Judul: Pengembangan Masyarakat Islam (Agama, Sosial, Ekonomi dan Budaya)
Penulis: Prof. Dr. Musa Asy’arie, Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, Dr. Mulyadhi Kartanegara
Pengantar: Muhammad Khoirun Najib
Penerbit: LKPM IAIN Sunan Kalijaga
Tahun: 2003, Edisi III
Tebal: 140

Buku ini merupakan buku terbitan dari populis, yang berisi tentang jurnal pengembangan masyarakat, dari segi agama, sosial, ekonomi dan budaya. Pada terbitan edisi ketiga membahas tentang permasalahan-permasalahan masyarakat seperti tauhid, muammalat dan soal bid’ah. Kkarya ini diharapkan mampu membangun sistem umat islam di Indonesia agar menjadi gerakan yang patut diperhatikan.

Perkembangan zaman yang juga diiringi oleh berkembangnya teknologi, berdampak buruk bagi masyarakat yang hanya menerima informasi secara mentah. Sehingga, mereka dibingungkan dengan berita tidak jelas akan ke shohihan dari isi tersebut.

Pada bagian pertama yang dibahas mengenai perekonomian, menanggapi semakin banyaknya pengangguran pada saat ini dibutuhkan untuk menanam jiwa kewiraswastaan pada kalangan mahasiswa, kenapa mahasiswa? Karena, jika dipisah dari kata tersebut cocok untuk kalangan mahasiswa, yaitu kewiraan yang berarti keteladanan dan keswastaan adalah kemampuan usaha secara mandiri.

Selain itu, mahasiswa merupakan pemuda yang dikenal memiliki jiwa etos kerja yang kuat, tahan benturan, terdapat semangat yang kuat kreativitas dan keuletan. Sehingga lulusan mahasiswa tidak hanya disibukkan dengan mencari pekerjaan kesana-kemari, namun dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya.

Pembahasan kedua dalam buku ini mengupas tentang masalah yang berkaitan tentang kebudayaan. Bahwa kita tahu, banyak sekali konflik-konflik yang tersajikan di berita televisi maupun media cetak. Adanya permasalahan tersebut seakan-akan mengingkari dari istilah bhineka tunggal ika.

Kenapa istilah tersebut harus dijadikan pedoman? Karena, indonesia merupakan satu kesatuan, dari berbagai budaya, suku, agama dapat menjadi satu ketika terucap nama Indonesia. Namun, yang terjadi pada saat ini tidak sejalan dengan yang diserukan oleh para pahlawan yang berjuang merebut kemerdakaan.

Permasalahan ekstrim di kalangan kaum muslim kali ini tentang suatu golongan yang memiliki hobi membid’ahkan golongan lain. Hal ini mengakibatkan sekte yang menjadikan korban risih karena ulahnya. Karena islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat sehingga dikatakan sebagai agama rahmatan lil alamin.

“Pada dasarnya problem bid’ah sunnah merupakan masalah lama, tetapi mempunyai dampak yang negatif dalam masyarakat islam. Akan tetapi bila umat sudah jenuh berpolemik bid’ah sunnah, maka dengan sendirinya isu bid’ah sunnah akan hilang dan pada gilirannya umat akan berpikir bahwa berseteru tentang bid’ah sunnah adalah perbuatan sia-sia dan tidak ada gunanya” (hal. 66).

Namun dalam permasalahan ini berbanding terbalik dengan konsep amar ma’ruf nahi munkar. Karena makna amar ma’ruf nahi munkar sendiri ditujukan untuk memerangi kaum yang bertentangan dengan agama islam, akan tetapi golongan yang mengaku islam disibukkan dengan perdebatan-perdebatan sesama agama.