Surabaya, Kompas – Apresiasi masyarakat terhadap ludruk, terutama generasi muda, terus merosot dan dikhawatirkan dalam waktu satu dasawarsa lagi kesenian tradisi ini akan kehilangan bukan hanya penonton melainkan pula pewaris aktifnya. Lalu, bagaimana kita harus menyikapinya?

“Diakui atau tidak, seni pertunjukan ludruk merupakan salah satu jenis seni pertunjukan tradisional yang menjadi korban perubahan selera berkesenian dan selera publik terhadap jenis tontonan dan hiburan,” kata Dr Ayu Sutarto SS, MA, staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Negeri Jember (Unej), Kamis (22/5), di Surabaya.

Ayu Sutarto tampil dalam sarasehan dan pelatihan sandiwara ludruk se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), Surabaya. Menurutnya tidak semua seni pertunjukan tradisional memiliki nasib buruk. Paling tidak, meskipun tidak bisa hidup mandiri, masih ada beberapa jenis seni pertunjukan tradisional yang tetap hidup normal karena ada tangan-tangan kuat yang menopang kehidupannya.

“Arja dan gambuh di Bali, misalnya, masih tetap hidup karena para pewarisnya dan pemerintah setempat dengan sangat gigih memelihara keberadaannya,” katanya.

Teater Noh dan Kabuki di Jepang juga masih ditonton orang dari berbagai penjuru dunia karena pemerintah memiliki komitmen untuk berperan serta dalam pelestariannya. Teater boneka air di Vietnam juga tetap berjaya karena di samping pemerintah peduli, produk kebudayaan rakyat tersebut berhasil dikemas sebagai komoditas wisata yang laku jual.

“Produk-produk seni klasik di negara-negara maju masih juga bertahan karena adanya campur tangan pemerintah dalam melestarikan kelangsungan hidupnya,” ujar Ayu Sutarto yang dikenal sebagai peneliti tradisi itu.

Lalu, mengapa ludruk yang memiliki nama besar dan pernah memiliki peran historis tak mampu hidup wajar? Salahnya di mana? Mengapa apresiasi masyarakat sangat rendah?

Masih strategis

Menurut Drs Henrikus Supriyanto MHum, staf pengajar Universitas Negeri Surabaya, sebagaimana dikutip oleh Ayu Sutarto, seni pertunjukan ludruk masih memiliki fungsi yang strategis dalam kehidupan sosial, di antaranya berfungsi sebagai alat pendidikan masyarakat, media perjuangan, media kritik sosial, media pembangunan, dan media sponsor.

“Tetapi, ironisnya, di wilayah komunitas arek (Jombang, Mojokerto, Surabaya, dan Malang), di mana ludruk dilahirkan, kehidupan seni ludruk sangat menyedihkan,” kata Ayu Sutarto.

Banyak hal yang menjadi sebab mengapa fungsi, peran, dan posisi ludruk dalam masyarakat merosot. Menurut ketua Dewan Kesenian Jatim, Setya Yuwana Sudikan, demikian kata Ayu, sejak tahun 1990-an perkumpulan ludruk dihadapkan pada kondisi yang serba sulit.

Pertama, kalah bersaing dengan berbagai jenis seni pertunjukan modern dan kesenian pop. Kedua, kehadiran teknologi komunikasi modern, seperti televisi, VCD, Internet, dan lain-lainnya menyebabkan orang enggan pergi ke tanah lapang atau tobong untuk menyaksikan pertunjukan ludruk.

Ketiga, masyarakat perkotaan merasa turun gengsinya apabila diketahui sebagai penggemar ludruk. Dan, keempat, bagi sebagian umat Islam, ludruk dipandang sebagai seni sekuler karena adanya penampilan seniman pria yang memerankan tokoh wanita.

“Mungkin apa yang dinyatakan oleh Juwana Sudikan tersebut ada benarnya, meskipun tidak seluruhnya. Beberapa jenis seni pertunjukan tradisional ternyata mampu bangkit dan merebut kembali hati publik setelah inovasi dan terobosan dilakukan,” tutur Ayu Sutarto.

Lenong Betawi yang dikemas sesuai dengan selera anak muda ternyata mampu merebut pasar. Ketoprak yang penuh bumbu humor ternyata dapat menaklukkan hati publik. Dan, pergelaran wayang purwa yang bertabur bintang dengan berbagai atraksi ternyata juga “dibeli”, meski mahal. Tetapi, mengapa ludruk glamor dan ludruk humor yang dimotori Cak Kartolo kurang mendapat respons dari masyarakat ?

“Bukanlah suatu dosa jika suatu produk kebudayaan, termasuk ludruk, meninggalkan unsur konvensional yang tak lagi sesuai dengan perkembangan zaman dan kemudian melakukan inovasi terus-menerus untuk merebut hati publik,” ujarnya.

Seniman ludruk

Henrikus Supriyanto di dalam makalahnya berjudul Membedah Tantangan dan Peluang-Revitalisasi dan Renovasi Sandiwara Ludruk Mellenium XXI menyatakan, seniman sandiwara ludruk di Jawa Timur kini berada pada awal abad XXI. Mengapa pamor sandiwara ludruk kurang berwibawa di hadapan penonton ludruk di Jawa Timur?

Bila dalang kondang mampu meraup tanggapan semalam senilai Rp 25 juta, mengapa grup sandiwara ludruk dengan kru (awak panggung) sebanyak 60 orang harganya hanya Rp 5 juta, Rp 7,5 juta, dan pada hari baik (uluran tangan pejabat setempat) barulah bernilai Rp 10 juta?

Jika dangdut mampu menguasai jagat pertelevisian, kenapa ludruk humor di televisi baru memasuki tingkat hiburan malam, rating sesudah pukul 23.00? “Jawabannya sederhana, sekarang dicari seniman ludruk (sutradara dan pelawak) yang berkemampuan besar seperti mbak Inul,” ujarnya.

Inul dengan goyang ngebornya mampu mengorbit di forum nasional, gerakannya diteliti oleh Sekolah Tinggi Seni Tari, fenomena Inul mengglobal.

Namun, sandiwara ludruk dalam perjalanan panjang sejarah kesenian di Jawa Timur menghadapi tantangan untuk bangkit menempatkan dirinya sejajar dengan ragam seni pertunjukan rakyat yang lain di bumi Indonesia. “Bila perlu harus mampu menempatkan ludruk di level global, mendunia, ke jaringan antarbangsa,” tuturnya.

Meskipun demikian, kata kuncinya berada pada seniman ludruk itu sendiri. “Dicari seniman ludruk yang genius, dicari grup ludruk yang bermutu, dicari sistem jaringan dalam komunikasi modern, dan kompetitif (siap bersaing),” ujarnya. (TIF)

Sumber Artikel: Kompas, Jumat, 23 Mei 2003