Judul: Perlawanan Kiai Desa, Pemikiran dan Gerakan KH Ahmad Rifa’i Kalisalak
Penulis: Dr. Abdul Djamil
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Tahun: 2001
ISBN: 979896697X

 

rifaiyah kali salakJika ada sebuah gerakan keagamaan di Indonesia yang solid, eksklusif dan memiliki perkembangan yang cukup signifikan, tentulah Gerakan Rifa’iyah bisa kita ambil sebagai contoh. Gerakan ini berdiri bahkan jauh sebelum gerakan-gerakan Islam lain berdiri seperti Nahdlatul Ulama’ (NU) dan Muhammadiyah.

Sebagai gerakan yang acap mendapat cap negatif baik dari pemerintah maupun dari kelompok yang lain, gerakan ini bisa dikatakan memiliki kemandirian dalam konsolidasi yang bisa dibuktikan dengan sejumlah pertemuan besar yang mereka selenggarakan. Secara sederhana bisa disimpulkan bahwa tipologi gerakan keagamaan yang satu ini adalah bergerak di sisi budaya yang kerap menciptakan isolasi kultural atas kekuasaan.

Protes Diam

Cara yang dilakukan adalah dengan protes secara diam (silent protest) dan atau menolak segala sesuatu yang “berbau” pemerintah. Hal ini mengakibatkan perkembangan gerakan ini terlihat sangat eksklusif, menyendiri, berada di pelosok-pelosok desa dan akrab dengan sebutan gerakan tradisional.

Kendatipun seperti itu, toh pemerintah dari zaman kolonial Belanda sampai Orba pun takut dengan radikalisme yang menjadi karakter gerakan ini. Sampai-sampai di akhir perjuangannya, KH. Ahmad Rifa’i sebagai titik mula gerakan ini, harus rela dibuang ke Ambon –di masa Belanda.

Dalam kaitannya dengan Belanda, sikap nonkooperasi merupakan bentuk lain dari upaya menentang penjajahannya dalam bentuk perlawanan nonfisik. Bahkan, sikap bekerja sama dengan pemerintah dianggap sebagai pelanggaran atas ajaran agama, sebab hal itu dikaitkan dengan agama yang dipeluk oleh para penjajah itu. Karenanya jugalah, Sartono Kartodirjo menyebut gerakan ini sebagai “gerakan sektarian”, dengan karakter utama menolak masyarakat yang telah mapan (hlm. xxi). “Sektarianisme” ini cukup beralasan dikatakan lantaran pada seluruh wilayah ajaran dari gerakan ini, sama sekali menolak keterlibatan pemerintah –siapapun pemerintah yang berkuasa tersebut.

Asal Usul Gerakan

Asal-usul gerakan ini bisa dilacak secara historis dari perjalanan hidup sang tokoh pendiri gerakan ini. Kebanyakan dahulu kala di Jawa, seorang ulama’ yang pergi haji ke Makkah, tidak langsung pulang tetapi terlebih dahulu menimba ilmu di negeri sana.

Demikian pula yang dilakukan oleh KH. Ahmad Rifa’i. Sepulang dari Makkah ia pulang ke Kendal Jawa Tengah. Namun setelah menikah dengan janda dari Demang Kalisalak (salah satu desa di Batang), ia pindah ke wilayah itu dan mendirikan pesantren di sana (hlm. 16).

Pada awalnya pesantren ini hanya dikunjungi oleh anak-anak, akan tetapi pada perkembangan berikutnya, banyak pula orang dewasa yang datang dari berbagai daerah. Mereka inilah yang lantas dianggap sebagai murid generasi pertama yang berjasa menyebarkan ajaran KH. Ahmad Rifa’i ke luar daerah Batang dan berkembang hingga sekarang.

Kegiatan belajar-mengajar di Kalisalak ini lambat laun menjadi komunitas keagamaan yang memiliki karakter berbeda dengan gerakan keagamaan pada umumnya, terutama yang menyangkut sikap terhadap pemerintah (hlm. 182). Keeratan hubungan antara santri dan gurunya juga merupakan ciri lain yang menunjukkan soliditas yang cukup kuat. Mereka bahkan menganggap anggota yang lain sebagai keluarga sendiri, sebuah tradisi yang masih lekat hingga sekarang.

Hal ini tak lain merupakan manifestasi dari ajaran tentang ‘alim dan ‘adil yang senantiasa wajib menjadi pedoman hidup. Ajaran tentang sikap hidup itu dapat diperiksa melalui puluhan kitab KH Ahmad Rifa’i yang ditulis semasa hidupnya. Jumlahnya kurang lebih ada 53 kitab yang berkaitan dengan ajaran Aqidah, Syari’ah dan Tasawuf. Ada juga yang menyebut sebanyak 69 kitab, yang terdiri dari 62 berbahasa Jawa dan 7 di antaranya berbahasa Melayu yang ditulis di Ambon (sepanjang masa pembuangan) (hlm. 22). Umumnya kitab-kitab itu merujuk dari kitab berbahasa Arab, sebagai kitab yang pernah dipelajari oleh KH. Ahmad Rifa’i.

Perlawanan terhadap Kolonialisme

Yang paling menonjol dari berbagai kitab yang ada itu adalah perlawanannya yang cukup kuat terhadap kolonialisme atau imperialisme, yang diperankan oleh pemerintah. Di masa itu adalah pemerintah Belanda. Namun sayangnya interpretasi ajaran Rifa’iyah ini tidak mengalami dinamika yang menunjang perkembangan berikutnya, sehingga banyak yang mengatakan bahwa gerakan Rifa’iyah cenderung statis. Hal ini tidak berlaku seperti NU atau Muhammadiyah yang terus-menerus melakukan interpretasi atas dogma dasarnya.

Di sisi lain gerakan islam Rifa’iyah bukan semata-mata gerakan protes terhadap kolonialisme, tetapi juga berbentuk gerakan agama tradisional yang memiliki implikasi sosial dan politis. Aspek keagamaannya bisa kita runut dari ajaran-ajarannya mengenai bidang Ushuluddin, Fiqh dan Tasawuf.

***

BUKU yang pada mulanya adalah hasil-hasil penelitian sejarah dalam disertasi ini cukup komprehensif membahas Rifa’iyah. Buku ini memiliki tujuan untuk merekonstruksi sejarah dari aspek yang lain, yakni terhadap pemikiran dan gerakan Islam KH Ahmad Rifa’i dari tahun 1786 sampai dengan 1876 –sebuah rentang sejarah di mana Indonesia belum memiliki namanya sebagai ‘Indonesia’.

Buku ini mengulas tiga hal pokok, yakni (1) Tipologi pemikiran Islam di bidang Ushul, Fiqh dan Tasawuf KH. Ahmad Rifai, (2) Dinamika gerakan Rifa’iyah selama pra dan pascapembuangannya ke Ambon, dan (3) Bagaimana tipologi pemikiran dan gerakannya terutama yang berkaitan dengan isolasi terhadap kolonialisme.

Hasil penelitian ini menyimpulkan hal-hal berikut ini: (1) Bahwa KH Ahmad Rifa’i adalah tokoh sentral dalam dari jama’ah Rifa’iyah Tarajumah yang memiliki sumbangan besar dalam pemikiran Islam tradisional selama abad ke-19, (2) Tipologi pemikirannya yang menegaskan dasar Ahulussunah wal Jama’ah, (3) Meski hasil pemikiran tersebut terbatas dipraktikkan oleh pengikutnya saja, namun tetap memiliki korelasi dengan kebutuhan masyarakat di zaman tersebut, dan (4) KH. Ahmad Rifa’i memiliki andil dalam menciptakan kebudayaan untuk mengisolasi dari kolonialisme, terlepas baik dan buruk cara ‘isolasi’ tersebut.

Karenanya cukup pantas ketika penulisnya memberi judul yang mencolok, “Perlawanan Kiai Desa”.