Judul: Prem Ratan Dhan Payo
Sutradara: Sooraj Barjatya
Pemain: Salman Khan, Sonam Kapoor, Neil Nitin Mukesh, Swara Bhaskar, Anupam Kher, Armaan Kohli, Deepak Dobriyal
Produksi: Rajshri Productions
Rilis: 10 Oktober 2015

Apa yang akan terjadi pada sebuah negara manakala Petruk jadi Presidennya?

Sebagaimana dikisahkan dalam pewayangan, Petruk yang sehari-harinya cengengesan berhasil membikin geger kahyangan. Wahyu kepemimpinan yang melekat pada diri Abimanyu tiba-tiba terbang dan hinggap pada diri Petruk. Ia akhirnya menjadi Raja yang semena-mena. Berbekal kesaktian dan kekonyolan, ia merusak berbagai tatanan yang telah mapan. Meski demikian, ia menyadarkan para pemimpin dunia hingga para dewa.

Petruk itu Bernama Prem Dilwali

Cerita bermula dari sosok rakyat kecil biasa. Seorang yang hanya berprofesi sebagai crew pengamanan kelompok drama bernama Prem Dilwale (Salman Khan). Kekaguman  kepada seorang Putri kerajaan bernama Maithili (Sonam Kapoor) membawanya menuju kisah rumit penuh intrik politik.

Suatu ketika Prem melihat Sang Putri turun dari helikopter lantas membagikan makanan kepada anak-anak dan ibu-ibu miskin. Sejak saat itu pula Prem mulai mengagumi Maithili.

Putri kerajaan, sudah barang tentu ia cantik. Tak cukup cantik saja, ia juga berhati mulia. Darah biru yang mengalir dalam tubuhnya tak lantas membuat dirinya berleha-leha. Ia aktif di LSM bidang kesehatan masyarakat miskin. Atas dasar itulah Prem akhirnya rajin mengumpulkan uang yang kemudian ia sumbangkan kepada kegiatan yang diajalankan Sang Putri.

Berbekal nekat, Prem pergi ke Pritampur untuk menyerahkan sumbangannya secara langsung kepada Putri Maithili. Niat baik justru berbuah masalah. Prem “ketiban sampur”, ia dipaksa untuk berpura-pura menjadi Yuvraj Vijay Singh, seorang Putra Mahkota Pritampur. Sang Putra Mahkota (yang juga diperankan oleh Salman Khan), mengalami kecelakaan pada empat hari menjelang pelantikannya sebagai raja.

Beberapa adegan lucu dan memilukan dijalaninya. Ia terlibat dalam konflik dan pengkhianatan keluarga sang calon raja. Prem, bersama dengan temannya Kanhaiya (Deepak Dobriyal), menjadi bagian dari semua ini, tentu saja dengan niat yang mulia.

Keinginan Prem untuk sekadar menemui Tuan Putri akhirnya terwujud, bahkan lebih dari sekadar terwujud. Ndilalah, Maithili adalah tunangan dari Vijay Singh. Terang saja ia bahagia, Putri yang ia kagumi berada di hadapannya sebagai calon istrinya.

Bersama dengan Maithili, Prem mengacak-acak tradisi kerajaan yang penuh kesopanan sekaligus diliputi kepura-puraan. Makna kebahagiaan menjelang pelantikan raja ia dekonstruksi. Acara formal menerima tamu kenegaraan ia belokkan menjadi pertandingan sepak bola.

Berkat niat baiknya, Prem mampu mengembalikan keharmonisan keluarga kerajaan. Ia membongkar penghianatan Yuvraj Ajay Singh (Neil Nitin Mukesh) yang tak lain adalah adik tiri Vijay Singh. Dua adik perempuan Vijay, Rajkumari Chandrika (Swara Bhaskar) dan Rajkumari Radhika (Aashika Bhatia) yang telah lama marah juga dapat ia redakan.

Tapi apalah boleh dikata, Petruk tetaplah Petruk. Ia tetaplah rakyat biasa. Ketika sang Raja sudah sehat, ia harus mengembalikan tahtanya. Tugas petruk hanya sementara, mengacak-acak tatanan, merobohkan kebiasaan kemudian membangun kembali kebiasaan yang lebih baik.

Citra Diri Salman Khan

Lagi-lagi Salman Khan menunjukkan karakternya seperti yang ia lakukan di Bajrangi Bhaijaan dan film-film terdahulu. Di sini, dia justru lebih mengejutkan. Disamping lucu, karakternya begitu saleh menyejukkan. Anda akan dibuatnya memerangi masalah moralitas setelah keluar dari bioskop.

Satu pesan terbesar yang sangat mengesankan dari film ini adalah tentang bagaimana memaknai kepemimpinan tradisional. Meski kerajaan tidak lagi diakui secara formal dalam sistem kenegaraan, rakyat tetap mencintai dan menghormati rajanya. Pun demikian dengan sang raja, ia begitu bijak dalam mempertahankan romantisme sejarah yang begitu dicintai dan dibanggakan oleh rakyatnya. Baginya, “menjadi raja tak lebih penting daripada mempertahankan tradisi”.

Dengan tetap berkelas, film ini menampakkan berbagai tradisi yang tak diberikan porsi cukup di film lainnya. Silakan simak, bagaimana Vijay Singh menggunakan dokar sebagai alat transportasi di era modern ini. Demikian pula Prem yang berandai-andai mengungkapkan cintanya. Selain bunga, ia juga membeli beberapa makanan kecil khas India sebagai wujud cinta dan penghormatan tertinggi.

Akhir kata, film ini bisa jadi adalah sebuah gambaran bagaimana aplikasi praktis dari kaidah usul fiqh, “Al mukhafadzotu ala al qodimisholih wal Ahdzu bil Jadidil Aslah” (Mempertahankan nilai lama yang baik dan mengambil nilai yang baru yang lebih baik).