Diskursus dan wacana studi pembangunan pasca terciptanya mesin, gejolak pasca perang dunia II, dan perang dingin, mulai berkembang pesat. Wacana pembangunan hendak menjawab persoalan sosial politik yang semakin problematis. Bersamaan dengan itu, laju pertumbuhan penduduk dunia merangkak naik dan keseimbangan pendapatan pun tak terjadi. Alih-alih mensejahterakan masyarakat dunia, upaya pembangunan justru semakin memberi dampak disparitas ekonomi. Akibatnya, kita menjumpai negara maju seperti Amerika Serikat dengan jumlah pertumbuhan ekonomi pesat yang berbanding terbalik dengan negara-negara miskin.

Dengan berbagai varian, pendekatan pembangunan terus dimodifikasi. Masing-masing varian pendekatan seperti dependensi klasik, dunia ketiga, hingga pembangunan berkelanjutan telah diterapkan oleh pendukungnya masing-masing. Nyatanya sampai saat ini belum juga mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial negara-negara berkembang seperti Indonesia. Oleh sebab itu, muncullah kemudian wacana pembangunan alternatif yang mencoba memosisikan diri sebagai anti tesis dari dominasi studi pembangunan mainstream.

Salah satu wacana dari studi pembangunan alternatif ialah teologi pembebasan. Rousset beranggapan bahwa teologi pembebasan dirasa mampu memberikan sumbangsih yang signifikan dalam perubahan sosial karena lebih berpihak pada kaum tertindas.[1] Engineer juga menyatakan nada yang sama, bahwa teologi pembebasan memiliki peranan untuk membela kelompok tertindas.[2]  Artinya secara hakikat teologi pembebasan mencoba hadir dalam ruang praksis dan ilmu pengetahuan dengan upaya menyelamatkan kelompok masyarakat yang semakin tertindas secara ekonomi, sosial dan politik oleh pendekatan pembangunan kapitalistik. Tulisan ini hendak menyoal teologi pembebasan sebagai upaya untuk meneguhkan iman kita seraya beribadah di bulan suci.

Teologi Pembebasan

Teologi pembebasan merupakan suatu refleksi kritis terhadap iman yang bertitik tolak pada fenomena gerakan sosial yang melawan segala bentuk ketidakadilan. Menurut Segundo dan Pieris teologi pembebasan merupakan suatu metodologi transformatif yang betolak dari praksis. Hal ini dibedakan dengan teologi barat yang cenderung tradisional dengan mengedepankan pemahaman dari teori-teori serta pemahaman iman.[3] Oleh sebab itu, para pengkaji lebih dalam membahas bagaimana teologi pembebasan terjadi sebagai sebuah fenomena yang mampu memberikan sumbangsih dan kemudian dianalisis, bukan mempertentangkan satuteori dengan yang lainnya. Hingga pada akhirnya pengkajian teologi pembebasan memberikan sajian berupa semangat akan penerapannya, dan terlebih khusus pada suatu kondisi sosial politik yang nyaris sama dengan tempat dimana teologi pembebasan bermula dan terjadi.

Lebih jauh, teologi pembebasan masih berada pada perdebatan mengenai kebermulaan konsep dari Marxisme. Di buku Francis Wahono, Marxisme hanya dipakai sebagai salah satu tahapan pemikiran dari teologi pembebasan, dan bukan menjadikannya sebagai pijakan utama dalam teologi pembebasan.[4] Di sisi lain, Lowy membawakan teologi pembebasan dengan cara yang berbeda. Lowy menggunakan Marxisme sebagai permulaan yang sekaligus dijadikan titik kritis dalam mengkaji masalah-masalah sosial dan juga turut pula mengkaji Marxisme itu sendiri sebagai bahan untuk dikritik.[5] Engineer lebih berpandangan secara bijak dibandingkan dengan Lowy dan Francis Wahono. Dalam bukunya, Engineer memaparkan bahwa tujuan teologi pembebasan justru merupakan titik pembuktian atas kritik Marx terhadap agama sebagai candu.[6]

Di benua Amerika revolusi yang terjadi di Nikaragua, Brasilia dan El Salvador menunjukkan bukti bahwa pemikiran revolusioner Marx memiliki andil besar dalam perubahan sosial.[7] Meskipun pada awal mulanya mengalami pergolakan mengenai pemikiran Marx yang disandingkan dengan teologi gereja, namun pada akhirnya Marxisme digunakan sebagai metode untuk mengkaji dan melecutkan semangat perlawanan atas ketertindasan penduduk miskin atas kaum pemilik modal. Melalui gereja, masyarakat miskin bersama dengan para rohaniawan revolusioner mengkaji mengenai pandangan antagonisme kelas dan kesetaraan dalam kehidupan sosial.

Pada akhirnya, Marxisme dan agama sejatinya tidak dapat dipisahkan begitu saja dalam alam pemikiran. Sebagaimana diketahui ungkapan Marx yang mendalam mengenai agama sebagaimana berikut:[8]

“Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.”

Melalui ungkapannya itu, Marx dianggap oleh banyak rohaniawan sebagai sosok pemikir yang sesat dan harus dihindari. Namun, jika ditelaah lebih mendalam pada dasarnya Marx lebih memandang sinis agama dikarenakan agama tidak membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat, agama justru melanggengkan kemapanan.[9] Oleh karenanya, Lowy lebih senang menyebut Marxisme memandang agama sebagai dua sisi mata koin yang saling membedakan, namun keduanya berdialektika.[10]

Pandangan Islam

Pemikir Islam memiliki pandangan yang berbeda dengan kaum gereja. Pemikir Islam memandang Marxisme melalui jalur komunisme-nya sebagai sebuah doktrin yang perlu diwaspadai. Hal itu lebih dikarenakan para pemikir Islam berupaya menjaga Islam sebagai agama yang percaya kepada dimensi ketuhanan atau yang disebut monoteisme.  Islam lebih menitik beratkan pada sosialisme itu sendiri sebagai sebuah ajaran daripada Al-Qur’an yang sejak lama diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Pada hakikatnya jauh sebelum konsepsi kesetaraan kelas dan kajian penolakan terhadap kapitalisme yang ditelaah oleh Marx, Islam telah hadir melalui Al-Qur’an beserta Rasul untuk melakukan doktrinasi kesetaraan kelas dan menolak unsur akumulasi modal yang disebut dengan riba’. Bahkan Engineer menyebut Islam dalam pandangan teknis sosial-revolutif, sebagai agama yang memiliki tujuan tentang persaudaraan, kesetaraan dan keadilan sosial.[11] Perihal persaudaraan, kesetaraan dan kesatuan umat manusia Al-Qur’an menegaskan:

“Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling taqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui”(Al Qur’an 49:13).

Mengenai pandangan keadilan sosial dalam Islam, di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “Katakanlah:’Tuhanku memerintahkan supaya kamu berbuat adil’” (Al-Qur’an 7:29). Selanjutnya juga disebutkan, “Berlakulah adil dan itu lebih dekat kepada taqwa” (Al-Qur’an 5:8). Allah juga mengutuskan Nabi Musa untuk menjadi pembebas bagi bangsa Israel, dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah adalah pembebas bagi seluruh umat manusia dengan cara membebaskan golongan masyarakat lemah.[12]

Namun, dewasa ini para pemikir Islam cenderung bertendensi pada posisi status quo dengan rezim penguasa yang menindas, sifat ikhlas dan sifat sabar atas ketertindasan pada akhirnya membuat umat Islam berada pada ketertinggalan. Hasilnya, Marxisme diterima sebagai sebuah pemikiran yang berprevensi terhadap kapitalisme ketimbang Islam. Hal ini menarik minat pemikir Islam mengkaji lebih mendalam tentang hal tersebut, sehingga muncullah konsepsi teologi pembebasan menurut pandangan Islam. Padahal Islam telah mengajarkan substansi mendalam tentang nilai-nilai teologi pembebasan.

Teologi pembebasan menurut Engineer menekankan pada kebebasan, persamaan, dan menolak keadilan distributif serta menolak keras penindasan, penganiyayaan dan eksploitasi manusia oleh manusia.[13] Sedangkan, Hanafi mengutarakan teologi pembebasan pada ranah kiri Islam sebagai pertautan antara Islam dan unsur-unsur revolusioner.[14] Jika mengambil contoh di Indonesia, teologi pembebasan pernah hadir secara radikal ketika para ulama’ dan santri turun dalam medan juang melawan penjajah, sebagaimana dikisahkan dalam perjuangan Resolusi Jihad 1945.

Wacana Alternatif

Setelah membahas mengenai dialektika singkat mengenai teologi pembebasan, maka secara reflektif penulis memiliki mimpi besar. Bahwa Negara Indonesia dengan mayoritas penduduknya umat muslim memiliki potensi besar untuk melakukan perubahan sosial dengan basis wacana teologi pembebasan. Dengan mengedepankan kesejahteraan sosial, keadilan dan kemanusiaan yang telah tertuang dalam nilai-nilai keislaman bukan tidak mungkin Islam merupakan instrumen terdepan dalam mengedepankan pembangunan alternatif yang lebih menyejahterakan masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Michael Lowy, Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme dan Marxisme Kritis. Yogyakarta: INSISTPress, 2013.

Ali Ashgar Engineer,  Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009

Francis Wahono, Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya. Yogyakarta: LKiS, 2008

Karl Marx, Critique of Hegel’s Philosophy of Right. London: Oxford University Press, 1844

Listiyono Susanto,  Epistimologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012

Kazuo Shimogaki,  Kiri Islam. Yogyakarta: LKiS, 1993.

 [1]  Michael Lowy, Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme dan Marxisme Kritis. Yogyakarta: INSISTPress, 2013. hlm. v

[2] Ali Ashgar Engineer,  Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009. hlm.2

[3]Francis Wahono, Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya. Yogyakarta: LKiS, 2008. hlm 17

[4]Ibid., Hlm xxxi

[5] Michael Lowy, op, cit., hlm. 2

[6] Engineer, op, cit., hlm. 3

[7]Lowy, op,cit., hlm. 103

[8] Karl Marx, Critique of Hegel’s Philosophy of Right. London: Oxford University Press, 1844.Hlm. 1

[9]Engineer, Op.,cit, hlm. 3

[10]Lowy, Op., cit, Hlm. 2

[11]Engineer, op.,cit, Hlm. 33

[12] Ibid., hlm. 34

[13] Listiyono Susanto,  Epistimologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012. Hlm. 315

[14] Kazuo Shimogaki,  Kiri Islam. Yogyakarta: LKiS, 1993. Hlm. 164

Sumber gambar: http://islamicartsmagazine.com/images/uploads/Damir_Niksic_01.jpg

1 COMMENT