Di zaman yang serba canggih ini sangat mudah bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi ataupun ilmu pengetahuan. Internet yang sudah berkembang di daerah-daerah plosok, menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan ilmu bagi mereka yang menginginkan pengetahuan tambahan. Namun, berbeda dengan seorang santri, mereka rela keluar dari daerahnya untuk mendapatkan ilmu di pesantren. Oleh karena itu, besar harapan masyarakat sekitar terhadap mereka yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Dengan menuntut ilmu kepada orang-orang yang ahli dibidangya secara langsung lebih bermanfaat dari pada mendapatkan ilmu secara instan tanpa ada kejelasan asal-usul.

Tidak hanya ilmu saja yang akan didapatkan di dunia pesantren. Mereka akan mendapatkan beberapa pengalaman baru didalamnya. Kemandirian contohnya, bagi seorang yang selalu dimanjakan oleh orang tuanya, ketika di pesantren tidak ada lagi kasih sayang seperti yang didapat ketika di rumah. Bukan berarti di pesantren tidak ada kasih sayang yang terjalin, akan tetapi kasih sayang yang terbentuk tidak membedakan derajat atau latar belakang kemanusiaan disana. Semua santri memeliki kedudukan yang sama, sebagaimana kesamaan niat yang mereka miliki ketika keluar dari rumah. Dari sana kemudian terbentuk sebuah lingkungan yang mengedepankan kemandirian akan dalam bingkai kasih sayang antar sesama.

Selain kemandirian, solidaritas akan terbentuk dengan erat. Saling menghormati antar sesama menjadi proses pembiasaan meski diawal memiliki perbedaan. Apapun warna kulitnya, dari keluarga mana berasal, ataupun seberapa kaya mereka akan gugur ketika label santri mereka emban. Solidaritas tersebut tentu selaras dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan kunci utama persatuan. Dengan demikian pondasi akan terbentuk kuat bagi perdamaian Negara Indonesia.

Peran penting pendidikan pesantren lainnya ialah pembentukan moral. Melalui sistem yang mengedepankan sopan santun dan andhap asor secara otomatis akan menciptakan insan yang menjunjung tinggi norma-norma sosial. Mulai dari kebiasaan berkata kasar atau perilaku yang kurang baik akan tersaring melalui pendidikan di pesantren. Masalah moral adalah masalah individu, sehingga untuk memperbaikinya dibutuhkan sosok guru yang patut ditiru. Moral yang baik merupakan modal penting untuk membentuk generasi-generasi baru. Suri tauladan yang dicontohkan para kiai akan menjadi contoh untuk memperbaiki budi pekerti.

Kemerosatan moral yang terjadi hari ini adalah tugas bagi pemuda sebagai penerus bangsa. Kenakalan remaja yang semakin merajalela membutuhkan sosok pemuda yang memiliki jiwa mulia. Uswatun hasanah yang diturunkan kiai kepada santri menjadikan harapan besar negeri ini. Karena moral baik yang dimiliki pemuda saat ini nantinya akan menurunkan generasi- generasi berdikari. Dengan demikian, adanya pesantren yang merupakan wadah pembentukan karakter santri saat ini harus diapresiasi dengan baik oleh pemerintah. Dan penetapan Hari Santri merupakan langkah tepat untuk memperbaiki dan memajukan negeri.