Mampir di Pos Ketan, sebelah timur Alun-Alun Kota Batu merupakan pengalaman yang hebat. Entah kenapa warung kecil yang menjual ketan, gorengan, kopi dan teh ini dikenal dengan nama Pos Ketan. Barangkali karena lokasinya yang berdekatan dengan Pos Ketertiban Alun-Alun Kota Batu. Barangkali juga karena riwayatnya yang sudah berusia sekitar sepertiga abad.

Menikmati ketan di Pos Ketan seperti sedang berendam hening di tengah hiruk pikuk keramaian pusat Kota Batu. Memang, warung tersebut tak berdinding kedap suara. hanya ada dua lembar colibright berhiaskan aneka rupa. Pemasangan colibright pun terkesan sekenanya, hanya agar para pembeli ketan tertutupi oleh orang yang lalu lalang di sekitar Alun-Alun Kota Batu. Namun, saat singgah di dalam Pos Ketan, pengunjung seolah dipaksa melupakan berjalannya waktu: ketika menyuil ketan berbumbu dan menyeruput segelas kopi panas.

Penjualnya, Mbah Semi (usianya sekitar 65 tahun) tampak cekatan melayani pesanan pengunjung, dengan keramahan khas wong mBatu. Sambil sesekali membenahi bakul ketan, dilayaninya pengunjung yang ingin bertanya ini dan itu seputar alun-alun Kota Batu, atau juga tentang Pos Ketan yang setia dijaganya.

Ah, Pos Ketan Alun-Alun Batu. Akankah oase di tengah absurditas Kota Batu itu akan tetap bertahan?