Judul : Kok Putusin Gue
Sutradara: M. Harmoko
Pemain : Dara The Virgin, Stefan William, Mita The Virgin, Igor Saykoji, Sonita
Produksi: Studio Sembilan Production & 0708 Films
Tahun : 2015

Film ini di angkat dari novel karya Ninit Yunita dengan judul yg sama dengan film “Kok Putusin Gue”. Cerita film dimulai dari kehidupan Maya (Dara The Virgin) yang sedang sakit hati karena diputus pacarnya. Pacar Maya adalah Hari (Stefan William), kedua pasangan ini sudah sekian lama menjalin hubungan.

Maya adalah gadis pintar yang juga jago dalam taekwondo dan fasih berbicara dalam bahasa Prancis. Sedangkan, Hari merupakan pemuda biasa yang kebetulan berpacaran dengan Maya. Kisah kemudian berlanjut dengan cerita mengenai kesetiaan dan kepercayaan yang diberikan oleh Maya kepada Hari. Adegan dan cerita film yang mungkin hari ini sering dijadikan pedoman pacaran cabe-cabean.

Suatu ketika, Hari mengajak Maya ke Jakarta. Maya mengira bahwa ia akan diperkenalkan dengan orang tua Hari. Namun, hal yang terjadi adalah Hari memutuskan hubungan dengan Maya dengan alasan minder dan tidak pantas jika harus bersanding dengan Maya. Mendengar hal tersebut, Maya yang begitu mencintai Hari kaget dan menangis tanpa henti. Adegan ini juga pastinya dipraktekkan oleh para Ababil (ABG labil) hari ini.

Maya kemudian menceritakan hal tersebut kepada Rini (Mita The Virgin). Setelahnya, Rini menyarankan kepada Maya untuk menemui dan memperbaiki hubungan kembali dengan Hari. Saat ditemui di kampus, Hari terlihat sedang bermesraan dengan wanita lain. Maya yang tak tahan dengan pengkhianatan dari Hari kemudian merencanakan pembalasan dan bertekad membuat Hari menderita. Maya kemudian meminta bantuan Rini dan mulai melaksanakan agenda balas dendamnya. Mulai dari mencopet hari hingga menyewa tukang pukul untuk membuat Hari jera.

cabe-cabean
Gambar Pacaran ala anak SMP-SD dan salah satu adegan di film Kok Putusin Gue

 

Film ini menceritakan kisah cinta muda-mudi masa kini. Film yang dapat menginspirasi sekaligus membuat candu yang negatif. Cerita yang ditampilkan tidak lepas dari konflik hati dan respon dari ketidakpuasan terhadap sebuah keputusan. Well, akan lebih baik film ini dijauhkan dari anak-anak. Sudah cukup, generasi penerus bangsa kita sudah banyak yang tak karuan.