Tutur Tinular adalah sebuah mahakarya. Awalnya Tutur Tinular adalah cerita sandiwara yang disebarkan lewat radio karya S. Tidjab. Kemudian di Tahun 1997, oleh Genta Buana Pitaloka, cerita tersebut dibuat menjadi film seri. Serial film ini disutradai oleh Muchlis Raya dengan penulis skenario Imam Tantowi.

Tutur Tinular bercerita tentang seorang pemuda bernama Arya Kamandanu. Ia adalah pemuda yang gemar meguru untuk menambah ilmu kanuragan dan kebatinan. Kamandanu hidup diantara peralihan Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit. Ia memiliki kakak bernama Arya Dwipangga yang terkenal dengan karya sastra dalam bentuk sajak ataupun puisi. Meski bersaudara, keduanya sering kali berbeda pendapat hingga memercik perseteruan.

Di episode pertama, diceritakan bahwa Kamandanu memiliki seorang kekasih bernama Nari Ratih. Kisah cinta mereka sedang merekah indah, tak kalah dengan jalinan kisah film India, setidaknya begitu, sebelum Arya Dwipangga masuk dan menjadi orang ketiga. Tak hanya pada Nari Ratih, di episode lain juga dijelaskan kebejatan Arya Dwipangga yang kembali merenggut buih cinta Kamandanu dengan Mei Shin, sang pendekar dari Negeri Tirai Bambu.

Dengan syair-syair syahdunya, ia mampu meluluhlantakkan hati perempuan. Selayaknya playboy zaman sekarang yang menjual janji tanpa pernah ditepati. Mengumbar kalimat cinta-pada setiap wanita. Kidung cinta Arya Kamandanu berakhir manis, meskipun seperti mustahil untuk dilakukan. Ia menjadi seorang ayah dari anak-anak yang bukan darah dagingnya, bagai perumpamaan tidak ikut makan tapi mencuci piring. Sedikit curhatan pribadi penulis. Hehe.

Selain karakter fiktif diatas, Tutur Tinular juga menceritakan konflik yang terjadi di Nusantara. Ia menggambarkan bagaimana sejarah terjadi pada masa kerajaan. Mengambil setting Kerajaan Singosari, Tutur Tinular memberikan sumber rujukan kronologis mengenai jatuhnya Singosari dan kemunculan Manjapahit. Kronologi film diceritakan seruntut mungkin untuk penyelarasan dengan cerita utama film. Karenanya, ada beberapa hal yang mungkin sedikit terlewat dari kronologis aslinya.

Awalnya, cerita berkutat pada Kerajaan Singosari dengan Kertanegara sebagai Rajanya. Alkisah, pada masa tersebut terdapat bibit pemberontakan dari Kerajaan Gelang-Gelang dibawah komando Jayakatwang. Perang pun meletus, pertumpahan darah tak terelakkan. Jayakatwang menang dan memindahkan kekuasaan ke Kediri. Beberapa waktu berselang, bibit pemberontakan mulai muncul dari Sanggramawijaya. Ia adalah anak dari Kertanegara yang hanya secara de jure tunduk terhadap Jayakatwang.Dengan bantuan Arya Wiraraja, ia membuat strategi licik nan cerdas untuk mengambil alih kerajaan dan kemudian mendirikan kerajaan baru bernama Majapahit. Konflik peperangan tersebut juga tertera dalam berbagai sumber seperti Pararaton atau Negarakertagama.

Bagian paling menarik dan mengena dalam konflik diatas adalah strategi jitu yang dibuat oleh para anak negeri untuk mengusir pasukan Kubalai Khan. Spirit untuk menolak kolonialisme dibentuk dan diramu dengan begitu baik oleh Sanggrama Wijaya dengan Arya Wiraraja beserta yang lainnya. Kita patut berbangga, karena pernah mengungguli China.

Beberapa episode menceritakan kehidupan Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Sanggramawijaya dan penggantinya (Jayanegara). Kehidupan Majapahit yang tenang dan tentram dengan kebijaksanaan Raden Wijaya sebagai raja dijelaskan dalam beberapa episode. Tak hanya disitu, Tutur Tinular juga menceritakan pemberontakan yang banyak terjadi di pemerintahan Majapahit. Mulai dari pemberontakan Ronggolawe, Lembu Sora, Nambi, hingga Ra Kuti.

Pemerintahan kerajaan dikisahkan bahwa keberadaan seorang raja dianggap sebagai titisan sang batara wisnu. Perkataannya adalah sabda yang wajib untuk ditaati. Nyawa bukanlah hal yang utama, karena titah-sabda seorang raja dan harga diri kerajaan adalah yang pertama. Selain itu, digambarkan pula bagaimana sistem pemerintahan dijalankan. Dimana Raja dibantu oleh dewan penasihat, rakryan mahamentri, senopati, tumenggung, dharmaputera dan juga para prajurit pilih tanding. Konflik perpecahan kerajaan tak lepas dari dua hal, kepercayaan akan kutukan dan oknum yang haus akan kekuasaan.

Sayangnya, film ini kurang memperlihatkan peran perempuan. Padahal, sama-sama kita ketahui bahwa Ken Dedes adalah penyebab awal peperangan tersebut, dan Gayatri, adalah Ibu bangsa. Gayatri sendiri hanya keluar pada beberapa adegan saja, itupun untuk kadar yang tak begitu penting. Barangkali tokoh wanita yang mendapatkan porsi terbesar adalah Tribuanaweswari.

Titik akhir dalam film ini adalah kemunculan Gajah Mada. Ia tiba-tiba hadir dan mewarnai cerita tanpa asal-usul yang jelas. Hal ini sama dengan yang tertulis di Kitab Pararaton tentang munculnya gajah Mada yang masih menjadi teka-teki. Begitulah sejarah yang dimiliki negara kita, dari kesekian cerita, banyak yang berakhir dengan koma.

Secara pribadi, film Tutur Tinular versi reformasi adalah yang terbaik diantara yang lainnya. Meski teknik pengambilan gambar masih kuno, dan teknologi yang digunakan belum secanggih sekarang, film ini adalah yang paling niat. Pembuatannya tidak main-main, saking tingginya animo penggarap film, hingga Negeri China pun dipinjam untuk menyelesaikannya. Bedakan dengan sinetron sekarang yang peperangannya hanya berkutat di pekarangan rumah. Setidaknya, film ini adalah bukti. Bukti bahwa kita punya sejarah panjang dan bukti jika kita juga punya tontonan yang berkualitas. Dan, film ini, layak ditayangkan kembali.