“Dunia Maya telah merubuhkan kekakuan kata-kata yang selama ini dimiliki oleh para penguasa yang berlindung dalam singasana kata, namun dunia adalah evolusi yang tiada henti walau akhir dunia itu sendiri seakan-akan begitu dekat dengan mata.”

Mungkin sekiranya kata-kata diatas adalah salah-satu bentuk perwujudan dari begitu luar biasanya evolusi, yang memunculkan perubahan-perubahan pemikiran yang tidak dapat dicegah walau sedetikpun. Kota-kota besar di negeri Timur Tengah adalah dampak yang nyata, bagaimana perjuangan dan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan begitu mudah digulirkan dan hanya dengan kata-kata yang terjemur dalam layar yang menyala-nyala di berbagai belahan dunia.

Namun tidak usah kita pikirkan perihal-perihal tersebut dengan aura yang menggelora dengan syahwat yang membuncah kemana-mana, mari arahkan padangan mata pada dua karya anak manusia. Tentang rasa-rasa yang berolah dalam karya, yang mana dibebaskannya kita semua untuk mengapresiasi dengan kebebasan yang sebesar-besarnya untuk mengeksplorasi kelima indera dari masing-masing manusia itu sendiri.

Karya anak manusia (1)

BAIKLAH JIKA MESTI DITAMBAH SEDIKIT GULA;
oleh Kurniawan Yunianto pada 17 Mei 2011 jam 3:55

kepadamu lalu kubilang sudah terbiasa

tujuh hari tujuh malam tidak makan

tidak minum tidak tidur menunggu kematian

kematian yang enggan hadir menuruti keinginan

barangkali kerna aku masih dalam kebosanan

dalam penantian sepenuh harap melepas tanggung jawab

atau memang maut tak pernah tahu keberadaanku

tapi bukankah sudah begitu lama

menelan ludah menipu perut menyangkal mata

hingga hanya kepandaian yang didapatkan

tanpa pernah ngerti nilai yang tertulis di hati mulai memerah

menyalakan semua yang dianggap harta

pun aku tiada malu lagi meledakkan marah dengan tawa

terkekeh seperti kereta api lewat di samping telinga

dengan rangkaian gerbong tak habishabis

mengangkut sekumpulan Penyakit yang paling akut

sekian Keinginan masih menarinari di atas bara

panas yang membuatku ketagihan

tak henti mengeluselus kelamin sendiri

kemudian kubanggakan sebagai cinta dan kebijaksanaan

heii apakah muslihatku masih kurang meyakinkan

belumkah mirip iblis berpayudara jelita

dengan kemaluannya yang manis dan panjang
15.05.2011

Karya anak manusia (2)
TARIAN RUMPUN BAMBU;
Oleh Ronall J Warsa pada 12 Mei 2011 jam 16:31.

Senja sekarang tiada sama dengan senja-senja mendatang

separuh tenaga habis saat siang menjelang

separuh tenaga sebentar lagi hilang ketika petang datang

sangat dekat tapi tiada pernah terucap dikala senggang.

Sesal selalu datang bertamu, takkala mata membuka pintu

selamat datang menjadi penghangat walau sepi berurai bisu

selamat tinggal menjadi perkara yang tak habis dimakan waktu

segenggam harap, tersirat dari tarian rumpun bambu.

Bukit Pelangi, 12 Mei 2011.

Dari kedua karya tersebut, apakah yang hadir dalam benak para pembaca setelah memandangnya sembari tertidur. Kembali aku serahkan pada kalian untuk memperlakukan kedua karya tersebut, kiranya kemudian menjadi sia-sia belaka, maka segala permohonan maaf saya haturkan. Memang ini kata bukanlah sesuatu yang dekat dengan segala kitab-kitab yang kalian yakini selama ini sebagai penerang hidup.

Dalam pandangan Hudan Hidayat tentang kedua puisi tersebut, dijelaskan lebih detail agar dapat dipahami para pembaca tentang pemaknaan dari perihal yang tersembunyi dibalik kata-kata yang nampak terbuka lagi mudah untuk dicerna.

 

Puisi di prosa kurniawan dan ronall – lapar

Kalau prosa menerangjelaskan, maka puisi mengisap keterangan itu dengan meletakkannya ke dunia permainan di mana kata kata, saat dihubung-hubungkan satu dengan yang lain, seolah menahan apa yang hendak disampaikan oleh sang penyair. apa yang hendak disampaikan oleh sang penyair, adalah dunia pengalaman sehari hari juga. seperti kekayaan media massa kita kini: saban hari menggelar dunia pengalama keseharian kita sebagai warga suatu negeri. dalam konteks menerangjelaskan, dalam saat yang terang itu diisap kembali sehingga ia menjadi samar samar, maka dua titik itu kini bertemu: titik fakta dan titik puisi. kerap kita yang mengamati media, kadang seolah orang menonton tinju atau bola: aduh mengapa tak langsung ditembak ke gawang saja, tapi lihatlah ronaldo menggerakkan kedua kakinya saling menebas ke kiri dan ke kanan seolah dua mata pedang, walau pedang kaki dan walau di lapangan bola lagi.

Gerakan kedua kaki ronaldo yang berselang seling itu, adalah gerakan penyamaran dari suatu permainan yang disembunyikan untuk, bila tiba saatnya, melakukan eksekusi yang kalau bisa berbuah goal untuk dirinya sendiri, kalau tak bisa ia akan mengoper ke kawannya yang lain untuk goal juga. dalam puisi apa yang hendak disimpan oleh sang penyair, dikerjakan melalui, kata yang diletakkan ke dalam asosiasi. dan untuk terjadinya asosiasi, kata yang dipertaruhkan oleh penyairnya. sangat mungkin, asosiasi ini, diletakkan oleh kebanyakan para penyair maya, adalah dengan jalan bukan pada kata tapi pada cerita. artinya kata kata benderang, tapi cerita disamarkan alias tak diceritakan secara lugas gamblang, akan mengapanya. sebaliknya kata dipakai benderang di sana. kalau kita mengamati tarian rumpun bambu ronall j warsa, maka terlihat betapa kata ke kata di sana tak menyimpan misteri-nya, tapi jelas terang. tapi bukan tak ada asosiasi di sana, atau, keterangan bahasa puisi di puisi itu kita rujukkan pada cerita-nya. tapi dengan ini pun, penyebab mengapa cerita itu terjadi tak dijelaskan oleh penyair. maka di sinilah puisi (dan puisi pada umumnya) berpisah dengan prosa. lihatlah bait pertama puisi ronall: “Senja sekarang tiada sama dengan senja-senja mendatang/separuh tenaga habis saat siang menjelang/separuh tenaga sebentar lagi hilang ketika petang datang/sangat dekat tapi tiada pernah terucap dikala senggang.”

Rasanya kita tak kesulitan untuk menangkap asosiatif ronall dengan seberang menyeberang dua waktu di bait pertama puisinya itu. bahwa manusia menghabiskan waktu dalam hidupnya ke dalam putaran waktu yang melelahkan dirinya – apa yang dikerjakan sehingga badan manusia menjadi lelah? inilah yang saya katakan disembunyikan oleh penyair. dan inilah dia (kata definisi) puisi itu. definisi yang boleh kita hubungkan, dalam pengertian negara dan warganya, dalam soal orientasi kerja atau pekerjaan yang saling memberi dan menerima: negara menyediakan pekerjaan bagi warganya, warganya bekerja bagi negerinya. orang boleh mengacungkan timbangan untuk suatu kegiatan seperti itu: telah proporsionalkah fungsi dari dari masing masing. proporsionalitas yang tak dimasuki oleh kebanyakan penyair, kecuali ekses dari kenyataan yang langsung dibawa penyair ke dalam, atau menjadi, fakta dalam bahasa – fakta puitik, fakta imajinatif.

Boleh jadi layak untuk dipertimbangkan: fakta dari fakta sebagai kenyataan yang diceritakan dalam puisi, bukan fakta yang samar. boleh jadi pula fakta semacam ini sangat kaya di negeri kita dan kerja kesenian seperti itu, sangat mungkin kelak akan menghasilkan fakta dari kehidupan yang menggetarkan ke dalam bahasa. misal seperti yang dikerjakan oleh havelaar dalam kisah romantik dan tragisnya: max haveelar – novel sejarah yang membawa fakta nyata itu. ini penting dan tak penting. penting sebagai cara menguji cobakan diri dalam menangani fakta fakta sebagai kenyataan, membawanya ke dalam bahasa dan meletakkannya ke dalam hukum sastra. tapi manakala fakta seperti ini tak berhasil, misal ia menjadi kehilangan tenaga imajinasi, kering, dan tak menarik, maka orang boleh bergerak bebas ke imajinasinya sendiri: ia melampaui segundukan fakta dan kini mulai membentukkannya dengan melepaskan aspek dari kisah nyatanya. semua itu akhirnya terpulang kepada hukum sastra atau estetika juga.

Baiklah kita mengikuti tarian ronall j warsa, tarian rumpun bambu, dan tak ada fakta spesifik di situ. bahwa itu fakta orang ramai yang terlibat dalam waktu di hidupnya. sekalipun sifat terang tiap katanya, bagiku puisi ronall itu amatlah menarik hati. keberhasilannya menjadi wakil dari hidup kita juga, terjadi dengan betapa kata di sana menjadi penampung dari emosi: ia tak kering, tapi basah oleh derita hidup yang diceritakan, akibat dipakainya kata kata, secara elegan. ada kedalaman dari ucapan seperti itu – bukan kering dan apalagi dunia kecengengan. kata kata di sana membawa waktu, menaklukkan waktu ke dalam orientasi nilai yang lebih besar dari waktu. manusia mengatasi waktu dengan menceritakan dirinya yang terbelah dua: lelah di siang dan lelah di petang. tentulah bukan lelah yang sia sia. orang memiliki keluarga dan keluarganya memerlukan kecukupan dalam hidup. maka ada celah untuk bermain imajinasi: barangkali aku yang terlibat dalam dua waktu pada puisi ronall adalah tukang batu, atau kuli bangunan, atau mungkin kelas menengah dan atas, yang dipaksa melalui dua waktu: waktu siang dan waktu senja. siapakah yang bisa memby pass dua waktu itu? tak ada. kita harus melaluinya, suka dan tak suka. superman atau orang kuat, uberman nietzsche misalnya, pun akan melalui waktu waktu juga dalam hidup. dan sekuat apapun orang ada juga lelahnya. maka ronall berhasil menjadi wakil kita menceritakan kelelahan manusia melalui waktu dalam hidupnya.

Apa yang menarik di bait awal itu, walau ia tampak terang kata katanya, ternyata kata kata yang dipakai ronall membuatkan lubang dengan rongga rongga lubang yang bisa kita masuki. kita menimbang satu rongga tapi lalu rongga lain yang datang. sejak baris pertama itu rongga tampaknya memiliki kemungkinan banyak lubang lubang makna. maka apakah artinya baris pertama itu? “Senja sekarang tiada sama dengan senja-senja mendatang”. pertama kita terpesona dengan dipakainya waktu senja, yang langsung mengisap kita dengan dunia dalam keadaan darurat: hendak malam kita harus bersiap. yang miskin hidupkanlah lampu minyakmu. yang kaya tekanlah saklar sehingga lampu lampu kristal kita menyala. ini di dunia fisik. tapi di dunia batin kata senja, membuat kita melambai hampa menyaksikan rambut yang telah memutih, badan telah renta dan, aduh kosongnya, bahwa kita di suatu waktu kelak akan meninggalkan semua yang menjadi milik ini. kategori fromm kini pudar: bukan soal memiliki atau menjadi lagi. tapi senja: waktu mati. tapi mengapa senja seperti itu tak menemui lubang ini: waktu mati? tampaknya penyairnya menahan tak memasuki lubang ini: waktu mati. ia tahan, ia isap, mati itu ke dalam kata kata dari dunia bimbang: senja sekarang tiada sama dengan senja mendatang. jadi masih ada pergerakan dalam hidup: senja saat ini tak sama dengan senja kelak lagi: senja mati? bukan. tapi senja dari hari hari yang bergulir di dua puluh empat jam itu. di mana tubuh seolah lilin: pagi hingga siang telur itik yang kita makan telah habis tenaganya, karena beban di pundak kita itu. dan siang merambat ke petang telah mengisap pula makan siang yang baru saja kita telan itu. begitulah hidup: masuk tenaga keluar tenaga. tapi hidup dalam bahasa, tempat penyair meletakkan semua fakta itu ke dalam ucapan puisi dengan keindahan yang keluar dari permainan bunyi, dari hidup yang diwakilkan ke dalam dunia kata kata.

Tapi lalu di mana bedanya senja sekarang dengan senja mendatang itu, kalau isinya adalah pergerakan waktu dengan pergerakan tubuh yang kehabisan tenaganya tiap bergeraknya waktu. tidakkah kata pertama itu harus disusul oleh kata ke dua? maksud saya baris pertama itu meluncur dan lucurannya harus berkorelasi dengan baris kedua, ketiga dan seterusnya, sehingga bait itu selesai. apakah beda tak sama itu adalah pergerakan dari tiap pagi siang dan petang yang bernuansa lain? mungkin hari ini hujan dan mungkin besok kita pilu: telah hendak patah pundak kita tapi spp anak tak juga terbayar dari gaji pekerjaan dengan kata senja itu – maafkan saya menerobos dengan membawa beban orang ramai, karena tak jelas apakah yang sebenarnya yang menjadi beban senja penyair ronall – tak jelas dari suatu kata: berhasil sebagai puisi yang bukanlah prosa.

Apakah yang sangat dekat di baris ke empat puisi ronall dan apakah yang hendak diucapkan di kala senggang di sana? pagi siang petang memang ada jeda dalam tiap waktu manusia: jeda makan jeda mengambil ruang melamun walau tangan sibuk bekerja misalnya. tapi jeda ini hendak diisi apa oleh sang penyair? apa yang sangat dekat yang musti diucapkan di senggang waktu dari hidup kita itu? waktu yang sambung menyambungkah yang disebutkan oleh penyair sebagai sangat dekat? waktu itu tak kelihatan sambungannya. seolah hujan: tak ketahuan mana titik pertama dan titik kedua kalau hujan sudah menderas. atau senja itu wakil dari kata yang diam diam disembunyikan dalam hati: sudah dekat ajalmu maka tiap yang kau upayakan terasa sia sia belaka? orang akan menuduh kita telah melakukan anakronisma dalam bahasa kalau melakukan permainan kemungkinan seperti ini: puisi harus dihela sesuai kata-nya. dan tak ada kata maut dalam segenap gugus kata yang dipakai oleh penyair ronall. tapi kata orang hidup adalah kebebasan dan kebebasan adalah demokrasi dan, yang paling penting, hidup adalah suasana hati kita sendiri. maka bahan dalam hidup bisa menjadi umpan yang boleh kita pakai sesuai keadaan jiwa raga kita saat bertemu dengan bahasa. seperti itukah keadaan kritik sastra? entahlah semuanya terpulang kepada kita masing masing saja.

 

Ronall dan kurniawan: mengapung

Keadaan mengapung tak tegak di bumi, tapi juga naik ke angkasa seolah cungkup manusia sufi yang terus naik menemui tuhannya dan tak kembali lagi. tarian rumpun bambu dan baiklah jika hendak ditambah sedikit gula, bukanlah puisi yang seolah orang sufi: tak lagi tertarik kepada dunia kecuali pada tuhannya, yang oleh ini ia tak lagi hendak turun ke bumi tapi terus naik dan terus naik seolah doa kita itu: keluar dari rongga dada menjadi bisikan yang ditarik angin sampai ke sidrathil muntaha, terus naik dan terus naik hingga sampai ke lauh mahfuz tempat dunia menjadi by disain di kursi tuhan semanusia manusia: bukan semata tuhan islam, tuhan kristen, tuhan budha, tapi tuhan sedunia manusia. tuhannya se alam raya. kukira begitulah sifat tuhan itu: tak baik kita memperebutkannya seolah waktu kecil dulu: ini gula gulaku lalu kita pun berkelahi. tapi kita miliki sama sama saja tuhan yang satu juga itu. ia kita jadikan seolah lagu dewa: kau seperti udara dalam hatiku yang memanggil padamu rinduku kau seperti udara dalam jiwaku wahai tuhan yang maha perkasaaa.

Kukira dengan jalan seperti itulah salah satu tiang yang dirindukan negeri ini bisa ditegakkan: pluralisme itu, yang kadang kita lihat, dari dan melalui berita, tampaknya belum kelar kelar juga dengan isyarat tuhan yang seolah hendak dikantongi sendiri. dalam diksi bahasa jawa ia seolah: iki ndekku bukan ndekmu. padahal tuhan hanya, sekali lagi, itu itu juga sehingga mana mungkin ia kita jadikan: ini punyaku dan bukan punyamu. suatu orientasi dari cara memeluk hidup yang ternyata tak main main dalam laku yang nyata: kita masih ingat bagaimana pendekar berselempang kain dan berpici putih dengan golok di tangan. semua tumpah menjadi kesedihan sebuah keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. manusia bisa mendadak seolah hewan yang terluka: menyerang tapi kita lalu terdiam sendiri saat tahu yang diserang adalah anggota keluarganya sendiri. tidakkah, dari tiap kujur konstitusi itu kita tahu bahwa tiap anggota manusia di negeri ini berhak menjadi presiden karena ia adalah orang asli. karena asli maka ia satu keturunan yang, tak lain artinya adalah satu kekeluargaan. kita satu keluarga besar bangsa dan negeri bernama indonesia tapi mengapa, wajah kita demikian garang meneriakkan aku saat bertemu dengan kamu. di mana kelirunya pendidikan kewarganegaraan kita itu? kau dan aku tahu di mana letak kelirunya. satu buku sepenuh esai esai dalam buku berkata, buku terbitan kompas: rindu pancasila. rindu jiwa manusia yang diresapi oleh rasan rasan ketuhanan. ketuhanan. keadilan. kemanusiaan. dan semuanya disesap oleh satu tali: kekeluargaan. boleh kita buka buka lagi arsip lama itu: siapa yang merumuskan nilai indonesia adalah negeri kekeluargaan, yang menjadi semangat dari tiang negaranya. orang awam pun tahu, apakah arti dari kekeluargaan itu: adalah rasan rasan yang diselesaikan secara adik beradik. rasan rasan yang diselesaikan bukan dengan teriakan demi teriakan, apalagi dengan lemparan batu dan sabetan pedang, tapi dengan berkasih sayang seolah dua remaja romie dan yulie. dua remaja yang saling mengasihi. berjanji sehidup semati. maafkan soal soal negeri ini kita bawa ke kanan dan ke kiri, mengikuti dan didorong oleh sifat dari bahasa juga: tiap apa yang ada adalah bahasa. kita sebut film china adalah bahasa: fonem fonem yang membentuk satu kata: china. pun india atau amerika. pun rusia atau apalah nama yang hendak kita sebutkan: semua adalah bahasa. maka kalau semua bahasa, artinya tak suatu ada pun yang bisa menutup pintu, mengangankan dirinya sebagai ber otonomi penuh, tegak sendirian mengklaim diri dunia politik, atau ekonomi, atau, mengapa pula tidak bidang kita ini: puisi. bahasa tak membiarkan adanya menyempit seperti itu. tak elok, tegak dan berjalan sendirian, kata ibu ibu bapa kita dulu. tapi berjalanlah bersamaan. dan itulah paham kekeluargaan dari cara orang dulu merumuskan keadaan negeri yang sedang menderita kesalahpahaman pandangan: negeri belanda atau negeri barat pada umumnya, masih menganut cara pandangan para dewa dewi yang boleh menjajah negeri orang lain. tapi kini semua telah berakhir dan sedunia telah menganut pandangan: kemderdekaan adalah hak segala manusia yang ada di bumi kita ini. kemderdekaan? tidakkah ia bahasa? maka politik adalah bahasa. sebuah buku yang agak tua berkata soal judulnya: kulit berwarna. isinya tentang penjajahan dan intinya tentang teriakan orang kulit berwarna yang menuntut: mengapa kaki kami diinjak heiii, tidakkah lebih baik kita mengambil posisi seperti romi dan yuli itu? kau melingkarkan tangan ke pinggangku dan aku melingkarkan tangan ke pinggangmu. lebih baik kita indehoy saja dari pada kita berkelahi tanpa kesudahannya. apa sebab orang berkelahi? kata sukarno tak lain soalnya: soal isi perut bumi. bukan soal ideologi tapi soal rejeki. demikian tandas sang flamboyan kita itu merumuskan soal soal kolonialisme dulu. soal rejeki. soal perut. lain lainnya lalu tampak seolah bungkus saja, dari soal hajat yang paling dasariah itu tadi. dalam puisi soal soal itu diteriakkan setengah gila oleh penyair kurniawan, setengah jelas terang oleh penyair ronall. kukira esai ini pun menempuh perbatasan dari dua penyair kita itu: kadang jelas kadang samar. agak geje geje. semoga bahasa tak menjadi gerak gejes gejes tapi tetap ada maknanya. walau makna itu seolah kereta api yang terus menerus meninggalkan tiap stasiun yang ia lalui, dengan meninggalkan roda dari suaranya yang gejes gejes – geje geje diksi remaja, kita agak dorongkan menjadi pandangan filsafat: gejes gejes dari bunyi roda kereta api, yang membawa dan menurunkan tiap manusia ke tujuannya masing masing. ke mana tujuan kita itu sebenarnya? apa kata konstitusi dan apa kata puisi?

Lihatlah bait kedua ronall itu: mengapung dari bait pertama masuk menuju bait kedua, membawa ketakjelasan juga tapi tetap menebarkan keindahan bahasa puisi. tak jelas apa yang diderita sebenarnya oleh aku imajinatif dalam puisi itu. lelah dari kerja apa dan mengapa? senja apa dan di mana? sesal pada apa dan pada siapa? semua ditebar dalam cara berpuisi: menghindari kata terang, yang dalam kasus ronall kata terang itu menjadi amanat yang bergoyang: bukan semacam puisi yang beciri teka teki dari tiap kata kata yang dipasang penyair. bagaimana kita hendak menghitung tokoh aku imajinatif ronall? sejahterakah tokoh aku yang luput menerakan soal soal dirinya itu? atau tak sejahterakah dia? atau kata ini telah kita pakai secara berlebihan? tidakkah tugas negara mungkin bukan mensejahterakan wargannya tapi mengadakan apa apa yang mungkin, atau diduga, kalau ia tersedia, kita pun menjadi sejahtera. janji besar, keadaan ini disebutkan oleh banyak para pemikir. janji besar yang telah gagal, kata erich fromm. dan kegagalan itu disebabkan oleh asumsi asumsinya. ronall tak menceritakan kasus detilnya, juga penyair kurniawan tak menceritakan kasus kasus detilnya dalam kedua puisi mereka. di sana kita hanya berhadapan dengan aku yang tampaknya, seperti banyak orang kini melabeli negeri yang kita sayangi ini, sebagai negeri gagal. (tapi benarkah label ini? kita patut dan bertanya dalam hati kita masing masing: bagaimana cara mengukur kegagalan itu, kalau di tiap negeri negeri suara double standar bukanlah sebagai suara sayup sayup seperti judul puisi gieb: tapi suara yang bisa kita lihat tiap hari dalam berita. sekedar misal, kalau berita itu benar, alangkah ngerinya polah negeri yang pasti kita tak sebutkan sebagai negara gagal amerika yang dikatakan telah merontokkan sendiri menara kembarnya tapi telunjuk diarahkan kepada osama bin laden itu. secara bersamaan, maaf, kita memang menyaksikan dua bujang keling yang sedang ada dalam panggung sorotan dunia: bujang keling obama dan bujang keling osama. osama mati dan tapi kelak obama pun mati. apa apa yang kita kerap takutkan itu kalau sudah sampai waktunya semuanya mati. dulu orang gemetar mendengar nama sukarno dan sukarno pun dipanggil oleh tuhannya. juga suharto: namanya menakutkan banyak orang dan, karena memang telah waktunya, akhirnya mati juga. mereka orang kuat seperti obama dan osama – dalam batas kuasa non formal, adalah orang kuat. tapi maut tak mengenal kata kuat: sampai waktunya maka kita pun meninggal.

Boleh jadi tulisan ini didorong oleh kewaspadaan dalam bahasa: agar kita berhati hati mengikuti tiap kata yang ditebar oleh manusia se bumi, pun oleh manusia negeri kita sendiri. sebab hidup terlalu banyak segi segi misterinya dan tiap kata, karena itu, haraplah menahan diri karena kita sesungguhnya tidak tahu: tidak tahu karena segalanya tampaknya adalah soal nasib. alangkah aneh dan penuh ironinya kata nasib ini, dalam situasi serba kalut dan tak pasti, dibawa masuk ke dalam wacana. tapi apa yang hendak kita katakan kalau nasib itu memang, tampaknya, mengintip dari celah yang kita tak ketahui bernama: sering luputnya tiap soal soal ideal yang keluar dari tubuh manusia saat menyentuh tubuh manusia lain. adalah mengolala hidup orang ramai. itu tak mudah dan itu terus dan saban hari meleset: tak pernah ideal, atau ia ideal dalam negeri atau ia tak ideal saat bersaluran keluar seperti tadi kata berita: dugaan amerika, demi dan untuk suatu citra besar keluar negerinya, telah merontokkan menara kembarnya sendiri. hendak kita pastikan: benarkah semua berita ini? kita berhadapan dengan sejarah yang tak mudah pembuktiannya. bukti itu merucut di tangan tiap manusia karena peristiwanya sudah tak lagi ada: hanya jejak, yang bisa mungkin dihapus atau dipelihara. dan semuanya itu soal kuasa yang demikian jauh dari jangkauan manusia umum – kita kita yang tak berkuasa ini. kuasa adalah permainan yang paling aneh di bumi: kita individual agak pasti baik dan orang baik. kita baik di keluarga dan dengan tetangga, tapi saat memasuki atau berada di pusaran kuasa, mendadak segala hal yang disebut baik itu tiba tiba tunduk pada rumus kekuasaan: apa saja menjadi daerah mungkin demi dan untuk jangan rubuhnya kuasa di tangan.

NB; Tulisan Hudan Hidayat diambil dari tulisan Beliau di Jejaring Sosial, mengenai statusnya saat menyinggung puisi karya dari kedua penyair yang lahir dan besar dari dunia maya yang berjejaring atau sering dikenal sebagai Facebook (Jurnal Sastratuhan Hudan).