Indonesian Idol merupakan salah satu ajang kontestasi pencaharian bakat yang hampir tiap tahun ada. Secara serial, Indonesian Idol biasanya saling berganti shift dengan The Voice Indonesia dan X Factor Indonesia. Rutinan? Benar, ketiga ajang tersebut saling bergantian menjejali dunia pertelevisian nasional.

Hari ini, di season kesembilannya, Indonesian Idol kembali hadir. Tepatnya akhir bulan lalu, ajang ini menjadi jawara di hati banyak masyarakat Indonesia. Lebih dari sebelumnya, Indonesian Idol season ini seolah begitu keras dan kencang suaranya. Pintar! Begitulah memberikan pandangan kepada para tim kreatif dan pihak penyelenggara.

Bagaimana bisa?

Dahulu, untuk mendapatkan simpati dan menaikkan jumlah penonton pada suatu acara, pihak penyelenggara atau televisi banyak mengeluarkan uang untuk iklan di berbagai media. Bisa dengan iklan di stasiun televisinya sendiri, koran atau bahkan baliho besar. Roti-roti, trasi-trasi. Wingi-wingi, saiki-saiki.Kondisi hari ini berbeda hampir 180 derajat. Untuk menaikkan jumlah penonton dan rating suatu acara, tinggal seberapa sering memenangkan pencaharian di media sosial.

Berbekal hashtag, postingan berkala dan memanfaatkan beberapa dari mereka yang termaktub dalam selebgram, bisa dipastikan kenaikan jumlah penonton dan rating akan berjalan otomatis. Dan hebatnya lagi, untuk memenangkan rating, tak perlu membayar (endorse) berlebihan pada mereka yang tergolong ngehits.

Lalu bagaimana caranya?

Mari dengarkan sedikit petuah yang diberikan Noko berikut ini, “Jadikan mereka yang ngehits dan termasuk selebgram menjadi peserta, niscaya ketenaran akan datang melanda.”

Benarkah?

Kiranya memang terlalu dini dan kejam jika mengamini yang demikian. Tak elok tentunya jika merdunya suara Maria, manjanya nada-nada dari Marion Jola dan lembutnya not-not Ghea dihakimi dengan pernyataan di atas. Mereka adalah satu dari sekian orang yang lolos dengan bekal suara, keyakinan dan kerja keras untuk menjadi finalis Indonesian Idol. Mereka layak berbangga, dan kita, kita sudah seyogyanya memberikan hormat atas upaya mereka.

Namun begitu, sebagai penikmat musik sekaligus pengamat musik kelas anak teri, saya pribadi cukup terganggu dengan fakta dimana, “99,99% finalis Indonesian Idol adalah selebgram dan atau tukang cover lagu di Youtube.” Bagaimana saya bisa mengatakannya? Teman saya, Noko, yang di atas sempat memberikan pernyataan, telah melakukan riset kecil-kecilan. Dan faktanya, “Kedua belas finalis adalah mereka yang tergolong selebgram dan youtubers.”

Lalu apa masalahnya?

Tidak, tidak ada masalah sama sekali. Segala sesuatu yang ada di televisi secara garis besar ditujukan akan dua hal. Pertama adalah hiburan. Dan kedua adalah informasi. Dan Indonesian Idol, ialah acara yang dikhususkan untuk hiburan.

Pada akhirnya, menikmati sesuatu memang sudah sewajarnya tanpa embel-embel tetapi. Tiada perlu menggunjing dan mempermasalahkan apa yang ada di belakangnya. “Gak usah banyak bacot, kalau gak suka gak usah ditonton. Gitu aja repot.” Serangan yang seperti itu tidak akan mengenakkan manakala datang hanya karena sesuatu yang masih abu-abu. So, watch and enjoy it.