Ayub, seorang anak berusia 10 tahun yang lahir di kaki Gunung Semeru. Ia adalah contoh kecil diantara ribuan anak yang putus sekolah dan hidup diantara kepungan permasalahan hidup. Sedari kecil, Ayub sudah menjalani kerasnya hidup sebagai seorang pedagang asongan keliling disekitar kampung dan sekolahnya. Di umur 7 tahun, Ayub didiagnosa oleh dokter bahwa ia mengidap tumor otak. Meski begitu, Ayub tetap bersemangat dan menjalani hidup dengan penuh optimisme.

Ayahnya, Bapak Joyo Tasman adalah seorang buruh tani yang rata-rata hanya mendapatkan upah Rp. 10.000/hari. Sedangkan ibunya, Rasminah, kesehariannya menjadi ibu rumah tangga yang terkadang bekerja serabutan menjadi pembantu. Rumahnya jauh dari kata layak. Jangankan kasur empuk yang siap digunakan untuk menghela nafas, ia bahkan tidak memiliki dipan. Bersama ayah dan ibunya, ia biasanya tidur di lantai beralaskan karpet yang mulai menipis.

Kehidupan Ayub yang begitu hampir tragis mengingatkan saya pada kisah Keke di Novel Surat Kecil untuk Tuhan. Sayangnya, Ayub tidak pernah membaca novel tersebut. Barangkali hal tersebut yang menjadikannya hanya diam dan memilih terus berusaha untuk mencari sesuap nasi. Ia tidak pernah berfikir bahwa dengan menulis surat mungkin saja tuhan akan menurunkan Jadooseperti di Film Koi Mil Gaya milik Rakesh Roshan.

Tidak seperti biasanya, hari itu Ayub tidak bekerja dan memilih bermain bersama dengan teman-temannya. Setelah puas bermain gobok sodor, mereka beristirahat sembari menonton televisi dirumah Fahmi, temannya. Sama seperti kebanyakan anak-anak lainnya, Ayub dan teman-temannya saling berebut remot televisi.

Fahmi : “Ndelok Krishna ae lohh”

Ayub : “Ojo talah, Upin Ipin ae”

Habibul : “FTV ae piye?”

Kamri : “Wes-wes, nonton berita ae. Jarang-jarang tohh”

Channel televisi kemudian beralih menjadi acara infotainment. Di acara tersebut, dia melihat berita tentang 3 anak dari musisi kondang Rahmad Dhoni yang sedang berlibur ke Singapura. “Enak sekali mereka. Tidak pernah bekerja tapi sudah sampai Singapura”, gumam Kamri. Melihat hal tersebut, Ayub terdiam. Dia teringat dengan perkataan gurunya ketika di sekolah dahulu “Doa orang teraniaya adalah doa yang akan dikabulkan”. Dia mempertanyakan lagi perkataan tersebut. Dalam hatinya ia berucap, “Memangnya kurang teraniaya apalagi hidupku, apa aku harus kehilangan otakku agar doaku dikabulkan?”.

Akhirnya, channel televisi dirubah ke acara berita tentang Pak Ahok dan perseteruannya dengan DPRD. Ayub kembali heran dan bingung mengapa ada dukungan #SaveAhok. “Memangnya apa yang terjadi pada Pak Ahok? Kanker, tumor, atau kecelakaan hebat”. Suara celethukan kemudian muncul dari mulut Habibul, “Kok Pak Ahok didukung yo, padahal kan wonge wes sugih. Mangan yo sedino ping telu”. (Kok Pak Ahok didukung ya, padahal kan orangnya sudah kaya. Makan saja sehari tiga kali). Ayub terdiam, dalam hatinya menangis mengetahui dunia melupakan keberadaanya. Sayangnya, tidak ada gerakan #SaveAyub.