Berbicara mengenai modernisasi di dunia ke 3, maka hal ini tidak lepas dari campur tangan dari negara-negara maju. Namun, apa yang dilakukan negara maju dalam upaya memodernkan negara dunia ke 3 ini nampaknya memang dimuati berbagai kepentingan yang pada akhirnya juga menguntungkan mereka sendiri. Artinya disini negara maju “sengaja” membuat alur sejarah dunia sehingga negara dunia ketiga tetap tergantung pada negara maju dan diperlakukan sedemikian rupa menjadi tetap terbelakang.

Modernisasi di dunia ketiga ini tidak lepas pula kaitannya dengan munculnya industrialisasi. Apa yang terjadi di Indonesia khususnya, semua kebijakan politik, ekonomi tidak dibentuk berdasarkan karakteristik negara tapi berdasarkan keinginan, dalam hal ini adalah keinginan negara maju. Dengan alasan industrialisasi dan menciptakan lapangan kerja, maka negara maju membuka perusahaan di negara dunia  ketiga. Apa yang dilakukan tersebut adalah salah satu bentuk ekspansi negara maju terhadap negara dunia ketiga. Negara maju mengekspansi negara berkembang dengan memindahkan produksinya di negara berkembang dengan alasan buruh murah dan bahan baku mudah didapat. Negara maju juga mempertimbangkan hal lain mengapa proses produksi dilakukan di negara berkembang, Mereka sadar bahwa industri mereka ternyata memnimbulkan dampak lingkungan yang tinggi, oleh karenanya industri berat dialihkan ke negara-negara miskin, dengan alasan tidak ingin polusi industri terjadi di negaranya. Mereka memiliki slogan ‘Not in My Backyard

Pembagian kerja Internasional juga semakin memarjinalkan negara berkembang. Pembagian kerja internasional menurut Paul Prebish menyatakan bahwa negara maju adalah negara yang kaya akan teknologi dan hanya memiliki sedikit SDA, oleh karenanya tugasnya adalah mengontrol dan mengembangkan teknologi serta menghasilkan barang-barang Industri  sedangkan negara berkembang adalah negara yang kaya akan SDA sehingga tugasnya adalah menjadi tempat produksi dan memproduksi hasil-hasil pertanian.
Solusi dari permasalahan ini adalah memberikan kebebasan bagi negara-negara pinggiran untuk mengembangkan dirinya dengan melihat konteks budaya dan kesejarahannya sendiri. Dalam bidang Industri dapat diawali dengan subtitusi impor. Barang-barang industri yang sebelumnya diimport, harus mulai diproduksi dalam negeri.

Menurut Andre Gunder Frank dalam bukunya Sosiologi Pembangunan dan Keterbelakangan Sosiologi menyatakan bahwa negara-negara maju mengekspor partikularisme ke negara terbelakang yakni partikularisme yang dibungkus dengan dengan slogan-slogan universalitas seperti kemerdekaan, demokrasi, keadilan, kepentingan bersama, liberalisme ekonomi melalui perdagangan bebas, liberalisme politik melalui pemiilhan yang bebas, liberalisme sosial melalui mobilitas sosial yang bebas serta liberalisme kultural melalui kebebasan lalu lintas ide-ide. Dari berbagai macam munculnya panji-panji universal dari Amerika dan negara maju lainnya sebenarnya tidak lain adalah alat untuk menutupi kepentingan-kepentingan prive dan partikularis negara maju yang tidak sedap untuk dipandang.

Oleh karenanya, sudah sewajarnya mulai dari detik ini kita selalau waspada terhadap pembangunan di negara kita. Jangan sampai pembangunan di negara kita ini hanyalah skenario dari negara maju untuk menguras seluruh potensi ekonomi kita. Jangan sampai juga sisi-sisi kemanusiaan di kesampingkan dalam pembagunan, sehingga manusia di negara kita hanya dijadikan alat yang hanya bisa bekerja layaknya mesin, bekerja terus menurus tanpa dan berada dalam posisi lemah/tidak memiliki daya tawar (bargaining power).