Ada kata bijak mengatakan, “Behind every great man there are a greatest women.” Pujian yang disematkan untuk menyetarakan posisi perempuan. Pendapat lain menyebutkan bahwa perempuan adalah mahkluk Tuhan paling rumit dimengerti. Setidaknya begitu, kata para pujangga yang selalu haus akan perhatian. Perempuan dapat menjadi sumber pertempuran antar keluarga seperti Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga. Perempuan juga mampu menjadi penyelesai masalah selayaknya cerita film Batman v Superman. Namun dibalik itu, perempuan adalah sosok penting dalam sebuah peradaban dunia. Ya, di dunia. Dari barat sampai timur atau dari utara hingga selatan.

Di China, peran perempuan tercatat begitu besar semasa Dinasti Han berkuasa (206 SM-220 M). Kala itu, hampir setiap aktivitas politik dan pengambilan kebijakan tidak luput dari peran kunci kaum hawa. Saking mengakarnya, banyak pengamat dan ahli sejarah menyebutkan bahwa Han pada akhirnya menjadi Dinasti paling lemah karena pengaruh perempuan. Apapun itu, toh keberadaan dan keterlibatan perempuan memang sangat besar, terutama dalam perjalanan Dinasti Han.

Pada masa modern, gerakan perempuan semakin nampak ke permukaan. Sejarah tentu menggarisbawahi sosok The Iron Lady yang disematkan kepada Margaret Thatcher. Ia adalah kepala pemerintahan Inggris yang begitu kuat dan memiliki pengaruh yang tidak kalah jika dibandingkan dengan kaum adam.

Hari ini, peran perempuan sudah semakin besar dalam setiap denyut nadi kehidupan. Jika Anda pecinta klub sepakbola Jerman, Anda tentu tidak asing dengan Angela Merkel. That’s right. Dialah wanita nomor satu di Jerman. Aish, orang nomor satu lebih tepatnya. Tak hanya di Jerman, ia juga dianggap pimpinan de facto Uni Eropa.

 

Angela Merkel merayakan kemenangan Jerman via Panditfootball
Angela Merkel merayakan kemenangan Jerman via Panditfootball

Di Indonesia, gerakan perempuan ditandai dengan terbitnya surat-surat Kartini kepada Ratu Belanda tentang kebutuhan pendidikan islam pada kaum perempuan. Terinspirasi akan hal tersebut, pada awal abad ke 20 banyak berdiri organisasi perempuan. Namun, organisasi-organisasi perempuan yang muncul masih menjadi badan otonom dari organisasi masyarakat yang sudah ada.

Sebagai negara yang lekat dengan budaya patriarkhi, Indonesia sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya untuk melindungi hak-hak perempuan. Mulai dari pemberian 30% untuk mengisi kursi anggota dewan hingga mulai turut andil dalam ajang-ajang Miss World atau Miss Universe. Puncaknya adalah saat Megawati Soekarno Putri duduk sebagai Presiden RI yang juga sampai hari ini masih tercatat sebagi mbokne salah satu parpol di negeri ini.

Lebih dari itu, peran perempuan di sektor lain tentu sangat dibutuhkan. Toh urusan di muka bumi ini tidak hanya melulu tentang persamaan derajat dalam bidang pekerjaaan dan politik. Jika dikembalikan ke konsepsi awal sebagai konco wingkingperempuan seharusnya tetap menjadikan ranah domestik sebagai fokus utama. Budaya semacam ini memang terkesan bias gender, namun upaya pembiasan tersebut sudah terlalu usang dibicarakan. Bukankah konsepsi tersebut milik barat? Memang sejak kapan Indonesia mengenal frasa “kesetaraan gender”?

Artinya bahwa perempuan tetaplah harus dalam track sebagaimana mestinya. Dan apakah itu? Menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anaknya. Karena pada dasarnya perempuan juga menjadi pelindung utama bagi keluarga. Dan tugas atau konsepsi semacam ini adalah yang paling tepat. Mengapa? Karena konsepsi tersebut diatas berada diluar himpunan judgement canggih bernama bias gender.

Baru-baru ini, konsepsi diatas tercermin dalam deklarasi anti narkoba. Deklarasi tersebut dibacakan oleh ibu-ibu Muslimat Nahdlatul Ulama dalam peringatan hari lahir yang ke 70 (26/3). Hal paling menarik dalam kasus ini adalah para perempuan berbaju hijau tersebut sadar akan pentingnya keberadaan mereka sebagai benteng pertama dalam keluarga.

Ibu-ibu muslimat membacakan deklarasi anti narkoba via malangkotanews
Ibu-ibu muslimat membacakan deklarasi anti narkoba via malangkotanews

Sambil berpanas-panas ria, ibu-ibu Muslimat mengejawantahkan jika kesetaraan gender bukan lagi dimaknai sebagai tuntutan kesamaan derajat kerja. Namun perempuan harus kembali pada peranannya dalam keluarga. Sebagai pemegang kendali urusan domestik terkecil-sebagai aktor utama dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa.

 

Sumber gambar: http://helloflo.com/wp-content/uploads/2015/02/Malala_Yousafzai_-_13008430294.jpg

Oleh: Sam Arsy