Dari sekian banyak film-film klasik yang menyuguhkan aksi heroik, The Magnificent Seven tidak boleh tidak untuk dimasukkan ke dalam salah satu daftar film terbaik. Setidaknya dengan alasan bahwa kisah yang dimuat begitu menggugah kesadaran dalam mengupayakan keadilan. Film garapan sutradara Antoine Fuqua ini menceritakan tentang perjuangan tujuh orang (pemberani/ksatria) melawan seorang pemilik tambang kejam yang terjadi pada abad 18.

Awal cerita film The Magnificent Seven dimulai dengan Bartholomew Bogue yang memiliki tambang emas di Kota Rose Creek dan menjadi penguasa di sana. Bogue bekerjasama dengan komplotan agen-agen Black Stone. Dengan jumlah pasukan yang tak terbatas itu, mereka tak segan-segan untuk melakukan cara-cara kekerasan terhadap masyarakat setempat. Tindakan-tindakan intimidasi tersebut bahkan terbukti melumpuhkan Sheriff dan menjadikannya tidak kurang dari formalitas saja.

Bogue adalah pengusaha yang rakus akan harta. Ia tidak cukup jika hanya mengeruk emas melalui perusahaan tambangnya. Lebih dari itu, ia menginginkan setiap jengkal tanah milik warga Rose Creek.

Ketika orang-orang berkumpul di gereja, Bogue mendatangi mereka dengan menawarkan pilihan–atau lebih tepatnya perintah. Yakni mengambil sejumlah uang (untuk harga tanah mereka masing-masing) lalu pergi, atau tetap mempertahankan tanahnya dengan konsekuensi terburuk akan dihabisi. Sebelum kembali ke Sacremento, Bogue memberikan ultimatum pada saat ia kembali, semua orang harus bersedia untuk menandatangani kesepakatannya.

Sebelum jatuh tempo (tiga pekan) kedatangan Bogue, Emma Cullen bersama rekannya, Teddy Q, berinisiatif untuk menyewa orang sebagai penjaga. Di Kota Amador, ia bertemu dengan Sam Chilsolm. Chilsolm (spesialisasi bounty hunter) adalah seorang perwira tinggi, petugas perdamaian di Kansas dan tujuh negara bagian lainnya. Dengan sedikit penjelasan serta iming-iming hadiah dalam jumlah besar berhasil membuat Chilsolm menerima tawarannya.

Selanjutnya, Chilsolm kemudian mengumpulkan enam orang lain dengan keahlian berbeda-beda untuk diajak bergabung dalam menyelesaikan pekerjaan yang tergolong mission impossible ini. Keenam orang itu adalah Josh Faraday (explosive), Goodnight Robicheaux (Sharpshooter), Jack Horne (Tracker), Vasques (Mexican outlaw), Red Harvest (Comanche warrior), dan Billy Rock (Assassin).

The Magnificent Seven sebenarnya bukanlah karya baru di dunia perfilm-an. Film yang dirilis pada akhir September lalu ini merupakan remake dari sebuah remake. Atau film ketiga yang membawakan kisah serupa. Sebelumnya, sutradara John Sturges membuat film dengan judul sama pada tahun 1960. Sedangkan yang pertama kali muncul adalah versi Jepang dengan judul asli Shicinin no Samurai (1954) karya sutradara legendaris Akira Kurosawa yang kelak lebih dikenal dengan Seven Samurai.

Aktualisasi Kisah The Magnificent Seven

Harus diakui, Emma melakukan sesuatu yang luar biasa. Tidak semua orang mempunyai cukup keberanian untuk melakukan tindakan seperti itu. Bayangkan saja, mayoritas warga Rose Creek adalah petani dan tidak pernah sekalipun terlibat pertarungan ataupun peperangan. Ditambah lagi dengan sikap pesimis yang sudah mendarah daging. Rasanya tidak ada harapan untuk lepas dari cengkraman Bogue.

Di tengah kondisi dilematis, Emma membangkitkan semangat mereka untuk melawan penindasan Bogue. Emma bukannya tidak sadar akan risiko ketika memulai tindakan perlawanan. Namun niatnya adalah untuk mengakhiri semua itu seperti jawabannya kepada Chilsolm sebelum keduanya menemui Faraday.

Film ini sedikit banyak mengingatkan kita terhadap peristiwa yang menimpa masyarakat di sekitar Pegunungan Kendeng dan banyak daerah lain di Indonesia. Sengketa dengan PT Semen Indonesia beberapa waktu lalu masih sebelas-dua belas dengan apa yang dialami Emma bersama tujuh orang asing dua abad silam. Untuk mempertahankan tanahnya, warga Kendeng harus menghadapi komplotan penguasa. Mulai dari akademisi yang membuat analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) abal-abal, kekerasan para tentara sewaan korporat, hingga sikap Gubernur yang lebih memilih berada pada posisi “netral”–untuk tidak menyebut keberpihakannya pada perusahaan-dalam kasus ini.

Meskipun pada akhirnya Mahkamah Agung mengabulkan gugatan PK yang dilakukan oleh warga Kendeng. Jangan lupakan bahwa mereka pernah mengorbankan kaki untuk disemen, mendirikan tenda di lokasi pabrik yang katanya menawarkan teknologi ramah lingkungan dan sejumlah perlakuan kekerasan fisik yang tidak terhitung.

Hal yang sama juga sangat layak untuk dialamatkan kepada Sam Chilsolm dan kawan-kawannya. Bukan hanya karena kontribusinya yang dengan telaten menyusun strategi jitu serta melatih warga bagaimana caranya berperang menghadapi pasukan Bogue. Rasa solidaritas yang kuat adalah hal lain yang mereka berikan sepenuhnya untuk Rose Creek. Motivasi mereka dari yang semula berorientasi pada upah, bertransformasi menjadi jiwa kepahlawanan penuh sukarela.

Muasal kisah di atas pada dasarnya tidak jauh-jauh dari satu pertanyaan yang pernah diungkapkan oleh Emha Ainun Nadjib, “Kalau dari kota ke dusunmu dibangun aspal, apakah itu diperlukan untuk mengangkut kesejahteraan dari kota agar merata ke dusunmu, ataukah untuk menyerap kekayaan dusunmu untuk penghuni kota?”

Semestinya yang pertama bisa sekaligus menjadi jawabannya. Sehingga tidak perlu lagi ada gelombang perlawanan seperti di Berau, Banyuwangi atau daerah lainnya. Tapi apa boleh bikin, hubungan antara pemodal dengan “raja-raja lokal” kian intim. Jadi cukup jangan lupa bahwa justice has a number.

Judul: The Magnificent Seven (2016)
Sutradara: Antoine Fuqua
Pemain: Denzel Washington, Chris Pratt, Ethan Hawke, Vincent D’Onofrio, Byung-hun Lee, Manuel Garcia-Rulfo, Martin Sensmeier, Peter Sarsgaard, Haley Bennet
Produksi: Sony Pictures
Rilis: 21 September 2016

 

Sumber gambar: http://cavalcade.news/wp-content/uploads/2016/09/the-magnificent-seven-2016-5k.jpg

 

Oleh: Tofiq Ridlo