuk menjadi manusia yang memiliki nalar kritis dan sadar. Sebab di wilayah kita berkeliaran kekuasaan yang memiliki beragam wajah yang suatu saat perlu kita bongkar. Melalui pembongkaran sejarah dengan tegas  dapat mengantarkan keberadaan posisi kita. Sehingga gerakan politik dapat dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.

Melalui tulisan EYD misalnya, kita dapati bahwa ada sebuah konspirasi antara ilmu bahasa dengan kekuasaan Soeharto. Singkatnya, agar masyarakat tidak dapat melihat sejarah, Pemerintah mengambil buku-buku dengan dalih untuk diperbaiki ejaannya. Namun yang terjadi justru beberapa buku tersebut kemudian hilang substansinya dan wujudnya. Inilah yang kemudian dikenal sebagai politik amnesia. Bukan saja mengenai politik amnesia tersebut, banyak hal lain mengenai wacana seksualitas seperti Keluarga Berencana dan kependudukan seperti KTP. Oleh karena itu, penting kiranya untuk di kemudian hari kembali semeja bersama Foucault. Memperdalam dan meruncingkan diskusi guna mempertajam nalar kritis sebagai senjata kesadaran melawan kekuasaan yang menindas.

Daftar Bacaan

Abdil Mughis Mudhofir, Teori Kekuasaan Michel Foucault: Tantangan Bagi Sosiologi Politik, Jurnal Masyarakat Vol.18, No 1, Januari 2013,

Haryatmoko, Kekuasaan Melahirkan Anti-kekuasaan, Basis Edisi Konfrontasi Foucault & Marx, edisi No 01-02 Januari-Februari, Jogjakarta, 2002

Listiyono Susanto, Epistimologi Kiri, Jogjakarta, Ar-Ruzz Media, 2012.

Michel Foucault, Sejarah Seksualitas: Seks dan Kekuasaan, Jakarta, Gramedia, 2000.

Rachmad Gustomy, Negara Menata Ummat, Jogjakarta, PolGov, 2010.

[1] Dalam bab ini penulis merangkum tulisan foucault dalam buku sejarah seks. Foucault, op.,cit

[2] Haryatmoko, op.,cit, hlm. 12