Pujian berasal dari bahasa Jawa yang artinya sanjungan hamba kepada Allah SWT, lalu dijadikan sebagai istilah khusus kaum nahdliyin yang biasanya dilakukan setelah adzan sebelum shalat berjama’ah dilaksanakan. Jadi yang dimaksud dengan pujian adalah membaca dzikir atau syair sanjungan hamba kepada Allah secara bersama-sama sebelum shalat berjama’ah dilaksanakan.

Jika dilihat dari struktur katanya, kata yang berasal dari kata puji dan akhiran an yang berarti kata benda. Namun jika kita terjemahkan lagi pujian memiliki persamaan arti dengan sanjungan kepada sesesorang. Pada dasarnya ada beragam cara manusia memberikan pujian kepada orang lain diantaranya dengan memberikan apresiasi atas segala prestasi yang telah diraihnya. Apresiasi itu bisa dalam bentuk materi atau hadian atau bisa pula dalam bentuk perkataan.

Pada masyarakat tertentu, pujian biasa digunakan untuk memuji sang pencipta. Dalam agama Kristen ada puji-pujian yang ditujukan kepada Tuhan Yesus. Dalam agama Budha Juga ada puji-pujian yang ditujukan kepada Sang Budha Gautama. Begitu pula dengan Hindu yang dalam hari-hari besarnya senantiasa memberikan puji pujian kepada Sang Hyang Widi. Hampir semua agama senantiasa melakukan puji-pujian ketika mereka hendak mendekatkan dirinya pada tuhannya. Walaupun memiliki cara dan lagu serta ritme yang berbeda, namun secara keseluruhan mereka memuji tuhannya dengan lagu-lagu tersendiri.

Dalam tulisan ini saya tidak hendak menceritakan tentang bagaimana puji-pujian di masing-masing agama. Saya hendak memberikan gambaran tentang puji-pujian dalam Islam terlebih Islam yang berada di pedesaan.

Islam pedesaaan lebih akrab dikenal oleh orang yang melek huruf sebagai Islam konservatif. Walaupun kenyataannya istilah ini tidak dikenal oleh para kyai kampung yang senantiasa menjaga umatnya di akar rumput. Biasanya Islam di pedesaan masih sangat terikat dengan tradisi Jawa. Gending-gending (lagu-lagu) Jawa yang biasa mereka dengarkan dari radio ataupun dari pertujukan-pertunjukan begitu melekat di hati mereka.

Puji-pujian ini biasanya dilakukan pada saat jedah antara adzan menuju shalat berjamaah sambil menunggu makmum yang lain serta imam shalat datang. Pujian ini dibawakan oleh muadzin bersamaan dengan para jamaah yang sudah datang. Puji-pujian bisa dalam bentuk dzikir, ajakan, doa, ataupun pujian.

Ini adalah puji-pujian yang dalam bentuk ajakan

Allahoma Solli ala Muhammad

Yaa robi sholli alaihi wasallim

E…. sedulur yen wis podo krungu adzan

Ojo podo tetungkul omong-omongan

Menyang sumur hajat wudlu terus dandan

Mlebu langgar nglakonono kesunantan

Nunggu imam sinambi puji-pujian

 

Malem jemuah wong kubur podo mbukak lawang

Nyuwun kiriman saayat saking Al-qur’an

Yen wong dunyo oragelem ngirimi

Bali wong kubur brebes mili podo tangisan..

Ada pula yang dalam bentuk do’a

 

Astaghfirullahal adhim

Inallaha ghafururrohim

Gusti Allah kulo nyuwun ngapuro 2x

Sekathaing dosa kulo

Dosa agung kelawan ingkang alit

Boten wonten ingkang saget ngapuro 2x

Kang kagungan sifat rohman

Kang kagungan Allah sifat rokhim

Iyo iku gusti Allah asmane 2x

Biasanya puji-pujian ini paling pas jika dilantunkan menjelang sholat subuh berjamaah. Ada lagi yang bisa dilantunkan menjelang Subuh.

Solatullah salamullah 2x

Ala thoha rusulillah

Solatullah salamullah

Ala yasin habibillah

Solat subuh wis wancine 2x

Fajar sodik iku kawitane

Metune srengenge iku pungakasane

Monggo-monggo enggal wungu anggone sare

 

Ilahi salimin umah 2x

Minal afati wa nikmah

Wa min hamin wamin hummah

Biahlilbadri ya Allah

Solat subuh wis wancine 2x

Alqur’an nerangake

Hadist nabi ugo ngriwayatake

Jamaah subuh gede ganjarane

Monggo-monggo sami nindaake

Tradisi puji-pujian ini sebenarnya sudah berkembang lama di Jawa. Semenjak jaman Ronggowarsito, Jawa sudah akrab dengan berbagai tembang. Ada mijil, dandanggulo, macapat, pangkur, Pucung dan lain sebagainya.

Berbagai tembang ini sudah lazim di telinga masyarakat Jawa secara keseluruhan. Suasana yang menarik untuk didendangkan di sela-sela kesibukan mereka di sawah maupun di kebun. Sambil leyeh-leyeh mereka bisa uro-uro mendendangkan berbagai hal yang mereka lihat dan rasakan. Dari sini kita bisa melihat betapa orang-orang Jawa sangat dekat dengan alamnya.

Kondisi yang seperti inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Sunan Bonang untuk memasuki tembang-tembang Jawa memiliki spirit Islam. Sehingga nilai syiar Islam lebih membumi dan mudah dimengerti oleh para petani yang masih awam pengetahuannya tentang Islam. Tentunya puji-pujian itu berupa kalimat-kalimat yang mengandung dzikir, tasbih, takbir, tahlil, shalawat dan doa-doa dengan irama yang santun.

Berbagai gubahan yang dilakukan oleh beberapa sunan dan kyai kampung hingga kini masih bisa kita dengarkan di berbagai pelosok pulau Jawa ini.  Walaupun beberapa masjid terlebih di perkotaan sudah semakin banyak yang meninggalkan puji-pujian ini. Bagaimana dengan langgar dan masjid di daerah anda?

Bersambung ke Hukum Puji-pujian Menjelang Shalat Jamaah

16 COMMENTS

  1. wah, itu sih puji-pujian di mushola deket rumahku. lagunya enak dan benar-benar bagus. ada mp3 nya nggak. kalau adda saya download.

  2. Ini yang disebut puji-pujian ini nyanyi2an kan ya…?
    Maaf ya bung, apa bukannya dalam islam nyanyian itu dilarang?
    Apa mungkin sekarang sudah tidak dilarang?
    Alangkah rendahnya ilmu sunan bonang menggunakan sesuatu yg dilarang untuk menjadi sarana menyebarkan islam…? Apa mungkin sunan bonang menyebarkan agama islam dengan cara seperti itu? Buktinya apa?
    Kalau mengetengahkan sebuah hadist yg jelas dunk riwayatnya …
    Maaf ya, saya banyak tanya… soalnya saya bukan dari golongan orang yg banyak tau seperti anda…

  3. menurut saya nyanyi2an dan puji2an beda bung,puji2an isinya muji nyanjung..kepadaALLOH,sholawat,dan ajakan kbaikan,kalo nyanyian ,kbanyakan sairnya,,batil,nipu,lebay,dll itu yg tidak boleh bung,,anda merendahkan ilmu sunan bonang,ngaca dulu deh,,km tinggal di mana????????????/

  4. Berdasarkan diskusi di atas dan di banyak tempat lainnya, maka nampak jelas bahwa puji-pujian sesungguhnya adalah suatu kebaikan, dan boleh saja dilakukan, dengan catatan tidak mengganggu orang yang sedang sholat, karena membaca al Qur’an saja tidak dibenarkan jika mengakibatkan terganggunya orang yang sedang sholat sunnah. Puji-pujian dilakukan dan sangat sesuai untuk masyarakat pedesaan yang agraris. Pada masa lalu, azhan dijadikan salah satu pertanda waktu. Mereka baru akan berhenti bekerja di ladang/sawah ketika mendengar azhan. Pada kondisi yang demikian, puji-pujian sangat tepat, untuk mengisi waktu dan menunggu jama’ah (dan imam) untuk sholat berjamaah. Bacaan pujia-pujian seperti disebutkan di atas memang betul-betul sangat lekat di desa saya dahulu. Selama masa puji-pujian itu, tidak ada orang yang sholat sunnah, jadi betul-betul menunggu jamaah (dan imam), kadang-kang mencapai puluhan menit. Di pesantren-pesantren NU, pujia-pujian juga berfungsi sebagai proses pembelajaran bagi para santri, disamping menunggu imam. Pada masa sekarang dan dalam situasi masyarakat perkotaan, dengan perumahan yang padat dan melimpahnya jumlah masjid, sehingga jarak rumah jamaah dengan masjid sangat dekat, dengan tingkat kesibukan jamaah yang tinggi, maka puji-pujian sering dipertanyakan keberadaan dan kebaikannya, terlebih jika dikumandangkan menggunakan pengeras suara yang teramat keras, padahal jamaahnya jelas-jelas sudah di masjid dan sedang sholat sunnah. Jama’ah masjid di perkotaan (karena dekat dengan masjid), umumnya bergegas ke masjid dan bahkan (sebagian) telah sampai di masjid sebelum azhan selesai, untuk kemudian melaksanakan sholat sunnah. Saya berpendapat, jika jamaah (dan juga imam) sudah berkumpul di masjid dan sedang melaksanakan sholat sunnah, maka puji-pujian dengan suara keras (menggunakan pengeras suara luar) sungguh tidak diperlukan. Bukan karena puji-pujian itu terlarang, tetapi justru karena berpotensi mengganggu kekhusuan sholat, sebagaimana terlarangnya membaca Al Qur’an ketika mengganggu orang yang sedang sholat sunnah. Pada kondisi demikian, puji-pujian dengan suara lembut yang hanya didengar oleh telinga kita, zhikir, berdoa kiranya akan lebih utama dan mulia. Di samping itu, tingkat kesibukan masyarakat perkotaan juga perlu dipertimbangkan. Betapa gelisahnya jamaah yang ingin sholat berjamaah, tetapi di masjid masih puji-pujian, padahal ia harus bergegas ke bandara untuk menunaikan kewajibannya yang lain di luar kota. Jadi, pada situasi di perkotaan dengan kesibukan masyarakat Islam yang tinggi, banyaknya masjid sehingga saling berdekatan (sehingga sering kali suara pengerasnya bersahut-sahutan), dan jamaah (dan imam) telah pula berada di masjid, berlama-lama dan menggunakan pengeras suara (dalam dan luar) untuk puji-pujian sebaiknya tidak dilakukan, karena potensi mudharatnya lebih besar.
    Demikian, semoga bermanfaat.