Judul: Ekofenomenologi, Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam
Penulis: Saras Dewi
Penerbit: Marjin Kiri, Tangerang Selatan
Terbitan: Pertama, Maret 2015
Tebal: xiv + 172 halaman
ISBN: 978-979126042-8

ekofenomenologi

Ada empat hal yang ditengarai sebagai penyebab terjadinya kekacauan ekosistem, yaitu pertumbuhan populasi, konsumtivisme, emisi gas karbon, dan massifitas kepunahan spesies. Slavoj Žižek, seorang filsuf cum sosiolog dari Slovenia, menambahkan mobilisasi ketidakpedulian pada lingkungan sebagai penyebab kekacauan ekosistem. Žižek seakan hendak menegaskan kembali vitalitas peran manusia, baik positif maupun negatif, terhadap kondisi lingkungan di mana kita tinggal.

Di tengah kekacauan ekosistem ini, gerakan lingkungan juga terlihat masih sebatas gerakan etis yang belum menuju titik permasalahan sebenarnya. Dengan kata lain, masih berupa pertimbangan baik dan buruk, tidak pada pembedahan terhadap relasi manusia dan alam. Manusia, dalam hal ini adalah kita sendiri sebagai organisme yang terlibat dalam keberlanjutan ekosistem, masih selalu mendaku diri sebagai pusat semesta. Cara pandang ini memuat kecenderungan menjadikan manusia semena-semena pada lingkungan sehingga terjadilah relasi ketidakselarasan (disekuilibrium) manusia dengan alam.

Saras Dewi melalui buku ini menunjukkan betapa keterlibatan manusia sangat penting sekali dalam ekosistem, namun keterlibatan itu harus dipahami dalam kerangka pemahaman bahwa kita bagian dari ekosistem yang sedang ditimpa kekacauan ekologis ini. Untuk mengurai relasi manusia dengan alam yang sedang mengalami ketidakselarasan ini, ia mengajukan ekofenomenologi tidak hanya sekedar metode penelitian, tapi juga cara pandang yang mampu mengembalikan relasi ekuilibrium manusia dengan alam lebih dari sekedar pandangan etis.

Mengajukan Ekofenomenologi

Jika ditilik dari segi bahasa, ekofenomenologi terdiri dari dua pengertian. Eko atau Oikos, yang berarti rumah, tempat bernaung, atau tempat tinggal. Sedangkan fenomenologi adalah salah satu metode filsafat yang mengkaji fenomena relasi antara subjek dan objek, antara manusia dan alam. Ekofenomenologi berarti bagaimana memahami ekosistem sebagai fenomena, bukan objek yang terlepas dari subjek (hal. 148). Keterhubungan manusia dengan ekosistem dalam tinjauan fenomenologi membuktikan keberadaan relasi timbal balik yang sejatinya tidak saling meniadakan. Dengan kata lain, segala bentuk perbaikan sistem politik, sosial, maupun ekonomi menyangkut alam.

Selama ini, kita menganggap manusia sebagai subjek aktif dan alam adalah objek pasif. Saras Dewi menjelaskan bahwa pandangan ini berakar pada dualisme Cartesian yang menganggap aktivitas berpikir manusia sebagai rahim antroposentrisme yang pada akhirnya melahirkan superioritas manusia di hadapan alam. Antroposentrisme, atau paham yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta, menghilangkan sikap dan pemahaman keberadaan manusia yang terlibat relasi ketersalingan (intensional) dengan alam.

Dengan mendasarkan ekofenomenologinya pada Merleau-Ponty, Husserl, dan Heidegger, Saras Dewi sejatinya ingin menegaskan bahwa meski berbeda dengan alam, manusia adalah subjek yang terlibat di dalamnya. Walaupun aktivitas subjektif manusia memungkinkan untuk memahami alam dengan nalarnya, hal itu terjadi dikarenakan alam juga membuka diri untuk dipahami. Sebelum nalar manusia bekerja, komunikasi pertama yang manusia lakukan adalah kontak langsung dengan alam. Sebelum kita bisa berpikir jauh tentang bagaimana kita harus memperlakukan barang-barang atau entitas di sekitar kita, terlebih dahulu kita membangun relasi dengannya.

Kemampuan nalar manusia pun seharusnya tidak menganggap keberadaan alam sebagai objek pasif, apalagi bertindak eksploitatif. Sebab sejatinya tanpa manusia pun alam bisa tetap ada, dan tidak sebaliknya, manusia tidak akan ada tanpa alam. Kesadaran ini perlu diletakkan dalam kerangka praktis bahwa kita adalah makhluk berpikir yang berada di tengah ekosistem dan termasuk bagian darinya, bukan hanya sebatas menanamkan keharusan bertindak baik pada alam.

CSR perusahaan-perusahaan digelontorkan sedemikian rupa terlihat hanya sekedar tindakan cuci tangan atas rusaknya lingkungan. Komunitas-komunitas dan gerakan penghijauan menjadi tumpul karena para anggotanya menafikan tindakan terkecil untuk tidak membeli makanan berbungkus plastik dan berdalih telah mencintai lingkungan hanya karena tidak membuang sampah sembarangan. Pecinta sepeda hanya menaiki sepedanya di minggu pagi untuk olahraga dan tetap naik kendaraan bermotor untuk aktifitas sehari-hari di hari kerja padahal jarak tempat tinggal mereka dengan tempat kerja tak terlalu jauh. Banyak lagi paradoks yang kita sendiri menyenanginya dan tak menyadari bahwa itu berbahaya. Sebabnya satu, pemahaman kita tentang ekosistem tak lagi berpusat pada ekologi itu sendiri, tapi pada superioritas manusia.

Akibat tiadanya pemahaman yang utuh tentang keberadaan kita sendiri sebagai manusia, bukan hanya cara pandang tak adil yang muncul, tapi juga tindakan kepura-puraan. Bayangkan saja, ide tentang konservasi lingkungan dan seruan untuk melakukan penghijauan yang terdengar lantang ujung-ujungnya tetap saja demi pemenuhan keserakahan manusia. Di bagian inilah buku ini menjadi penting untuk dipahami, bahwa antroposentrisme harus dibuang jauh dan harus segera mengetengahkan kembali pemahaman kita sebagai organisme yang hidup di tengah gerak ekosistem.