Ada beberapa sebab yang menyebabkan bias gender dalam pembangunan, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Subordinasi

Suatu anggapan yang memandang bahwa perempuan itu irasional, emosional, maka ia tidak bisa memimpin dan oleh karena itu harus ditempatkan  pada posisi yang tidak penting. Contoh praktik subordinasi: Dulu di Jawa ada aanggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh nantinya perempuan akan ke dapur (bagian belakang). Kondisi lain adalah pemerintah pernah memiliki peraturan bahwa suami akan pergi belajar (jauh dari keluarga) dia bisa mengambil keputusan sendiri. Sebaliknya bagi istri yang hendak tugas belajar ke luar negeri harus seizin suami. Di rumah tangga masih sering kita dengar jika keuangan mereka sangat terbatas, dan mereka harus mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, maka anak laki-laki mendapatkan prioritas utama. Praktik itulah yang sesungguhnya berangkat dari suatu kesadaran yang tidak adil.

2. Stereotype

Gender, keluarga, biar gender

Gejala ini sering dijadikan pelebelan pada suatu kelompok tertentu. Yang kurang dari ini, stereotype selalu merugikan dan menimbulkan ketidakadilan. Stereotype yang diberikan pada suku bangsa tertentu seperti Cina, Madura, arab dan lain-lain. Salah satu sumber stereotype adalah pandangan gender. Misalkan label yang berawal dari asumsi bahwa perempuan yang bersolek dalam rangka memancing perhatian lawan jenisnya, maka setiap ada kasus kekerasan sexual atau pelecehan seksual selalu dikaitkan label ini. Banyak kasus pemerkosaan yang dialami terhadap kaum perempuan, kecenderungan masyarakat untuk menyalahkan korbannya. Masyarakat memiliki anggapan bahwa tugas utama kaum perempuan adalah melayani suami.  Stereotype ini berakibat banyak sekali pada pendidikan kaum perempuan yang dinomorduakan. Stereotype ini terhadap kaum perempuan ini terjadi dimana-mana. Banayak peraturan pemerintah, aturan keagamaan, kebidayaan dan kebiasaan masyarakat yang dikembangkan karena stereotype ini.

3. Kekerasan

Kekerasan (violence) adalah serangan atau invasi (assault) terhadap fisik atau integritas mental fisik seseorang. Kekerasan terhadap sesama manusia berasal dari berbagai sumber, namun salah satu kekerasan terhadap satu jenis kelamin tertentu disebabkan oleh anggapan gender. Kekerasan yang disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat. Berbagai macam dan bentuk kejahatan yang bisa dikatagorikan kekerasan gender diantaranya sebagai berikut:

  • Pertama, bentuk pemerkosaan terhadap perempuan, termasuk didalamnya perkawinan. Perkosaan terjadi jika seseorang ingin mendapatkan pelayanan sexual tanpa kerelaan yang bersangkutan
  • Kedua, aksi pemukulan dan serangan non fisik yang terjadi dalam rumah tangga (domestic violence), termasuk kekerasan terhadap anak (child abuse).
  • Ketiga, bentuk penyiksaan yang mengarah pada organ alat kelamin, misal penyunatan terhadap perempuan.
  • Keempat, adalah prostitusi, yaitu kekerasan dalam bentuk pelacuran. Pelacuran merupakan bentuk kekerasan terhadap kaum wanita yang diselenggarakan oleh sistem ekonomi yang merugikan kaum wanita.
  • Kelima, kekerasan dalam bentuk pornografi, kekerasan ini termasuk non fisik, yaitu pelecehan terhadap kaum perempuan dimana tubuh perempuan dijadikan obyek bagi keuntungan seseorang
  • Keenam, kekerasan terselubung (molestation), yakni memegang atau menyentuh bagian dari tubuh perempuan dengan berbagai cara dan kesempatan tanpa kerelaan.

4. Women Exclusion dan Seclusion

Women Exclusion dapat dimaknai sebagai upaya dalam kebijakan yang terlihat “meminggirkan kaum perempuan” dalam banyak aspek. Kebalikannya adalah Women Inclusion di mana kaum perempuan dilibatkan dan dianggap sebagai faktor produksi yang penting keberadaannya. Sedangkan seklusi (seclusion) adalah suatu pemahaman yang meyakini pandangan bahwa kaum perempuan harus ada di rumah dan hanya pantas untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah saja. Hal ini bisa jadi karena faktor budaya masyarakat setempat, maupun karena pengaruh penafsiran teks agama yang sempit dan bias laki-laki.

5. Diskriminasi Perempuan

Suatu pandangan yang membedakan antara kaum laki-laki dan perempuan  dan dalam hal ini cenderung menempatkan kaum perempuan di posisi subordinat.

6. Home Workers atau Home Based Worker

Dalam konteks istilah ini adalah perempuan yang bekerja di rumah sendiri, namun merupakan perintah/pesanan dari majikan di luar rumah. Pekerjaan ini sangat membebani perempuan, karena di dalamnya tidak ada aturan jam kerja dan fasilitas-fasilitas lain. Akibatnya karena tekanan untuk memperoleh produksi yang maksimal, perempuan santa ditekan oleh sistem seperti ini.

7. Marginalisasi dan Eksploitasi Perempuan

Marginalisasi berarti sama juga dengan proses kemiskinan dan pemiskinan. Meskipun dalam definisi umum dipahami bahwa kemiskinan merupakan pengalaman hidup yang dialami oleh siapa saja, namun dalam konteks ini, pemiskinan secara sistemik justru dialami oleh jenis kelamin tertentu, yaitu perempuan. Kebijakan negara, keyakinan dan tradisi, tafsir agama, atau asumsi-asumsi ilmu pengetahuan, bisa jadi merupakan biang keladi dari penistaan kaum perempuan ini.