Tuaji sedang beristirahat di teras toko
Tuaji sedang beristirahat di teras toko

Tuaji adalah warga Desa Oro Oro Ombo, Kota Batu. Profesi sebagai pengamen Tari Remo telah ia lakoni selama 2 tahun. Ia menjalani pekerjaan itu bersama istrinya yang bertahun-tahun lebih dulu menggeluti profesi yang sama.

Siang ini mereka menjadwalkan ngamen di Jalan Soekarno Hatta Malang. Tepat di depan Universitas Gajayana mereka berhenti kemudian berbelok ke sebuah toko kecil. Istri yang turut menyertai langkahnya ngamen kemudian melanjutkan langkah untuk ngamen di sekitar lokasi itu. Tuaji tetap tinggal di toko tersebut. “Beli rokok ini satu Mbak,” tutur Tuaji kepada pemilik toko. Sambil menatap jalanan yang cukup padat Tuaji menyulut rokok merk lokal yang harganya tak lebih dari 6 ribu rupiah tersebut.

Istri Tuaji yang sedang menari
Istri Tuaji yang sedang menari

Setiap hari pukul 9 pagi ia berangkat menggunakan kendaraan umum Angkot dari rumahnya di Kota Batu menuju Kota Malang atau Kabupaten Malang. Wilayah jangkauan ngamennya cukup luas hingga Kecamatan Lawang dan Kepanjen. Hal ini disengaja olehnya agar warga tak bosan melihatnya. “Nek sakniki ngamen ten mriki, sak ulan maleh tiang mriki dereng mesti ketemu kulo maleh mas. Kulo mutere tebih kersane penontone mboten bosen,” papar Tuaji sambil menyeka muka berkeringatnya.

Tuaji adalah pengamen biasa yang berperilaku istimewa. Memperluas wilayah jelajah adalah bukti keseriusannya dalam bekerja, berpegang pada etika agar masyarakat tak terganggu atas kedatangannya.

Penghasilan bersihnya sekitar 50 ribu rupiah per hari. Nominal yang cukup kecil untuk sebuah pekerjaan berjalan kaki dan menari sejak jam 9 pagi hingga jam 3 sore hari. “Setiap hari jalan itu sekitar 6 Km lebih. Kesel lho mas jalan 6 Km itu,”. Papar pria berkumis tebal tersebut.

Penghasilan minim tak membuat semangatnya kendur untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Kini anak semata wayangnya dikuliahkan di Brawijaya. “Anak kulo sakniki sampun semester 4 mas. Nggeh Alhamdulillah ngamen cukup mawon damel biaya kuliahe anak,” jelasnya sambil tersenyum.

Dua tahun silam, ia dipecat dari pekerjaanya sebagai satpam bertepatan pula dengan kelulusan anaknya dari bangku SMA dan masuk ke jenjang kuliah. “Sempat nganggur 6 bulan mas. Waktu itu nyari kerja rasane susah banget. Akhire melok bojo ngamen. Isin ngamen iso dibetah-betahno daripada isin karo tonggo goro-goro ora kerjo”.