Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) tengah laris menjadi pembicaraan di media massa. Pasca dilegalkannya undang-undang pernikahan sesama jenis di 30 Negara Bagian Amerika Serikat dan Ibu Kota Washington DC, jagat raya kembali geger. Namun, apakah masalah ini memang masih baru untuk diperdebatkan?

Jauh sebelum LGBT ala Amerika kini nyaring terdengar, dari dahulu praktik-praktik macam ini sudah terjadi. Kaum Sodom di masa Nabi Luth misalnya. Kebiasaan melakukan hubungan badan sesama jenis kala itu lazim terjadi. Tak perlu terlalu terperinci, semua orang tau bahwa kaum tersebut kemudian dilaknat dan diberikan azab oleh Allah.

Cerita macam Kaum Sodom di zaman Nabi Luth juga pernah terjadi di Indonesia. Tepatnya di Dukuh Lemateng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Di kawasan Lembah Dieng, terdapat masyarakat desa yang melakukan tindakan di luar batas selayaknya Kaum Sodom yang kita pahami. Mereka kemudian dilaknat dan diazab, desa tersebut diberikan “anugerah” kawah panas Dieng.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Mulku Zahari bahwa sejarah adalah tentang pengulangan-pengulangan yang konstan. Kejadian di masa lampau macam budaya amoral kini juga kembali terjadi. Hanya saja yang menjadi pembeda adalah masyarakat hari ini lebih pintar dalam mencari dan menggarisbawahi alasan. Atas nama kebebasan dan kemanusiaan, begitu kata mereka.

Virus LGBT juga tak pelak menyerang Indonesia. Semakin hari komunitas ini semakin bertambah, terutama di kota-kota besar yang tipologi masyarakatnya lebih terbuka. Masyarakat perkotaan yang cenderung cuek dan acuh pada sekitar menjadi sasaran empuk pembudidayaan komunitas LGBT. Mereka yang mulanya hanya sedikit, makin hari makin banyak-yang awalnya diam-diam, kini mulai berani menampilkan dirinya ke khalayak umum.

Kampanye yang dilakukan kaum LGBT terus menghiasi media massa. Mereka bahkan sempat turun jalan untuk menyuarakkan dukungan terhadap pelegalan LGBT di Amerika. Artinya apa? Masyarakat kita kini mulai mengalami pergeseran perilaku, pola pikir dan budaya. Jika dahulu hal-hal yang dianggap tabu banyak yang disembunyikan, kini sudah tiada lagi yang seperti itu. Mereka berani dan aktif meneriakkan beberapa hal tabu, sebutlah ketidakpantasan.

Denys Lombard dalam bukunya berjudul “Nusa Jawa: Silang Budaya” pernah berkata bahwa masyarakat Jawa (Indonesia) adalah masyarakat yang gemar mengalah dan pandai menempatkan diri. Lombard menggarisbawahi jika ciri masyarakat kita adalah pada superioritas budaya adat yang hingga kini mengakar begitu kuat. Termasuk menempatkan diri pada sesuatu yang dianggap tidak pantas. Jika LGBT ialah ketidakpantasan, berdasarkan apa yang dikatakan Lombard, tentu masyarakat Jawa akan lebih memilih ngalih atau menghindar. Bukan malah ikut aksi turun jalan dengan tulisan “Penuhi Hak-Hak Kemanusiaan LGBT” ditangannya.

Andai diperbolehkan melebarkan sedikit topik, hiruk-pikuk seputar prostitusi artis juga hampir mirip dengan LGBT. Awalnya, praktik ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan oleh kalangan tertentu saja. Moeammar Emka pernah berkata, “Dahulu prostitusi artis dilakukan dengan sembunyi-sembunyi sekarang malah nyablak.” Maka menjadi benar apa yang dikatakan oleh Emka jika hari ini kelumrahan akan prostitusi artis seolah sudah diberikan oleh masyarakat.

Merujuk pada data Kementerian Kesehatan pada tahun 2012, jumlah gay sudah mencapai 1.095.970. Angka fantastis tersebut tentu saja mencengangkan. Apalagi masyarakat kita sedari kecil menanamkan pendidikan seksual dan gender. Lantas, adakah yang salah dengan pendidikan atau kebiasaan kita?

Menurut Sosiolog Budaya UI, Dewie Rahmawati, ada beberapa hal yang menjadikan LGBT semakin menjamur di Indonesia. Faktor paling besar ialah karena memang tren LGBT di dunia sedang naik dan budaya populer luar yang semaking gencar masuk ke Indonesia. Produk-produk budaya populer seperti film yang memperlihatkan kehidupan LGBT misalnya. Awalnya mungkin masyarakat akan tabu dan risih menontonnya. Namun, lama-kelamaan akan menjadi biasa.

Tresno jalaran soko kulino. Sesuatu yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang terus menerus diberlakukan akan menjadi kebudayaan. Dan kasus LGBT pun bisa jadi demikian.

Perlu upaya pencegahan dari diri sendiri dan pemerintah untuk mengembalikan tatanan. Bukan hanya atas dasar kemanusiaan, tapi juga moral, pendidikan dan kesehatan. Harus ditekankan pula jika bangsa ini punya sejarah panjang berikut dengan adat istiadat yang mengiringinya. Bangsa ini bukan Amerika, yang bangga dengan budaya bebasnya-yang bahkan akar rumputnya adalah pemberian bangsa Eropa.

 

Sumber gambar: https://www.tcd.ie/equality/assets/images/lgbt-flag.jpg