Judul: Echoes

Sutradara: Nills Timm

Pemain: Steven Brand, Kevin Brewerton, Ivory Dortch, Kate French, J.J. Nolan

Produksi: A Fat Free Film Production

Tahun: 2014

 

Film ini dimulai dengan pengalaman seorang perempuan muda, Anna namanya, yang terbaring di atas tempat tidur dan mengalami apa yang orang Jawa maksud dengan lindiyen atau tindiyen (ketindihan). Dalam pemahaman dunia kita, Anna ada di batas antara sadar dan tidak sadar tapi tak mampu mengatur kesadarannya. Kesadarannya tak penuh, tak benar-benar bisa digunakan untuk mengendalikan diri. Di film ini, atau di Barat pada umumnya, orang-orang mengenalnya dengan sleep-paralysed atau lucid dream. Secara tidak langsung, film ini hendak menjelaskan secara saintifik bagaimana mereka mengatasi tindiyen.

Beberapa kali Anna berusaha mengatasi problemnya, namun ia selalu gagal. Hingga perempuan yang tidak menyukai bunga ini suatu ketika kecanduan obat tidur, karena penyakitnya akan kambuh tiap sebelum tidur jika ia terlalu lama terbaring menunggu terlelap. Paul, duda yang merupakan pacar Anna, tidak menyukai cara Anna mengatasi penyakitnya. Paul mengganti obat tidur itu dengan vitamin C. Hingga ia mengajaknya ke sebuah villa rumah kaca di Joshua Tree, sebuah taman nasional di AS, untuk menghiburnya dan menyingkir dari hingar bingar kota. Namun justru di tempat itulah Anna mengalami teknan lebih mengerikan yang berasal dari masa lalu Paul.

Di Joshua Tree, Anna tidak mendapatkan efek signifikan dari obat tidur yang ternyata vitamin C yang dikonsumsinya. Untuk keperluan pekerjaan, Paul meninggalkannya ke kota sementara. Semalaman di hari keduanya itu, Anna benar-benar tidak bisa tidur sampai matahari terbit. Ia dihantui baying-bayangnya sendiri, apalagi ia sempat merasakan ada keganjilan di villa yang ia inapi. Perasaan terhantuinya semakin nyata ketika ia lari pagi ke sebuah danau kecil bersama anjingnya. Slayer yang ia kenakan dihembus angin kencang dan slayer itu tak menyentuh tanah, seakan dikenakan seseorang lalu berjalan mendekat padanya. Ia pun lari, tapi tersesat hingga seseorang menemukannya pingsan.

Singkat cerita, Anna semakin curiga, menelpon Paul sekuat tenaga tapi tak ada respon jelas karena di sana jarang ada sinyal untuk telepon genggam. Paul pun tak datang menjemputnya. Sebagian dinding rumah kaca yang ia tempeli kantong plastic hitam agar ia tidak bisa melihat keluar, tapi ternyata di sana malah tertulis coretan tak jelas berwarna hitam yang seakan-akan mengancamnya habis-habisan. Hanya ada sekalimat susunan angka: 020312. Ia semakin bertanya-tanya, tapi menuju ke siapapun. Seorang lelaki yang ia temui sepulang olahraga dan menolongnya ketika pingsan, Jeremy, hanya bercerita sepotong-sepotong soal masa lalu villa kaca itu dibangun. Rasa penasarannya semakin menguat dan membuatnya mengigau dengan membunuh Jeremy, semacam sleep-walking yang mengerikan, atau mungkin ini bisa digambarkan dengan terminologi sleep-killing.

Bagi Vaughan Bell (2014), kejadian semacam ini, entah kita menyebutnya ketindihan atau sleep-paralysed atau lucid dream, karena adanya neuron yang terblokade di otak untuk melakukan hubungan sinyal pendek antara tindakan dan pikiran. Pembunuhan yang Anna lakukan pada Jeremy dan seorang paranormal yang hendak membantunya adalah contoh kasus dari lepasnya kesadaran lalu dikuasai oleh ambisi negatif untuk melakukan kekerasan. Bagi Bell, cara untuk mendiagnosa lucid dream atau ketindihan adalah dengan melakukan proses perekaman melalui cara yang sama dengan kejadian itu. Hal ini tergambar pada seorang paranormal yang hendak membantu Anna. Ini menunjukkan betapa di AS utamanya, dukun pun telah masuk pada praktik yang tak sepenuhnya mistis. Ia menggabungkan antara mistik dengan diagnosa saintifik untuk mengetahui sejauh mana ambisi (roh halus) yang menyusupi Anna menguasainya.

Praktik perekaman peristiwa di luar kesadaran yang Anna lakukan dengan dukun itu memang berhasil. Si dukun bahkan bisa menyambungkan kesadarannya dengan ketidaksadaran yang Anna alami. Menjadi menarik apabila kita bertanya mereka melakukannya, apalagi ada kesan percampuran sains dan praktik perdukunan kuno. Di proses itu mereka mengetahui masa lalu Paul. Dalam ketidaksadarannya, Anna berjumpa Vera Palm, arsitek perempuan dan mantan pacar Paul, yang terbunuh oleh suatu sebab aneh di danau dimana Anna telah mengunjunginya di pagi hari keduanya di villa kaca. Lambat laun, diketahui bahwa Vera Palm pulalah yang menjadi arsitek pembangunan villa dengan tampilan mengesankan itu. Singkat cerita, kenyataannya Paul sendirilah yang membunuh Vera Palm karena ia menganggap arsitek perempuan itu mengganggu pekerjaannya pasca mengalami kecelakaan parah hingga tunanetra dan memiliki keterbatasan akses (difabel) lainnya.

Dari film ini kita bisa ambil pelajaran penting mengenai posisi kesadaran dan ketidaksadaran. Selain film ini menunjukkan bagaimana sleep-paralysed, lucid dream, atau ketindihan itu bisa diuji secara saintifik, ia juga mengungkapkan secara eksplisit bahwa kenyataannya manusia modern dikuasai ambisi yang menghalangi maksud real dari tindakan, hubungan timbal balik antara masa lalu dan masa yang sedang berjalan kini. Maka Zizek menjadi benar ketika mengungkapkan di film Marx Reloaded, “Barangkali kau menyadari bagaimana kenyataan itu ada, tapi tindakanmu mengikuti ilusi yang menunjukkan bahwa kau tidak sadar.”