Sebagai umat Islam yang berkebetulan merantau, siang itu, bersama teman, saya sedang menunaikan ibadah mudik. Dengan motor Mio merah kesayangan, kami melaju meninggalkan kota apel. Seperti mudik di tahun-tahun sebelumnya, mudik kemarin juga dipenuhi dengan perasaan terburu-buru dan bercepat-cepat agar sampai di rumah.

Harapan untuk bertemu keluarga adalah kelaziman yang memang harus disegerakan. Namun begitu, singgah di beberapa tempat adalah sebuah keterbiasaan. Dan mudik kemarin, Gresik, adalah salah satu tempat singgah yang menjadi rujukan.

Sesampainya di pusat kota, kami memutuskan untuk singgah di warung makan sembari menunggu adzan magrib datang. Nasi Krawu, adalah makanan yang sengaja kami pilih sebagai menu buka puasa. Rasanya yang nikmat melebur menjadi satu dengan rintihan kenangan di Tanah Joko Samudro.

Bertepatan dengan itu, Gresik sedang punya gawe. Sebuah event tahunan besar dihelat. Event bertajuk Festival Pasar Bandeng. Jika Anda adalah warga Gresik atau sekitar Gresik, Anda sudah pasti tidak asing dengan festival ini

Pasar Bandeng ialah sebuah kegiatan yang rutin dilaksanakan setahun sekali di Kota Gresik. Event ini dilakukan pada malam 27,28, dan 29 Bulan Ramadhan. Kegiatan ini berisi lelang bandeng-yang mana hasil dari lelangan tersebut hasilnya banyak yang disumbangkan. Tidak hanya lelangan, event ini juga dimeriahkan dengan pasar dadakan bak pasar minggu pagi di Malang.

Merujuk berbagai sumber kesejarahan, pasar bandeng adalah warisan leluhur. Konon, diceritakan bahwa acara tersebut sudah ada semenjak keberadaan walisongo. Kala itu, Sunan Giri merasa iba dengan perekonomian masyarakat Gresik yang tergolong rendah. Padahal, dalam segi pertambakan dan perikanan, masyarakat Gresik tergolong ulung. Akhirnya, Sunan Giri memutuskan untuk membuat sebuah acara yang kemudian dinamai pasar bandeng. Selain maksud dan tujuan di atas, pasar bandeng juga digunakan sebagai bentuk syukur atas kelancaran ibadah puasa.

Jika awalnya pasar bandeng hanya difungsikan untuk warga Gresik, kini pengunjung sudah beragam dari berbagai daerah. Masyarakat dari Lamongan, Surabaya, Mojokerto, hingga Jombang seringkali datang untuk turut menikmati kemeriahan pasar bandeng. Bahkan, oleh pemerintah setempat, promosi acara ini sudah diintensifkan hingga ke mancanegara.

Sekitar pukul 11 malam, saya mulai menjelajahi keramaian pasar bandeng. Sudah lama kiranya saya tidak berkunjung ke acara ini. Terakhir kali tahun 2010 yang lalu.

Hiruk pikuk pasar bandeng via bp.blogspot
Hiruk pikuk pasar bandeng via bp.blogspot

Meriah adalah kata terbaik untuk menjelaskan hiruk pikuk pelaksanaan pasar bandeng. Para pengunjung nampak antusias melihat dan membeli makanan atau juga pakaian. Setali tiga uang, para pedagang juga begitu bersemangat menjajakan barang dagangannya. Mereka sama-sama menikmati keberadaan festival tahunan ini.

Sekitar satu jam berjalan, saya sampai di ujung arena pasar bandeng. Akhirnya, saya berputar kembali untuk melihat sisi satunya. Sembari itu, saya teringat jika selama perjalanan belum membeli apapun. Akhirnya, saya putuskan untuk membeli ndok bader. Makanan berasal dari telornya ikan bader yang digoreng dan dibumbui.

Festival Pasar Bandeng memang menjadi sebuah ritus wajib yang banyak dinikmati oleh masyarakat. Manfaatnya pun sangat besar. Mulai dari mengangkat perekonomian, sebagai lapak persiapan lebaran, tempat bersilaturrahim, hingga ajang pencaharian jodoh.

Suatu ketika, jika Anda berkesempatan, datanglah berkunjung ke festival ini. Sembari merasakan keramaian lelangan bandeng dan pasar kagetnya, Anda bisa menikmati waktu kebersamaan bersama keluarga menjelang lebaran.

 

Sumber gambar: https://afif1.files.wordpress.com/2011/08/pasar-bandeng-19521.jpg?w=474