Judul: Bank Dunia, IMF dan Hak Asasi Manusia
Penulis: Prof. Daniel D. Bradlow
Penerjemah: Yanuar Sumarlan
Penerbit: ELSAM Jakarta
Tahun: 1999
ISBN: 9798981022

Asumsi utama yang dibangun, salah satu sebab mengapa banyak negara Dunia Ketiga (termasuk Indonesia) semakin terpuruk sisi sosio-ekonomi maupun sosio-politiknya adalah karena kehadiran dua lembaga dunia, bernama Bank Dunia dan IMF. Kemiskinan secara ekonomi memang menjadi hantu yang menakutkan bagi negara Dunia Ketiga. Kondisi ini memaksa mereka untuk menghadirkan investasi seluas-luasnya untuk menyelenggarakan berbagai proyek pembangunan.

Derita Lebih Dalam

Negara Dunia Ketiga pun meminta Bank Dunia dan IMF hadir untuk menyambung hidup dengan mengucurkan dana mereka. Namun ternyata kehadiran dua ‘penyelamat’ ini justru di kemudian hari banyak menimbulkan derita yang lebih dalam.

Ia bahkan berbalik menjadi hantu yang lebih menakutkan, meski berwajah cantik. Akumulasi persoalan tersebut, di samping beban ekonomi secara mikro maupun makro, lebih dari itu –dan ini yang paling banyak–ialah kerap diabaikannya aspek hak asasi manusia.

Penghormatan terhadap harkat kemanusiaan menjadi barang langka dalam setiap dana yang dikucurkan oleh kedua lembaga itu. Ia menjadi pertimbangan yang tidak sama sekali dipentingkan. Jangankan dipentingkan, perumusan secara tegas dan jelas saja menimbulkan perdebatan.

Resep Gagal

Krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia dan resep yang diberikan oleh kedua lembaga itu untuk mengatasinya, seperti kita ketahui justru tidak banyak memperbaiki secara substansial virus penyakit ini, kecuali malah memperburuk keadaan. Dengan mata telanjang, setiap hari kita temui ribuan orang kehilangan pekerjaan, anak-anak kekurangan gizi, jutaan orang kelaparan, penyelewengan dana JPS dan sebagainya.

Lantas, apakah kedua lembaga tersebut mau bertanggungjawab dari sisi hak asasi manusia sebagai imbas dari pinjaman yang mereka berikan dan proyek-proyek pembangunan yang ada karena pinjaman itu?

Pertanyaan menarik ini menjadi dasar penulisan maupun penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia, sebagai upaya untuk menyadarkan kembali semua orang bahwa secara moral dan kemanusiaan mereka (kedua lembaga itu) tidak boleh lari dari tanggungjawab.

Pertanggungjawaban

Prof. Daniel D. Bradlow, penulis buku mungil ini, berulang-ulang menegaskan bahwa Bank Dunia dan IMF harus mau bertanggungjawab atas pekerjaan-pekerjaan mereka dengan memberi pinjaman pada Dunia Ketiga dan Indonesia, ketika terjadi banyak pelanggaran HAM dan pelbagai patologi sosial lain, yang langsung maupun tidak, diakibatkan oleh proyek dan advis pinjaman-pinjaman itu.

Asumsi dasar mereka terhadap pembangunan memang terbukti tidak tepat. Kita ingat tahun 1960 saat mereka berhadapan dengan sekian banyak kegagalan akibat pertumbuhan ekonomi yang ujung-ujungnya justru mempertinggi angka-angka kemiskinan.

Sebenarnya memang tidak mungkin mereka mendanai proyek-proyek yang dirancang untuk mengurangi kemiskinan tanpa membuat penilaian-penilaian tentang siapa si miskin tersebut (h.20). Lebih jauh, pertanyaannya ialah siapa yang akan menjadi pemenang dan pecundang dalam proyek-proyek mereka itu.

Kegagalan mereka untuk secara layak mempertimbangkan aspek kemanusiaan berakibat pada proyek yang tidak saja gagal mencapai tujuan yang sebenarnya, melainkan lebih dari itu, ia juga akan memelihara perlakuan diskriminatif, bahkan penindasan atas kelompok masyarakat tertentu, yang tentu saja miskin dan tertindas.