William Shakespeare adalah bentuk keabadian seorang penulis. Ia adalah rujukan-metronom-bahkan episentrum, bagi mereka yang begitu menggilai sastra. Karya-karyanya kekal-tak lekang oleh zaman. Dan Romeo-Julia, adalah tragedi terbesar yang pernah ia hasilkan.

Romeo dan Julia adalah cerita asal Tanah Romawi yang masyhur akan trisula gladiatornya. Cerita tersebut kemudian mengalami reinkarnasi beberapa kali. Shakespeare adalah orang ketiga yang memberikan sentuhan, setelah Arthur Brooke dan William Painter. Oleh Trisno Soemardjo, pada 1955 cerita tersebut disadur dan dialihbahasakan. Pada tahun 2010, Manda Malawita menjadi dalang pengalihbahasaan yang hingga kini menjadi salah satu novel paling laris di pasaran.

Novel dengan tebal 184 halaman ini bercerita tentang kisah cinta yang memilukan. Tiap bait katanya begitu menawan, hingga tak sadar-ketika membacanya-pipi telah dipenuhi air mata yang menggenang. Kekuatan terbesar dari Novel ini terdapat pada penggunaan bahasa yang indah. Banyak perumpamaan dan majas personifikasi yang menjadi bumbu sedap penyuguhan cerita cinta.

Tragedi di Verona, Italia

Syahdan, di Verona sedang terjadi perseteruan antara keluarga Montague dan Capulet. Perseteruan kedua keluarga tersebut hingga membuat Pengeran Verona turun tangan. Sang pangeran memberikan ultimatum hukuman mati jika terjadi kekerasan. Sementara itu, Paris, sanak saudara pangeran berniat untuk menikahi Julia. Namun, Lord Capulet meminta Paris bersabar dengan alasan usia Julia yang masih muda.

Romeo adalah anak kesayangan keluarga Montague. Ia menyukai Rosaline, salah satu gadis dari kalangan orang tersohor pula. Namun, cintanya bertepuk sebelah tangan hingga membuatnya mengalami keterpurukan. Mengetahui hal tersebut, orang-orang di sekitarnya merasa khawatir. Akhirnya, mereka menyarankan Romeo untuk datang di pesta dansa yang diadakan oleh keluarga Capulet.

Meski tau risiko yang kemungkinan terjadi, Romeo akhirnya datang karena Rosaline juga hadir di pesta tersebut. Ia kemudian mencari Rosaline, namun tak jua kunjung bertemu. Di sela-sela pencahariannya, ia bertemu dengan Julia. Hati kedua anak adam ini berdebar. Kuch kuch hota hai (red: sesuatu terjadi). They have fallen in love at first sight.

Lukisan Balcony Scene karya Frank Dicksee via google
Lukisan “Balcony Scene” karya Frank Dicksee via google

Setelah kepulangannya dari pesta tersebut, Romeo gelisah. Dalam benaknya yang ada hanya Julia. Hingga pada suatu malam, ia nekat menemui Julia di kediamannya. Lewat bagian yang sering disebut “balcony scene“, Romeo mengendap-endap ke halaman rumah Capulet. Disana ia mendapati Julia sedang berkelakar tentang cintanya kepada Romeo. Sontak saja, Romeo langsung mendatanginya. Pertemuan keduanya kemudian menghasilkan janji setia untuk menikah tanpa sepengetahuan keluarga.

Meski mengetahui bahaya yang siap menghadang, keduanya tak menyerah. Bahkan, sepasang kekasih ini berkeinginan untuk menyelesaikan masalah keluarga mereka. Dengan bantuan Pastor Lawrence, mereka kemudian menikah secara diam-diam. Namun, di tengah kebahagiaan tersebut tetiba masalah terjadi. Sahabat terbaik Romeo meninggal di tangan Tybalt, sepupu Julia. Mengetahui hal tersebut, Romeo naik pitam. Ia kemudian membunuh Tybalt.

Permusuhan kedua keluarga kembali meruncing. Capulet kemudian mengambil keputusan untuk segera menikahkan Julia dengan Paris. Ia tak mengetahui jika Julia sudah menikah dengan Romeo. Mengetahui rencana ayahnya, Julia kemudian bercerita kepada Pastor Lawrence. Setelah berdiskusi, keduanya sepakat untuk membuat rencana cerdik guna menipu Lord Capulet.

Julia meminum sebuah racun yang dapat membuatnya mati suri selama dua hari. Ia kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti mati milik keluarga Capulet. Namun, rencana tersebut gagal dipahami oleh Romeo. Ia hanya tau jika Julia sudah meninggal.

Tak mau berpisah dari kekasihnya, ia kemudian membeli racun di apotek dan segera meminumnya. Romeo pun meninggal dunia. Beberapa saat setelahnya, Julia terbangun. Ia mendapati suaminya tergeletak disampingnya tanpa nafas. Julia menangis-mengetahui jika suaminya telah tiada. Akhirnya, Julia mengambil sebilah pisau. Ia sayatkan ke tubuhnya. Julia mati-menyusul suaminya.

Pasca kematian kedua pasangan tersebut. Keluarga Capulet dan Montague bertemu secara tidak sengaja. “…Oh saudaraku Montague, berikan tanganmu. Aku tak bisa meminta apa-apa lagi, selain demi kehendak putriku untuk mendamaikan kita,” ucap Tuan Capulet sambil mengulurkan tangan. Uluran tangan Tuan Capulet disambut Tuan Montague. Keduanya bersalaman! Yang hadir bertepuk tangan. Kejadian amat langka tetapi sangat diharapkan oleh semua penghuni Verona telah berlangsung. Tuan Montague runtuh keangkuhannya, demikian juga Tuan Capulet. Mereka menjadi sahabat kembali…” (hlm. 181).

Simbol Keabadian dan Perdamaian

Kisah ini membuat kita paham betapa kekuatan cinta mampu mempersatukan perbedaan. Sistem di zaman kerajaan yang menghendaki banyak perbedaan dan persaingan seketika runtuh tatkala diterjang jalinan cinta Romeo dan Julia. Karenanya pula, ketidakakuran dua keluarga tersatukan.

Romeo yang berkeinginan luhur menciptakan perdamaian sudah sepantasnya diacungi jempol. Ia seperti titisan Tuhan yang diutus ke bumi untuk berkorban demi kedamaian. Meski tak bisa disamakan, hampir mirip kisah Yesus, bukan? Dan Julia, ada dipihak paling ikhlas dalam memperjuangkan cinta.

Andai memang benar bahwa ini adalah kisah nyata, mungkin kedua insan yang diinisialkan menjadi Romeo dan Julia tak pernah tau, jika kisah mereka abadi tanpa mengenal waktu. Mereka melegenda, saat mereka sendiri tak pernah mengetahuinya. Pun begitu dengan Shakespeare yang baka, namanya harum sepanjang masa. Ia memang semestinya berbangga, karena Romeo Julia adalah juara. Atau mungkin mereka semua kini sedang tersenyum bahagia, di nirwana sana.