“Bukan tinjauan tentang agama, melainkan sosial media”

Masih menjadi perbincangan hangat bagaimana isu teror ISIS (Islamic State Of Iraq and Syiria) di berbagai dunia. Sempat merebak di dunia maya terutama Youtube, ISIS menjadi teror tersendiri bagi semua negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia adalah pengguna sosial media terbesar ke 4 di dunia.

Mengawali tahun 2016, Indonesia dikejutkan dengan ledakan bom yang terjadi di Ibukota. Hingga hari ini, ledakan tersebut masih menjadi buah bibir. Selain peristiwa ledakan, Indonesia juga diselimuti kekhawatiran munculnya gerakan baru. Yang paling fenomenal dan menggemparkan nusantara adalah fenomena GAFATAR (Gerakan Fajar Nusantara). Gafatar, yang oleh masyarakat umum dikatakan sebagai “KW9”nya NII (Negara Islam Indonesia) ini menjadi perbincangan keruh sendiri hingga mengalahkan pembicaraan ibu-ibu sosialita tentang kisah Ashoka dan Cinta Elif di ANTV.

Jika ditinjau dari aktivitas mereka di media sosial, gerakan Gafatar lebih menekankan pada gerakan sosial gaya baru yang mengedepankan kreatifitas anak muda. Jika pembaca yang budiman sekalian pernah menengok akun @gafatar tentu akan menemukan beberapa jenis gerakan. Setidaknya ada 3 gerakan yang mereka lakukan, yakni Gafatar Berbagi, Aksi Kebersihan, dan Aksi Kesehatan. Setidaknya, jika menilik pola gerakan yang mereka lakukan, tak adil jika kita memperbanyak suudhon kepada mereka. Apalagi jika perbandingannya adalah gerakan ISIS yang rutin memberikan shock therapy kepada masayarakat di penjuru bumi.

donor darah gafatar sibolga via google
Donor darah Gafatar Sibolga via google

Gafatar dideklarasikan pada hari Sabtu, 12 Januari 2012 di Gedung JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Dalam setiap gerakan dan kegiatannya, organisasi ini terwadahi dalam situs gafatar.org. Anehnya, dalam situs tersebut tidak ditemukan afiliasi dengan keagamaan yang dianut. Oleh karena itu, pada dasarnya organisasi ini mengedepankan asas Pancasila.

Pada dasar pemikirannya, Gafatar menganggap bahwa Indonesia belum merdeka seutuhnya dari neokolonialis dan neoimperialis. Karenanya, dalam bio akun twitternya, Gafatar memiliki tujuan untuk membentuk Nusantara sebagai mercusuar dunia, seperti halnya cita-cita founding father Bung Karno. Bahkan dalam pidatonya, Ketua Umum Gafatar memberikan argumentasi bahwa urusan agama bukan ranah kerja Gafatar. Urusan agama diserahkan pada ranah pribadi masing-masing individu.

Tudingan masyarakat dan media bahwa Gafatar adalah organisasi sesat bukanlah tudingan yang adil. Semacam isu tak sedap yang ingin dibesar-besarkan, mungkin karena kehabisan bahan berita. Mengapa? Karena pada awalnya Gafatar sempat dimasuki alumni NII. Tapi, menurut pihak Gafatar, oknum tersebut sudah dibersihkan hingga akar-akarnya. Dari sinilah, media dan ormas seakan mendapatkan angin segar untuk menghakimi keberadaan Gafatar. Mereka menuduh Gafatar adalah organisasi yang berafiliasi kepada Ahmad Musadeq, nabinya NII. Dari dongeng nabi-nabi inilah kemudian menimbulkan penolakan-penolakan masyarakat terhadap gerakan Gafatar.

Gafatar dan Dunia Sosial Media

Pada dasarnya, ada banyak cara dan metode untuk memahami Gafatar. Hal ini sama dengan belajar memahami seorang wanita yang runtut mulai dari kenalan, stalking, hingga SKSD dengan teman-temannya. Inilah permasalahan awal keberadaan Gafatar yang diberikan warna merah oleh masyarakat. Padahal, masyarakat Indonesia mengamini idiom tak kenal maka tak sayang. Lantas, mengapa berkata tidak jika nama saja belum tau?

Dalam tinjauan sosial media, sebagai gerakan sosial baru Gafatar tampil dengan kesan anak muda dengan kreatifitasnya. Perpaduan tokoh-tokoh di dalamnya membuat gerakan Gafatar terkesan lebih kekinian. Hal inilah yang mungkin ditakutkan oleh organisasi yang mengaku lebih senior. Sehingga, ketidakadilan sudah muncul semenjak dalam pikiran. Walhasil, semua sepakat. Gafatar adalah aliran sesat!

Meski Pemilu masih jauh, sudah lazim banyak berdiri organisai-organisai bari. Dari sini dapat dilihat bagaimana para senior khawatir jika nanti Gafatar menjadi partai politik. Kekhawatiran lain adalah apabila Gafatar nantinya menjadi ormas seperti halnya NU atau Muhammadiyah. Sudah menjadi rahasia umum jika dewasa ini basis massa adalah komoditas politik paling efektif untuk diperjualbelikan. Astaghfirullah.

Tren positif Gafatar dalam merangkul basis massa terlihat dari jumlah follower twitter Gafatar. Akun yang baru dibuat pada tahun 2012 ini sudah memiliki sekitar 2500 followers. Meskipun baru-baru ini akun tersebut membisu akibat isu miring tentang aliran sesat yang disematkan pada mereka. Sebelumnya, akun Gafatar begitu aktif membuat kultwit-kultwit tentang visi nusantara dan pancasila. Bukankah kultwit semacam ini lebih bermanfaat daripada membahas hashtag #GGS yang dilarang tayang maupun perdebatan-perdebatan bola tanpa ujung ala politisi-politisi muda Indonesia.

twitter gafatar
Akun resmi Twitter Gafatar

Selain itu, serangan-serangan yang diluncurkan terhadap Gafatar bukan hanya melalui ranah kenegaraan, melainkan juga karena efek sosial media. Banyaknya fanpage dan postingan facebook yang membahas kesesatan Gafatar membuat masyarakat awam menmbenarkan isu tersebut. Padahal, kebanyakan dari mereka hanya bermodal klik and share tanpa membaca isi postingan tersebut. Kebiasaan masyarakat kita yang cenderung lebih banyak membaca judul ketimbang isi berita.

Anggapan negatif akan keberadaan Gafatar yang mampu merangkul basis massa di sosmed maupun grass root, maka beberapa organ memilih untuk memutus rantai dari awal sebelum benar-benar besar dan mengakar. Sepertinya, kesulitan untuk mendirikan gerakan-gerakan sosial baru tidak hanya akan dihadapi oleh Gafatar, namun juga organ gerakan lain. Mengingat basis massa menjadi sangat penting mendekati Pemilu 2019.

Ironis memang. Ketika ada organisasi maupun gerakan sosial kemasyarakatan yang berusaha membawa visi nusantara dan membuat pembaharuan malah dihancurkan dengan isu agama. Keseksian isu agama memang paling efektif untuk menenggelamkan kapal besar Gafatar mengarungi nusantara. Semoga bangsa ini semakin diberikan pencerahan. Bukan hanya melihat dengan kacamata kuda keagamaan, namun juga dapat melihat fenomena dari sisi yang lainnya.

Damai Bangsaku. Jayalah Negeriku.