Judul: Operasi Trisula
Sutradara: B.Z Kadaryono
Pemain: Adang Mansyur, Arie Sandjaja, Eva Rosdiana Dewi, Hassan Sanusi, Jeffry Sani, Kusno Arief Saputro, Lina Budiarti, Yati Surachman, Rachmat Kartolo, Rudy Gozali
Produksi: Pusat Produksi Film Negara Departemen Penerangan RI
Tahun: 1983

Pasca lengsernya orde lama, pergolakan di negara ini tak langsung berhenti. Bibit-bibit “pemberontakan” atas ketidakcocokan terhadap pemerintahan orde baru bermunculan hampir di seluruh pelosok negeri. PKI misalnya, salah satu gerakan yang sempat mewarnai pergolakan diawal kemerdekaan republik ini.

Pergolakan mengenai sejarah PKI adalah cerita berkepanjangan dan berkelanjutan. Jauh sebelum Indonesia merdeka pun, PKI sudah mewarnai keberadaan masyarakat Indonesia. Pasca tragedi G 30 S PKI, sisa-sisa anggota PKI bergeser ke sekian wilayah yang dianggap aman untuk melanjutkan operasi mereka. Salah satu daerah yang dijadikan rujukan adalah Blitar. Itulah mengapa Blitar hingga saat ini terstereotip menjadi salah satu “kandang” pedotan PKI. Pada tahun 1968, pemerintah orde baru melakukan sebuah operasi untuk memberantas keberadaan PKI yang ada di Blitar. Operasi ini dinamakan Operasi Trisula.

Kisah ini kemudian dijadikan film dengan judul yang sama dibawah komando sutradara B.Z. Kadaryono. Hampir sama dengan kejadian asli yang umumnya dipahami masyarakat, keberadaan PKI yang menjelma menjadi “hama” di tengah-tengah masyarakat makin hari makin menjadi-jadi. Para petani diajak untuk masuk ke dalam BTI (Barisan Tani Indonesia), juga para buruh dipengaruhi untuk masuk ke SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Tak hanya dua badan tersebut, PKI juga mendirikan SPR (Sekolah Perlawanan Rakyat). Upaya-upaya lain seperti pelatihan dan persenjataan mantan preman juga dilakukan untuk melawan pemerintah.

Film dengan durasi sekitar satu 100 menit ini secara detail menceritakan bagaimana pergerakan dan upaya-upaya yang dilakukan oleh PKI. Ajaran Mao Zedong tentang “Dari desa mengepung kota” menjadi landasan gerakan mereka. Tak jarang pula mereka melakukan kekerasan dan pembunuhan. Sabotase-sabotase dilakukan untuk menyegel wilayah Blitar Selatan dari campur tangan pemerintah.

Mendapati hal tersebut, pemerintah orde baru melalui angkatan darat Pangdam Brawijaya V memulai operasi menumpasan pemberontakan. Operasi tersebut dinamai dengan Operasi Trisula, karena letak wilayah segitiga antara Blitar selatan, Malang dan Kediri.

Dengan persenjataan lengkap, para pasukan menyergap dan menangkap anggota PKI. Beberapa warga yang disinyalir termasuk bagian dari BTI juga tak lupa diangkut menuju tempat penampungan PKI. Operasi ini juga menewaskan beberapa pimpinan PKI seperti Ir Surachman dan Oloan Hutapea.

Analisis Diskusi Reboan

Secara garis besar, gerakan PKI di Indonesia memiliki dua pendekatan yang berbeda, PKI ala Muso dan PKI nya Aidit. PKI versi Muso pada tahun 1948 berkiblat pada Rusia dengan Kom Intern. Sedangkan, PKI versi Aidit 1965 lebih memilih menerapkan komunis versi Indonesia sendiri.

Jika merujuk sejarah yang banyak dikatakan lebih “shahih”,  BTI, Gerwani, Lekra dan SOBSI bukanlah bentukan PKI. Karena kesamaan gerakan dan ideologi, akhirnya mereka mendapat dukungan PKI.

Lebih jauh, keberadaan PKI sebagai parpol juga dinyana mampu menjadi penghambat status quo di masa depan. Apalagi, pada zaman tersebut, PKI adalah organ yang memiliki struktur paling lengkap dari tataran pusat hingga grassroot. Belum lagi kekuatan persenjataan dan hegemoni pihak CIA maupun CCF.

Melalui film ini, Orde baru nampak melakukan simplifikasi proses pemberangusan PKI. Peranan besar dari elemen non pemerintah sedikitpun tak ditampakkan. Kesuksesan pemberantasan PKI hanya menjadi milik pemerintah melalui tentara semata. Beberapa organisasi kemasyarakatan yang juga turut berjasa hanya ditampilkan dalam istilah “bantuan dan kerjasama masyarakat”.

Alur cerita yang tidak jelas dan tidak adanya tokoh yang ditonjolkan, menambah sisi negatif film ini. Praktis hanya ada sosok Rahmad yang tampil di awal dan di akhir film. Jika pun ia tak ditampakkan, alur cerita tak akan terganggu. Totalitas para aktor dalam film ini juga layak diragukan. Pasalnya dalam beberapa adegan pembunuhan, para penonton justru tertawa dibuatnya.

Sumber gambar: smpn2kademangan-blitar.blogspot.com