Judul Film : Surga Yang Tak Dirindukan
Sutradara : Kuntz Agus
Pemain:  Fedi Nuril,  Laudya Cynthia Bella, Zaskia Adya Mecca, Raline Shah.
Produksi : MD Picture
Tahun : 2015

Pras (Fedi Nuril) adalah seorang anak yatim yang diasuh oleh ibunya. Di umur 7 tahun, ia ditinggalkan oleh ibunya dengan cara yang mengenaskan, sang ibu menabrakan tubuhnya tatkala ada mobil melintas. Pras kecil yang melihat kejadian tersebut dengan mata kepalanya sendiri tak urung seketika menangis tersedu-sedu. Pras kemudian diasuh oleh seorang bapak berumur 40 tahun yang juga menyaksikan kejadian tersebut.

Menginjak dewasa, Pras memiliki teman bernama Amran (Kemal Pahlevi) dan Haryanto (Tata ginting). Alkisah, ketiga pemuda ini sedang disibukkan dengan tugas akhir perkuliahan. Suatu ketika, Pras bertemu dengan Arini (Laudiya cintya bella) dan kedua temannya Shitta ( zackia adya mecca) dan Lia (Vitta mariana). Arini yang aktif di Pedepokan Dongeng terlihat sedang mendongeng dihadapan anak asuhnya.

Cerita berlanjut dengan kedekatan keduanya yang semakin hari semakin menemukan kecocokan satu sama lain. Pras yang gigih dan pekerja keras tampak begitu serasi dengan Arini yang sabar nan pengertian. Keduanya kemudian menikah dan melanjutkan hubungan ke jenjang yang labih tinggi. Setelah 5 tahun menikah, mereka dikaruniai seorang anak wanita yang lucu dan cantik.

Suatu ketika, tatkala sedang bepergian untuk menyusul Arini ke rumah keluarganya. Pras dikejutkan dengan kecelakaan yang terjadi didepan matanya. Melihat hal tersebut, Pras mencoba menolong pengendara mobil yang ternyata adalah seorang wanita bernama Mei Rose (Raline Shah). Mei akhirnya selamat beserta bayi yang dikandungnya. Mei juga menceritakan mengenai broken home yang terjadi di keluarganya serta tragedi lelaki yang tidak mau tanggung jawab atas buah hatinya. Mendengar jeritan hati Mei, perasaan Pras bergejolak tak karuan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menikahi Mei agar kehidupan bayi dan Mei tetap berlanjut. Pernikahan tersebut terjadi diruang persalinan yang disaksikan oleh Amran dan hariyanto. Nekat! Tanpa sepengetahuan Arini, Pras melakukan poligami.

Setelahnya, Pras melanjutkan perjalanan untuk menyusul Arini di rumah mertuanya. Malangnya, tatkala sampai rumah mertuanya disana sudah banyak orang berkumpul. Tak dinyana, Ayah Arini yang juga mertua Pras meninggal dunia. Setelah prosesi pemakaman selesai, Ibu Arini menceritakan bahwa ayahnya memiliki istri lain selain ibunya, dengan dalih ingin menolong bapaknya menikahi seorang wanita tersebut. Arini dengan lantang mengatakan “ Apakah tidak cara lain untuk menolong dengan tanpa dinikahi?”. Dengan kecewa dan marah Arini meninggalkan ibunya. Pras sedari tadi mendengarkan Arini dan ibunya sedang berbicara diruang lain, saat itu juga Pras bingung dan tidak berani mengungkapkan kepada Arini bahwa ia juga melakukan yang demikian, sehingga ia ingin membicarakan pada saat momen yang tepat.

Tepatlah pepatah bahwa serapi apapun rahasia, tetap akan muncul dan terbuka pada akhirnya. Arini akhirnya bertemu dengan Mei Rose dalam situasi yang tidak diharapkan. Arini marah, ia lantas pergi dari rumah dan meninggalkan rumah yang selama menjadi surga untuk keluarga kecilnya. Mei Rose bingung, Pras stres yang lantas membuat kerjanya juga hancur dan berantakan. Di akhir cerita, Mei Rose memilih mengikhlaskan cintanya dan Pras kembali ke pelukan Arini.

Film ini menegaskan bahwa perselingkuhan bukanlah sesuatu yang layak dilakukan. Bahkan, meskipun agama telah memperbolehkan untuk berpoligami, tak lantas kemudian tanpa aturan yang seenaknya boleh dilewati. Agaknya, sang sutradara ingin mengajak penonton semua untuk belajar menyelesaikan masalah dengan berbicara. Menghadapi masalah tak hanya dengan diam, meskipun terkadang ada beberapa hal yang lebih baik didiamkan. Benar pula iklan salah satu minuman yang berslogan “Mari nge-teh, mari bicara”.

Pesan lain yang dapat dipetik dari film ini merujuk pada merelakan dan mengikhlaskan. Tepat sebagaimana yang dikatakan oleh MasBen; Syari’at cinta adalah menjaga, Thariqot cinta adalah memperbaiki, Hakikat cinta adalah merelakan, dan Ma’rifat cinta adalah mengikhlaskan. Dan untuk para wanita, perlu diingat bahwa keberkahan istri berasal dari keridloan suami.

1 COMMENT