Judul: Pesantren Masa Depan, Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren
Penulis: Sa’id Aqiel Siradj, dkk
Prolog: KH. Abdurrahman Wahid
Penerbit: Pustaka Hidayah, Bandung
Tahun: 1999
ISBN: 9799109191

Sebagai kekayaan kebudayaan intelektual, nampaknya pesantren saat ini mesti diletakkan pada posisi menentukan dalam memberikan kontribusinya pada proses pembangunan bangsa, terutama dalam pembangunan mentalitas manusia-manusia pembangunan. Ini berangkat dari catatan sejarah pesantren yang menggariskannya sebagai warisan kebudayaan.

Kehidupan yang Unik

Konstruksi budaya yang dibangun pesantren memang khas. Selain sebagai pusat pengembangan ilmu dan kebudayaan, pesantren lebih jauh dicita-citakan mampu menjadi motor penggerak transformasi, baik bagi komunitas masyarakatnya sendiri maupun lebih luas lagi. Didukung basis intelektual-religius yang dari mula bertahan dalam ajaran-ajaran Islam ala Sunni (Ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah) melalui Kitab Kuning (al-kutub al-qadimah), pesantren mulai menggerakkan fungsinya sebagai salah satu dari sekian banyak agen transformasi bangsa ini.

Pesantren merupakan sebuah kehidupan yang unik, dan dari sisi lokasinya, dapat dikatakan bahwa pesantren adalah sebuah kompleksitas lokasi yang umumnya terpisah dari kehidupan sekitarnya. Ini bisa kita buktikan bahwa bangunan pesantren berdiri dalam lokasi yang tertutup.

Seperti dijelaskan Abdurrahman Wahid, yang sekaligus menjadi pembuka dalam wacana buku ini, bahwa pondok pesantren dalam bacaan teknis merupakan suatu tempat yang dihuni oleh para santri. Sistem pendidikan yang digunakan lebih kurang mirip dengan sistem yang digunakan oleh sebuah akademi militer, di mana yang terjadi adalah integralisasi antara lingkungan dan substansi pendidikan yang diajarkan.

Pesantren adalah pusat (centre) pendidikan agama Islam dengan pengajian kitab-kitab klasik sebagai materi belajarnya. Pengasuhnya adalah seorang kiai sebagai figur sentral, atau dewan guru di bawah kiai dengan ukuran keahliannya menguasai bidang materi tertentu. Dalam hal kajian, materi yang bercorak klasik adalah yang paling menentukan karakter pesantren. Kajian tersebut meliputi kitab-kitab klasik atau kitab kuning warisan pemikir terdahulu. Kitab tersebut berfungsi sebagai dokumentasi perpustakaan khasanah ke-Islaman.

Tiga Elemen Penting

Pesantren memiliki tiga elemen penting (h.14):

  1. Pola kepemimpinan yang tidak terkooptasi oleh negara.
  2. Kitab-kitab rujukan yang selalu digunakan dari berbagai abad.
  3. Sistem nilai (value system) yang mengacu pada sistem nilai yang berkembang di dalam masyarakat itu sendiri.

Inilah yang menjadi pembeda penting dan tersendiri dengan sekolah-sekolah umum yang ada, di mana acap terjadi polarisasi yang tajam antara realitas dan materi pendidikan yang diajarkan.

Abdurrahman Wahid bahkan mengatakan bahwa pesantren berposisi sebagai subkultur tersendiri dalam pelataran kultural masyarakat dan bangsa Indonesia (h.7). Sehingga untuk bisa berjalan seiring dengan budaya modernitas (yang menurut Lucian W. Pye disebut sebagai budaya dunia) dan realitas negara-bangsa (nation-state), pesantren pun harus segera berbenah. Bersiap untuk menghadapinya. Hanya karena talenta otonom yang dimilikinya, pembenahan yang terjadi lebih terkesan masih agak konservatif.

Tapi konservatisme ini memunculkan ciri lain yang amat menonjol dari pesantren, yaitu kesederhanaan. Dari kesederhanaan itu, lebih jauh lagi masyarakat pesantren dituntut memahami perubahan di lingkungan sekitarnya. Ini diakibatkan fenomena tak terhindarkan bahwa sebuah lingkungan masyarakat sering tidak sejalan lagi dengan norma dan nilai-nilai agama. Pelbagai patologi sosial yang terjadi menjadi tanda bahwa kehidupan masyarakat jauh dari nilai-nilai agama.

Kecenderungan pesantren adalah kehidupan yang mandiri; baik secara ekonomi, sosial, bahkan politik –untuk kajian politik lihat tulisan Fajrul Falakh (h.163)–. Bagi pesantren sendiri, ini dimaksudkan untuk menunjang proses belajar mengajar dan transfer ilmu yang ada. Proses yang demikian ini, lebih lanjut meletakkan pesantren identik dengan pemahaman dogmatis-eksklusif. Pesantren juga sering dikatakan sebagai kelompok pemegang tradisi kuno.

Pesantren dengan komposisi kiai, para ustadz atau dewan guru, santri atau murid, serta semua elemen yang ada di dalamnya, sebenarnya merupakan keunikan dunia pesantren. Faktor lingkungan yang berbeda inilah yang membuat masyarakat pesantren, tampaknya, semakin menemukan jati diri yang sebenarnya dalam kehidupan. Pesantren berusaha untuk membuat kehidupan yang imbang dalam hal spiritual dan dinamika relasi sosial.

Sai’id Aqiel Siradj membuka buku ini dengan menawarkan khazanah pemikiran Islam dan peradaban modern. Dengan mengajukan ayat: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri”, ia menyebut bahwa signifikansi ayat tersebut adalah untuk memotivasi umat untuk selalu berpacu dengan segala transformasi dan kemodernan. Lanjutnya, seperti dikutip dari Junayd al-Baghdadi dalam kata-kata mutiaranya:

“Sufi itu anak zaman, ia bagaikan air yang tidak punya warna. Warnanya bergantung pada warna tempatnya” (h.33).

Jika banyak anggapan yang mengatakan bahwa pesantren itu identik dengan tradisionalisme dan dogma-dogma kuno, barangkali ini tidak sama dengan kesan ketika membaca buku ini. Kelebihannya, para penulis buku bunga rampai ini adalah mereka-mereka yang akrab dan setiap hari bergelut dengan dunia pesantren (insider). Diskursus kemodernan banyak ditawarkan dalam keping-keping tulisan yang ditawarkan oleh mayoritas penulis asal Cirebon ini. Ini yang kemudian menyimpulkan pada kita bahwa pesantren adalah wacana yang hidup. Pesantren akan selalu aktual dan menarik untuk diperbincangkan. Ia multidimensional.

Kebanggaan nilai-nilai tradisionalnya berhadap-hadapan dengan nilai-nilai modernitas diulas banyak. Mereka mengatakan bahwa nilai tradisional adalah nilai yang bertahan hidup dan acap dipandang sebagai nilai alternatif yang diperlukan untuk hidup. Beda dengan nilai modern yang acapkali justru mempersoalkan tradisi dan kerap menjenuhkan.

***

MESKI buku bunga rampai, kelengkapan lain yang jarang dimiliki buku bunga rampai seangkatannya adalah keseriusan dalam pengerjaannya. Indeks, footnote, dan daftar pustaka dalam setiap tulisan dihadirkan dan menjadi nilai tambah tersendiri buku ini. Hanya seperti lazimnya buku bunga rampai, ia terkesan kurang memberikan fokus atau titik di mana pembahasan ditekankan. Ini tentu saja menyulitkan pembaca menemukan korelasi yang tepat antar setiap tulisan. Meski keuntungan yang lain, pembaca bisa membaca dengan sepotong-potong dan santai.

Tapi yang jelas, yang berulang-ulang ditekankan dalam banyak kalimat di buku ini adalah bahwa pesantren, dengan ciri khas yang dimilikinya, dengan komposisi yang unik, adalah institusi non-negara yang diharapkan mampu mewujudkan setiap agenda transformasi masyarakat. Dan inilah kontribusi pemikiran penting buku ini.

Ilustrasi gambar pesantren, The Pesantren Mosque in Buntet: http://press.anu.edu.au/islamic/itc/images/plate36.jpg

1 COMMENT

  1. […] Hidup di dunia pesantren merupakan sebuah nikmat yang tak mungkin bisa dilupakan. Perihal belajar seluk beluk hidup dibawah naungan instansi agama, menjadikan seseorang lebih baik dan bijaksana. Mengambil kebiasaan baru yang baik, beriringan dengan meneruskan kebiasaan lama yang masih apik. Biasanya sih ya, biasanya. Ada kok beberapa santri yang setelah graduate malah keblinger. […]