Benar kiranya yang dikatakan William H. Frederick, seorang Indonesianis dari Ohio. Ia menyebutkan bahwa Rhoma bukan hanya Raja tapi juga raksasa yang paling dikenal di Nusantara.

Pas lagi manggung sama Monata, Bang Haji tiba-tiba balik badan dan ngasi kode bahwa volume mikrofonnya kurang tinggi. Sontak seluruh musisi Monata gupuh ikutan ngasi kode ke operator buat meninggikan volume mikrofon Bang Haji.

Lain monata lain pula Moneta, saat refrain bagian gitar, Bang Haji dengan tenang membalikkan badan lalu berjalan tenang menuju sang gitaris. Ia mengapresiasi kepiawaian permainannya. Dipegangnya tangan sang gitaris sambil mesem-mesem. Sang gitaris yang mulanya main sambil merem-merem, menghayati plus bergaya keren, lalu membuka mata sambil gupuh menunduk seperti orang Rukuk.

Tentang kedua nama grup yang saya bahas di atas. Saya yakin keduanya juga terinspirasi dari Bang Haji. Soneta, oleh Imron Sadewo, huruf S diganti dengan M, jadilah sebuah grup besar  bernama Moneta. Grup yang pada masa kejayaannya selalu mendampingi penampilan mbakyu Evietamala.

Pun demikian dengan yang lahir belakangan, Monata. Efek domino yang dimulai dari Soneta merembet ke Moneta lalu berlanjut hingga Monata. Huruf E dari Moneta diganti dengan A, maka jadilah Monata. Belakangan muncul grup dangdut yang cukup terkenal bernama Sonata. Dari satu grup ke grup berikutnya hanya selisih beda satu huruf saja. Saya yakin kesemuanya mengidolakan Rhoma dan Soneta. Dan karenanya, nama Soneta diadaptasi, sedikit dimodifikasi, lalu dilekatkan pada grup masing-masing.

Karena Soneta pula, hingga saat ini, sebagian besar bahkan hampir seluruh grup dangdut diakhiri dengan huruf A. Sebut saja nama-nama besar grup dangdut koplo di Jawa Timur semacam New Pallapa, Monata, Sera, Sonata, Sagita, New Cobra hingga The Rosta. Entah diambil dari bahasa Inggris atau sanksekerta, nama orkes harus berakhiran A. Ora matoh yen ora A.

Jangan percaya pada lambenya William Shakespeare “apalah arti sebuah nama”, Ndiasmu!!! Setiap nama adalah doa. Lhawong Kanjeng Nabi aja dawuh “kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian”. Sampean mau pilih dadi umate Kanjeng Shakespeare atau Kanjeng Nabi monggo.

Melalui tulisan ini saya hanya mencoba memberi bukti-bukti baik, kenapa nama harus baik. Jelas sudah kiranya bahwa Soneta, Moneta, Monata hingga Sonata, semuanya adalah nama-nama raksasa dangdut. Selain karena skill para musisinya, nama baiknya lah yang membikin mereka terkenal. Silakan cari di search engine manapun, tak ada nama OM Kunama atau OM Kimcila.

Oh ya saya lupa. Grup orkes tempat saya bernaung, sebelum berganti menjadi Rekana dan Kancana, namanya adalah Yoneta. Sebenarnya bukan karena terinspirasi dari nama besar Soneta, tapi karena sang pemimpin betnama suYONo adeknya pak TAkrib. Akhirnya orkes kami itu diberi nama OM Yoneta, akronim dari Yon’e Takrib. Itulah latar belakang dan alasan kenapa orkes kami tak pernah terkenal. Karena namanya terinspirasi atas sosok yang bernama Suyono bukan dilandasi atas doa dan pengharapan dengan Rhoma dan Soneta sebagai inspirasinya.

Setelah berganti nama menjadi Kancana dan Rekana, orkes kami lumayan berkembang. Tanggapannya melintasi batas desa. Paling pol jauhnya ya cuma nyebrang sungai Brantas. Ya itu, karena namanya Kancana yang nanggap ya kanca-kancanya saja. Karena namanya Rekana, yang nanggap akhirnya ya rekan-rekannya saja. Saya sempat berpikir, andai orkes kami itu dinamai Dulurna, mungkin yang nanggap ya Cuma dulur-dulurnya saja.

Sekali lagi, karena nama adalah doa, maka tuhan akan memberi sesuai apa yang kita minta. Kepada Soneta dan Bang Haji, terimakasih atas inspirasi yang sudah panjenengan berikan selama ini. Kepada nama besarmu kupersembahkan kekagumanku.