“Ayo ngipok, ndelok kodew komes-komes (ayo ngopi melihat cewek semok-semok)”, ajakan dari sahabat untuk pergi ke warung kopi. Osob kiwalan atau bahasa yang dibalik-balik, kata-kata yang dibaca dari belakang dan disesuaikan dengan selera para penggunannya, kadang kalau tidak enak didengar ya dirubah-rubah. Osob kiwalan atau boso walikan khas Kota Malang sering terdengar ditengah masyarakat. Jika ada orang yang tidak mengerti dipastikan orang itu baru mgninjakkan kaki di Kota Malang. Di wilayah Malang Raya, osob kiwalan menjadi bahasa sehari-hari. Jika anda berkunjung ke Malang, terdengar kosa kata aneh dan lucu yang diucapkan orang-orang seperti kadit itreng (tidak ngerti), ojir (uang), oker (rokok) dll. Banyak warga asli Malang yang tidak mengetahui asal sejarah bahasa “gaul” ini. Banyak yang menyangka osob kiwalan ada sejak 1980an bahkan ada yang menyangka 1990an, osob kiwalan sudah ada sejak akhir 1940-an.

syadhu : melestarikan budaya

Sejarah osob kiwalan

Osob kiwalan diciptakan oleh Suyudi Raharno sebagai alat berjuang dibantu oleh kawan akrabnya Wasito. Dua orang ini sama-sama sebagai anggota dari GRK yang berjuang, di seputar akhir maret 1949, pada masa class action II atau Agresi Militer Sekutu II, yang diboncengi pasukan Belanda. Kala itu Belanda banyak merekrut orang-orang sekitar Malang, atau orang asli kota, untuk dijadikan mata-mata yang bertugas menyusup dalam pasukan GRK (Gerakan Rakyat Kota). Tugas mata-mata untuk memperoleh informasi rahasia tentang pola perjuangan GRK. Perjuangan GRK selalu dipatahkan oleh Belanda karena informasi dari mata-mata (limbangnidiasmoro.multiply.com/journal/item/9). Pejuang GRK dibawah komando Suyudi Raharno, yang mengetahui penyebab kegagalan karena ada mata-mata disekitar mereka. Lahirlah osob kiwalan sebagai bahasa komunikasi antar pejuang. Osob kiwalan sebagai sandi, kunci keberhasilan pejuang GRK mengusir penjajah dari malang.

Menjaga Budaya

Budaya yang mengakar kuat ini perlu dilestarikan. Dan mereka, pencipta osob kiwalan perlu diberi tanda kehormatan sebagai rasa terima kasih kita kepada pahlawan bangsa. Bung Karno pernah berkata bangsa yang besar, bangsa yang bisa menghargai pahlawan mereka. Maka dari itu mereka layak mendapatkan atas jasa-jasa mereka. Dengan melestarikan peninggalan mereka yang baik-baik. Seiring dengan perkembangan Kota Malang sebagai pusat pendidikan di Jawa Timur menjadi rujukan mengenyam pendidikan bagi masyarakat Jawa Timur dan sekitarnya. Osob kiwalan tidak tergerus waktu justru malah berkembang. Mahasiswa dari luar Malang, mulai menggunakan osob kiwalan di pergaulan sehari-hari. Ungkapan menjaga budaya yang baik, dan mengambil budaya yang lebih baik, cocok untuk warga Malang. Jayalah terus Malang menuju Kota Pendidikan!

Kosa kata osob kiwalan popular : nakam (makan), ewul (lapar), oskab (bakso), oges lecep (nasi pecel), ongis nade (singo edan), napalal maya (lalapan ayam), gnaro ngalam (orang Malang), kera Ngalam (arek Malang), silop (polisi), rudit (tidur), ojir (uang), ipok (kopi).

5 COMMENTS

  1. suatu saat nanti kalo aumes rajalep-rajalep yang menempuh studi di ngalam, kaib itu kera ngajamul, kera ayabarus alias kenob, kera iridek, dan kera-kera liane wes nggawe asahab ngalaman, maka asahab ngalam osi idad asahab nasional.

    malas utas awij….

  2. Hei Sam.
    Sedikit koreksi Polisi iku Silup dan tdk semua kata iku dibalik. “Napalal Maya” iku mekso, opo maneh nduwur iki ngarang thok, “aumes, rajalep-rajalep, kaib, idad”. iku ora onok.
    Cba itreng gk umak karo iki : “Ndewor, Idrek, Ngacak Oji,Tewur tengab, Ngayambes, Oromaut”