“Racun..racun..racun. Racun..racun..racun. Mati laju darahku. Takluk sudah hebatku. Hilang akal sehatku… Hilang akal sehatku, Memang kau racun…”

Oke, terima kasih semua dan selamat berbuka puasa…

jelajahbudaya-musik-racun-racun-di-malangAstin dan Ranti, vokalis grup band Girl Fight, menyapa ramah ratusan penonton yang berkumpul di suatu senja. Berakhirnya lagu The Changcuters berjudul Racun menjadi penutup pentas musik sederhana yang digelar di areal parkir sebuah gedung serbaguna yang berada di Jalan Soekarno Hatta Malang. Ibonk, presenter muda yang selalu setia menemani “pesta ngabuburit” itu menuntaskan acara dengan senyum khasnya sembari mengingatkan kepada para pengunjung bahwa dirinya akan selalu menemani mereka sampai hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagian penonton mulai berbenah untuk berbuka puasa karena sang maghrib sudah singgah di Kota Malang, termasuk menghampiri kerumunan orang di sekitar jalanan Soekarno Hatta.

Girl Fight adalah Band terakhir yang manggung hari itu, Kamis 25 September 2008. Tiga grup musik yang tampil sebelumnya adalah Phyton, The Light, dan Monalisa. Even itu memang menjadi ajang puluhan grup band di Malang untuk mengekspresikan kemampuan mereka dalam bermusik. Menurut pengakuan Ibonk, ada sekitar seratus band lokal yang ikut berpartisipasi tahun ini. Dalam satu hari ada empat grup musik yang masing-masing diberi waktu pentas selama 20-30 menit. Grup-grup musik itu hadir tanpa dibayar. Mereka ikut meramaikan “kegiatan ramadhan” karena disatukan oleh dalam satu bahasa, musik anak muda.

Tepat magrib acara inipun usai, meski tidak semua pengunjung langsung beranjak pergi dari area itu. Bahkan ada beberapa yang baru datang di halaman gedung Taman Krida Budaya (TKB), tempat terselenggaranya kegiatan itu. Hampir bersamaan dengan dikumandangkannya adzan, seorang cowok sebut saja namanya Eko datang mengendarai Honda Tiger bersama Eka, teman ceweknya. Sesampai di sudut halaman TKB, Eko memarkir kendaraan dan Eka duduk di atasnya. Agak keburu Eko kemudian nampak melangkah ke arah jalanan Soekarno Hatta dan kembali dengan membawa dua gelas minuman kemasan. Mereka berduapun menikmati minuman itu berdua sambil asyik berbincang, entah apa yang mereka perbincangkan. Hari mulai gelap, namun areal TKB masih hidup oleh suasana pengunjung dengan berbagai macam kesibukan. Sementara itu Ibonk dan kawan-kawan nampak membenahi perlengkapan pentas.

Dua setengah jam sebelumnya, sekitar jam tiga sore, halaman TKB nampak mulai bergeliat. Panggung sudah mulai ditata sedemikian rupa. Pick up hitam sudah terparkir sejak aku datang. Mungkin pick-up itu digunakan sebagai pengangkut perlengkapan untuk perhelatan seni itu. Menurutku, infrastuktur yang dipersiapkan belum layak jika disebut sebagai panggung. Di areal itu hanya ada sebuah tenda berukuran 4×4 meter berwarna merah dan bertuliskan slogan Selera Pemberani dan Perubahan Itu Perlu. Tenda mungil sekecil itu nyatanya hanya mampu menampung drummer dengan seperangkat drum yang yang ukurannya tidak terlalu besar. Nampaknya tenda itu didapatkan dengan gratis oleh tim Event Organizer dari sponshor sebuah perusahaan rokok. Dana sponsor acara sebulan penuh ini nampaknya tidak terlalu besar melihat infrastruktur yang tidak begitu gemerlap. Hanya seperangkat sound system dan beberapa perlengkapan musik serta satu mesin diesel yang diletakkan di sebelah timur tenda, sekitar 5 meter dari gapura masuk gedung TKB.

Musik raf dari kepingan CD mulai berkumandang. Beberapa muda mudi mulai berdatangan dan menempatkan kendaraan mereka secara rapi di beberapa tempat yang sudah ditata oleh para tukang parkir. Ternyata, tidak hanya muda mudi yang ada di situ. Ibu-ibu dan anak-anakpun juga nampak mewarnai kerumunan orang di situ. Mereka semua berdatangan entah apakah memang mau melihat pentas musik atau sekedar jalan-jalan. Ada yang datang berjalan kaki, ada yang naik sepeda dan ada pula yang datang dengan mobil. Bahkan banyak juga anak kecil yang datang naik sepeda dan mereka berlalu lalang di area yang dipersiapkan sebagai ruang pentas. Tidak juga sih. Area itu memang tidak hanya diperuntukkan bagi pentas musik, namun juga menjadi area nongkrong dan menjadi “sirkuit” sepeda pancal. Sementara, tepat di pinggir pagar gedung, puluhan pedagang makanan dan minuman menambah hingar suasana. Areal parkiran TKB menjadi tempat berkumpul banyak orang, lintas usia, dengan beragam tujuan salah satunya adalah tujuan bermusik.

Sesaat kemudian The Phyton mulai beraksi. Perhatian para pengunjung mulai tersedot ke arah panggung. Para biker kecil yang berlalu lalang mulai menghentikan sepeda mereka. Beberapa anak ada yang naik ke punggung gapura dalam, karena dari situ mereka bisa melihat pertunjukan dengan view yang sempurna. The Phyton mengawali pentas dengan memainkan lagu barat yang aku sendiri tidak tau apa judulnya dan apa nama grup musik yang mempopulerkannya. Lagu itu dibawakan dengan apik oleh seorang cewek abg yang mengenakan T-Shirt warna pink dan dipadu dengan jeans biru. Dengan berjingkrak ringan sang artis nampak serius menyanyikan lagu di alam terbuka, beberapa meter di depan tenda, tempat drummer beraksi dengan kedua bilah stiknya. Pemain gitar dan bass tidak ketinggalan, mereka juga ikut menggoyangkan tubuhnya. Gaya mereka tidak jauh beda dengan grup musik yang biasa kulihat di tv. Mereka berempat seakan menantang silaunya mentari di langit sebelah barat yang hangatnya masih cukup terasa. Setelah menyanyikan beberapa lagu, Ibonk, sang presenter mempersilahkan The Light untuk tampil.

Empat abg, dua cowok dan dua cewek mulai memainkan lagu, diantaranya lagu I Love You Bybe (The Changcuters) dan OK (T2). Sementara empat kawannya di belakang berharmonisasi dengan alat musik mereka; gitar, bass, keybord, dan drum. Mereka berdelapan menyuguhkan pertunjukan  cantik dan mendapat sambutan cukup meriah dari penonton. Mungkin karena lagunya cukup familiar di telinga pengunjung. Selain itu, koreografi yang dipentaskan keempat vokalis nampak hidup. Para bocah pengendara sepeda pancalpun ikut memeriahkan dengan berseliweran di depan mereka. Awalnya keberadaan para bocah ini cukup “mengganggu” saat aku tengah mendokumentasikan aksi panggung The Ligth. Namun lama-lama aku terbiasa juga dengan keberadaan mereka. Anggap saja sebagai “assesoris panggung”.

Dua orang penonton di sebelahku, sebut saja namanya Rama dan Shinta, tidak tahu ketika kutanya grup band apa yang sedang tampil. Yang jelas mereka berdua nampak menikmati lagu-lagu yang dibawakan The Light. Aku baru tau nama grup ini setelah aku bertanya kepada Ibonk, sesaat setelah grup ini menuntaskan atraksi mereka. Di hari sebelumnya, grup ini juga tampil. Meski kini mengenakan kostum berbeda, namun repertoar mereka tidak asing di mataku. Terutama atraksi dua vokalis cewek yang memang gemulai dan sedap untuk dipandang.

Pentas selanjutnya adalah boy band cowok, Monalisa. Grup band yang terbentuk empat tahun lalu ini terdiri atas Lala (vocal), Thomas (gitar), Alu (drum), dan Pican (bass). Grup band ini setiap tahun selalu berpartisipasi dalam kegiatan ini. Ramadhan kali ini mereka mendapat jadwal pentas di TKB dua kali. Lala terlihat piawai berartikulasi di depan penonton. Penontonpun mengapresiasi penampilan Monalisa meski mereka hanya memainkan tiga lagu saja. Saat wawancara, Lala menjelaskan bahwa nama Monalisa adalah sebuah doa. Grup musik ini diharapkan bisa menjadi legend laksana lukisan Monalisa. Lala, Pria kelahiran Dampit ini menyatakan bahwa mereka datang ke TKB ini dalam konteks menghibur. “Ya daripada males-malesan di rumah mending ikut menghibur penonton di sini. Menghibur khan termasuk ibadah, terlebih di Bulan ramadhan” ungkap alumnus Teknik Sipil UM ini. Bodohnya, aku baru tau kalau Lala, vokalis yang kuwawancarai itu adalah penyanyi terkenal yang sempat masuk 16 besar Indonesian Idol 2008. Aku baru tahu  belakangan setelah men-searching namanya di internet.

***

Setiap ramadhan jalanan Soekarno Hatta memang selalu ramai saat sore hari, terlebih di sekitar gedung TKB yang berada di timur jalan. Jalan Soekarno Hatta sebenarnya cukup lebar. Jalan ini dibagi dalam dua lintasan dengan arah berlawanan sehingga kemacetan hampir tidak pernah terjadi di kawasan ini. Pada bulan Ramadhan, jalan ini menjadi crouded luar biasa beberapa saat menjelang dan sesudah bedug maghrib. Kemacetan ini dikarenakan adanya transaksi jual beli makanan dan minuman di tengah-tengah arus kendaraan yang padat.

Beragam makanan dijual di situ. Ada aneka macam nimuman segar, makanan ringan, nasi bungkus, lauk pauk dan semacamnya. Tidak hanya makanan, beraneka kembang api, kacamata dan kopyah juga sempat kutemui saat aku menyusuri jalanan Soekarno Hatta itu. Beberapa kali aku sempat melihat cewek-cewek SPG menawarkan produk sebuah rokok terkenal di Jawa Timur. Para sales berbagai produk HP dan operator celluler juga sibuk menawarkan produk mereka sembari menyebarkan brosur. “Murah mas, HP CDMA warna plus kartu perdana Fleksi, Cuma 199 ribu. Ini Paket ramadhan lho”, ujar seorang pemudi dengan penampilan modis sambil menyerahkan selembar leflet kepadaku. “Sudah punya, Mbak,” sergahku sembari kutunjukkan HP seri Nokia 3105. “Beli lagi dong, Mas. Khan bisa buat pacarnya”. Ah perempuan, memang pandai berkata-kata. Kata-kata spontan itu telah membuatku terbungkam dalam senyum. Akupun berlalu begitu saja, meninggalkan cewek itu yang mulai sibuk menyapa para pengguna jalan yang berada di belakangku.

Cuma tiga hari aku mencermati keberadaan “penjual musiman” ini meski sambil lalu. Kesimpulanku, posisi mangkal para pedagang ini relatif tidak berubah. Kamis itu kulihat bapak penjual cilok mangkal tepat seperti hari-hari sebelumnya, tepatnya di dekat kios rokok, sekitar 600 m dari TKB. Demikian juga saat kulihat penjual petasan, ibu penjual susu segar, kedai penjual lauk pauk, dan muda-mudi gaul yang menjual minuman segar dengan memanfaatkan bagasi Honda Jazz warna silver. Mereka “beraksi” di tempat dimana aku menjumpainya kemarin. Tentu saja. tidak semua muda-mudi berjualan dengan penampilan mewah dan gaul. Ada juga muda mudi yang berjualan dengan dengan penampilan sederhana sehingga tidak bisa dibedakan dengan pedagang kaki lima beneran.

Pandanganku kemudian tertuju kepada cewek ABG, sebut saja namanya Ita. Dia menjual buah strawbey dan jus strawbery dalam kemasan gelas dan botol sambil duduk di bagian belakang mobil Kijang LGX warna biru tua. Pintu bagian belakang dibuka. Di depan Ita ada meja kecil yang dilambari dengan kain bermotif warna merah. Meja itu difungsikan untuk menaruh barang jualan Ita. Mobil dengan pintu belakang terangkat ke atas itu langsung berubah menjadi kedai mungil yang siap dikunjungi orang. Di belakang Ita, ada banyak kemasan yang mengantri untuk dijajakan. “Cepet Ma, sini. Udah mau maghrib nih. Mama kok belum berangkat sih?!”, Ita menjawab telephon dari seseorang sembari melayani para pembeli. Ita baru tahun ini berjualan TKB. Dia mengaku berjualan untuk membantu mamanya sambil mengisi waktu luang. Namun nampaknya berjualan strawbery bukan satu satunya tujuan. Ita yang sore itu dibantu oleh satu orang teman, juga membagi-bagikan brosur yang berisi tentang profil Sanggar Senam khusus wanita milik mamanya.

***

Fenomena pedagang makanan di Soekarno Hatta ini memang selalu ada di bulan ramadhan. Meski begitu, tidak semua pedagang itu adalah pedagang musiman. Jo, seorang penjual minuman buah mengaku sebelum ramadhan dia memang sudah berjualan es buah. Cuma mangkalnya di dekat Pasar Dinoyo. Demikian juga Bror, seorang penjual cilok (semacam bakso kecil yang dibuat dari tepung). Bror sudah menggeluti profesi sebagai penjual cilok selama 5 tahun. Biasanya dia mangkal di halaman Kampus Universitas Negeri Malang (UM). Aku juga sempat menghampiri seorang penjual kopyah karena memang aku ingin membeli barang itu untuk menutupi rambut gondrongku yang mulai susah diatur. Setealah aku mendapatkan barang yang kuinginkan, aku sempat ngobrol sebentar dengan Sholeh, penjual kopyah asal Pamekasan itu. Soleh baru tahun ini ikut meramaikan pasar dadakan di jalan Sukarno Hatta ini. Dia mengaku setiap hari berkeliling menjual kopyah. Dengan adanya keramaian ini, maka dia bisa mangkal tanpa harus keliling kampung. Apakah banyak yang beli? Lajang berusia sekitar 26 tahun itu menjawab dengan singkat, “al hamdululillah ada sajalah”.

Jika dibandingkan, suasana ngabuburit tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini banyak berdiri tenda-tenda yang didirikan di pinggir jalan. Selain itu, jumlah pedagang kaki lima dan “pedagang gaul” sudah mulai berimbang. Kalau dahulu jalanan ini dikuasai oleh para gadis-gadis yang menjajakan takjil dengan dandanan seksi. Kini, jumlah pedagang kaki lima nampak lebih banyak. Apalagi saat Ramadhan sudah memasuki sepuluh hari terakhir dimana jumlah muda-mudi bermobil mewah yang berjualan takjil di ruas jalan ini mulai berkurang.

Satu perbedaan yang cukup mencolok dari tahun-tahun sebelumnya adalah relokasi panggung musik yang kini ditempatkan ke areal parkiran. Meski lebih terlihat lebih luas dan lebih tertata rapi, namun pentas musik itu kurang meriah jika dibandingkan tahun kemarin. Bejo, seorang abg yang hampir setiap hari mampir di TKB, sore itu mengatakan :

“Tahun lalu khan masih di luar. Jadi arek-arek (anak-anak) yang berada diseberang jalan tetap bisa menikmati pentas ini. Tahun ini dipindah ke dalam biar gak macet. Katanya ada aturan walikota.”

Tahun lalu, setiap melintasi jalanan ini, aku selalu melihat satuan polantas Mapolresta Malang yang bersibuk ria menangani kemacetan. Ruas jalan Soekarno Hatta sebelah barat terpakasa harus menjadi jalan“dua arah” agar orang yang tidak berkepentingan melewati TKB bisa melanjutkan perjalanan dengan lancar. Namun meski tidak berniat mampir, banyak juga para pengguna jalan yang tetap memilih ruas jalan bagian timur karena mereka ingin menjadi “korban” para penjaja makanan. Mereka memang ingin berbuka puasa sembari melanjutkan perjalanan, meski hal itu harus dibayar dengan kemacetan.

Aku sempat mewawancarai Mudji sore itu. Pimpinan patroli polres itu menyatakan bahwa relokasi ini merujuk kepada peraturan walikota (perwakot) terkait kegiatan hiburan di bulan ramadhan. Termasuk masalah penggunaan jalan dan cara berpenampilan para grup band di TKB itu. Penampilan mereka harus sopan dan tidak boleh mengundang syahwat. Busyet, pantes saja sejak 3 hari yang lalu turun di panggung hiburan anak muda itu, aku tidak pernah melihat cewek band yang pakai rok mini. Paling banter T-Shirt dan celana ketat. Mudji kemudian menyarankan agar aku mencari informasi ke Pemkot atau dinas perijinan. Karena dia tidak faham masalah peraturan walikota yang aku konfirmasikan. Yang dia tahu dan kewenangannya hanyalah bagaimana mengatur lalu lintas agar lancar dan aman.

Mungkin perwakot yang dimaksud Mudji adalah Peraturan Wali Kota Malang No 28 Tahun 2007 tentang Penertiban Kegiatan Tempat Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum pada Bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Setahuku dalam perwakot itu dijelaskan mengenai tempat karaoke, diskotek, spa, pub, kafe, klub malam, shiatsu dan panti pijat di wilayah Kota Malang yang harus tutup total selama puasa dan Idul Fitri. Dalam perwakot itu juga diatur tentang aturan jam buka bagi tempat hiburan seperti bioskop, Play Station dan Bilyard. Adapun untuk pertunjukan live music baik sebagai fasilitas hotel, maupun pertunjukan di tempat umum boleh digelar pada jam 15.00 sampai jam 17.00 dengan seizin Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) terkait. Tidak ada aturan secara spesifik yang mengatur tentang live music untuk momentum ramadhan. Juga tidak ada aturan mengenai tata cara berpakaian selama pertunjukan.

Aku sempat menanyakan masalah ini kepada Ibonk, presenter sekalogus ketua EO kegiatan itu. Tepat di sebelah tenda yang berfungsi sebagai panggung itu, dia merespon pertanyaanku.

“Ah, masalah itu. Ya, ‘Perubahan Itu Perlu’. Ini bagian dari hikmah romadhan. Ramadhan membikin orang jadi dewasa dan bertoleransi.”

Ibonk, nampaknya tidak suka dengan pertanyaanku. Akupun kemudian mencoba memberikan apresiasi atas kreatifitas teman-teman band. Saya mengungkapkan pendapat secara jujur bahwa sebenarnya lebih asyik jika live music ini digelar di trotoar sehingga lebih banyak orang yang bisa menikmati sambil menunggu berbuka. Baru setelah itu Ibonk berujar kepadaku, “Memang benar sebenaranya bagus di jalan raya, tetapi arema voice selalu dipersulit, padahal ini adalah event resmi dan sudah melalui birokrasi yang rumit.”

Apapun itu, menurutku tidak ada yang salah dengan relokasi ini. Aku melihat mereka tetap memiliki kreatifitas dalam menyegarkan suasana meski tidak digelar di tepi jalanan. Bocah-bocah pengendara sepeda mungkin tidak bisa “berpartisipasi” jika acara ini digelar dipinggir Jalan. Dengan digelar di parkiran nuansa yang kudapat terasa lebih kultural. Ibu-ibu bisa menemani anak-anak mereka bermain sambil menikmati musik. Bahkan door price dari sponsor banyak yang nyantol ke para ibu dan dan anak-anak seperti saat penampilan Girl Fight  sore itu. Di tengah pertunjukan, Astin dan Ranti memanggil seorang ibu berkaos orange lengkap dengan selendang gendongnya. Sang ibu dipanggil ke depan untuk ikut berjoget sebagai pra sarat untuk mendapatkan door price. Namun sang ibu “menawar” permintaan itu dengan hanya sekedar menyampaikan salam di depan penonton. Dengan diakhiri meneriakkan slogan “Perubahan itu perlu”, sang ibu kembali ke tempat duduknya dengan senyum lebar karena mendapatkan bingkisan “istimewa” dari Astin dan Ranti.

Aku sebenarnya tidak begitu familiar dengan komunitas anak band. Namun dari pergumulanku sesaat dengan mereka, aku banyak belajar kepada mereka tentang semangat, kreatifitas, persaudaraan dan totalitas dalam melakukan sebuah peran. Lala secara khusus menyampaikan hal itu. Meski Lala dkk sudah selesai tampil mereka tetap melihat pertujukan sampai usai. Dan di akhir acara, mereka berkumpul bersama untuk menikmati takjil yang sudha disediakan oleh panitia. Menurut Lala, dalam komunitas band, persaudaraan amatlah penting. Meski mereka bersaing untuk memberikan yang terbaik di panggung pentas, mereka tetap bisa leluasa saling memuji, mengapresiasi, bahkan memberikan masukan. Meski komunitas band di Malang tidak dinaungi oleh sebuah organisasi formal, mereka selalu terpanggil untuk hadir dalam perhelatan sosial, termasuk dalam Live Music Ngabuburit di Sukarno Hatta ini.

Terima kasih Lala, terima kasih Ibonk, terima kasih Astin dan Ranti, dan terima kasih untuk semua musisi muda yang telah memberi inspirasi kepadaku untuk tetap bersemangat dan berkreasi. Bravo Kawula Muda! (Rian)