Judul: Rustom
Sutradara: Tinu Suresh Desai
Pemain: Akshay Kumar, Ileana D’Cruz, Esha Gupta dan Manoj Bajpayee
Produksi: Cape of God Films
Rilis: 12 Agustus 2016

Suatu ketika, jika Anda mengetahui istri Anda selingkuh, apa yang akan Anda lakukan? Diam dan menangis? Memarahi dan memukuli lalu menceraikannya? Atau bahkan melakukan tindakan yang lebih dari itu semua?

Sebelum menjawab, kiranya kita semua patut berdoa agar hal tersebut tidak pernah terjadi. Tidak ada yang mengenakkan dari yang namanya pengkhianatan. Apalagi konteksnya berbicara masalah hati. Namun, sebelum Anda memberikan penghakiman, Anda patut menyimak resensi film berjudul Rustom ini. Mengapa? Karena Anda akan diberikan salah satu contoh kasus sebagaimana pertanyaan di atas.

Jalan Cerita

Rustom adalah seorang prajurit angkatan laut India yang pangkatnya sudah tinggi. Sepanjang meniti karir di dunia militer, ia tidak pernah berbuat hal-hal buruk. Ia juga tidak pernah lari dari tanggung jawab. Baik sebagai prajurit maupun sebagai laki-laki (suami).

Suatu ketika, pasca kepulangannya berlayar selama enam bulan, ia bercepat-cepat kembali ke rumah untuk menemui istrinya (Cynthia). Nahas, di rumah, bukan senyuman sang istri yang ia dapati. Melainkan fakta bahwa istrinya tengah memadu kasih dengan salah satu temannya.

Tak ayal, kejadian tersebut membuat Rustom naik pitam. Ia geram dan memarahi istrinya. Beberapa saat setelahnya, ia langsung mendatangi Vikram, selingkuhan istrinya. Tanpa banyak bicara, tiga buah peluru melesat masuk ke dalam tubuh Vikram. Ia mati seketika di tangan Rustom.

Setelah kejadian tersebut, Rustom kemudian pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Kejadian tersebut sempat menghebohkan pihak kepolisian dan angkatan laut India. Rustom pun di penjara.

Di pengadilan, Rustom memilih untuk tidak menyewa pengacara. Ia bermaksud menjadi pengacara untuk dirinya sendiri. Sementara itu, di pihak lain, keluarga Vikram menyewa pengacara terbaik di Bombay (Sekarang berganti nama menjadi Mumbai).

Hampir satu pertiga film ini kemudian berlanjut dengan adegan flashback untuk menggambarkan penjelasan Rustom dan pengacara korban. Rustom memberikan bukti-bukti untuk memperkuat bahwa dirinya tidak bersalah. Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk mempertahankan diri.

Adegan penuh perdebatan dan saling memutar otak banyak tersaji. Hingga pada akhirnya, para juri (kala itu masih menggunakan juri untuk menentukan salah benar) saling berdebat-membela dan menyalahkan Rustom. Dan di akhir cerita, Rustom dinyatakan tidak bersalah. Sembari tersenyum, ia pulang dan merangkul istrinya.

Hukum versus Kemanusiaan

Film yang konon disadur dari kisah nyata pada tahun 1959 ini nampak apik disajikan. Apalagi untuk mereka yang menyukai film-film dengan genre drama-misteri dengan balutan perdebatan. Film berdurasi 147 menit ini akan terasa yahud disaksikan.

Lebih jauh, film ini menjelaskan bagaimana konflik yang banyak terjadi di masyarakat. Pada suatu kejadian, pasti ada benturan antara beberapa pihak. Kasus Rustom dapat dijadikan contoh riil bagaimana suatu kondisi mendapatkan banyak komentar dari publik. Mereka yang berpikir dan berkomentar menggunakan otak dan logika pasti akan menyalahkan Rustom. Sedangkan mereka yang lebih memilih menggunakan hati nurani dan kemanusiaan akan membela Rustom sekuat tenaga.

Sekali lagi, ketika dan pasca menonton film ini, Anda akan diliputi kebingungan, meskipun bisa saya pastikan sebagian besar dari Anda akan memilih membela Rustom. Namun, lebih dari itu, saya pribadi lebih berani memastikan bahwa sedikitpun dari Anda tidak akan berharap ada di posisi Rustom. Selamat menikmati dan selamat menjaga orang-orang yang Anda sayangi.

 

Sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/L83qMnbJ198/maxresdefault.jpg