Di tempat kami, anak-anak sudah belajar bela negara sejak usia dini. Bagaimana caranya? Dengan bermain mercon bumbung.

Saya tak tahu siapa yang memulainya. Yang jelas, saya benar-benar kagum dengan orang yang menciptakan mainan ini. Blanggur atau mercon bumbung yang dulunya terbuat dari batang bambu dimodifikasi dengan paralon dan beberapa barang bekas lainnya. Prinsip dan cara kerjanya hampir sama. Hanya saja, kini bahan bakarnya bukan karbit tapi diganti dengan spirtus. Obor diganti dengan pemantik korek atau kompor gas.

Anak-anak di masa saya sempat mengalami masa krisis permainan ramadhan. Kami sering menghabiskan uang untuk beli mercon (petasan). Mercon itu bahaya lho. Bukan hanya soal duit, tapi juga soal ideologi. Mercon memunculkan kesan perilaku yang kurang baik. Coba tengok, anak-anak menyulut sumbu, dilemparkan, lalu Dorrr. Kalau dilihat-lihat kok mirip teroris ya. Melempar bom lantas lari jadi buron.

Ngomong-ngomong soal mercon, saya jadi ingat dengan seorang paman yang saya panggil Pak De Gok Di. Beliau adalah penyuka petasan dari masa anak-anak hingga usia senjanya. Pada suatu Ramadhan, beliau nyumet mercon segede paha orang dewasa. Pengaruh usia dan encok di pinggang membuat gerakannya tak gesit lagi. Setelah menyulut, beliau berdiri. Tak sempat lari, si mercon terburu-buru meledakkan diri. Walhasil seluruh kaki beliau meloncot kena percikan. Cara menyulut petasan ala Pak De Gok Di ini, tak rasak-rasakkan mirip dengan teroris bom bunuh diri di Mapolres Solo beberapa hari lalu.

Kembali ke soal blanggur. Dulu, blanggur ditaruh di atas kerangka bambu kecil. Satu ujung berada di tanah, ujung yang lain berada di atas rangka. Sekilas, blanggur tradisional ini mirip dengan meriam, baik dari segi tampilan maupun cara menyulutnya. Nampaknya, blanggur tradisional memang didesain untuk menanamkan nilai heroisme perlawanan terhadap penjajah dari Eropa.

Sejatinya, meriam sudah ada sejak jaman Majapahit. Klaim Eropa bahwa pada abad 15 Alfred Nobel-lah yang pertama kali membikin meriam, disangkal oleh sejarawan Kyai Agus Sunyoto. Beliau menyatakan bahwa jauh sebelum itu, pada abad 13 Majapahit sudah bisa membikin meriam. Perlahan teknologi metalurgi Majapahit itu kondang dan berkembang ke berbagai wilayah Nusantara. Tahun 1500-an Kerajaan Malaka mengimpor meriam buatan Jepara. Portugis mengakui bahwa mereka sempat kewalahan karena Malaka dipersenjatai meriam dari Jawa itu.

Melihat panjangnya sejarah meriam, saya kok optimis bahwa blanggur juga berusia sangat tua. Mungkin sudah ada sejak abad 15 atau 16. Sekali lagi “mungkin” lho ya. Ini cuma pendapat aktifis dangdut koplo, bukan sejarawan. Jadi, njenengan sangat dianjurkan untuk meyangsikannya.

Kalau soal blanggur modern, saya berani menjamin kebenaran informasi yang akan saya sampaikan berikut. Mainan ini baru ada setahun terakhir. Didesain untuk menanamkan imajinasi pada anak-anak tentang senjata perang bernama bazooka, tentang perjuangan kemerdekaan, tentang tugas TNI membela persatuan dan kesatuan NKRI.

Lain meriam lain pula bazooka. Meriam dipakai untuk melawan penjajah di masa pra kemerdekaan sedangkan bazooka dipakai pada masa kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Catatan sejarah menyatakan bahwa bazooka juga dipakai oleh TNI untuk menaklukkan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di hutan belantara Lubuk Bagalung, Sumatera Barat tahun 1958.

Konon, setelah mengalahkan PRRI, Kapten Ali Ebram hanya melaporkan 80 dari 100 peluru bazooka rampasan perang. Lantas ke mana 20 peluru lainnya? Mereka gunakan untuk menembaki durian. Satu peleton Resimen Para Komando Angkatan Darat membawa pulang masing-masing dua buah durian sebagai buah tangan dari perang.