JAWA memiliki tradisi yang sangat kaya dan beragam. Setidaknya selama seribu tahun, karya-karya sastra telah dihimpun mulai dari sumber-sumber kuno Sansekerta; legenda kerajaan dalam Pararaton dan Negarakertagama; sejarah Mataram dalam Babad Tanah Jawi, Serat Centhini, serta syair-syair didaktik yang berpengaruh karya Mangkunegara IV abad XIX, karya-karya Ki Hadjar Dewantara serta Ki Ageng Soerjomentaram di abad XX, dan sebagainya. Yang mengesankan, karya-karya tersebut memperlihatkan corak berkesinambungan yang benar-benar hidup. Kitab-kitab monumental tersebut tidak hanya sebuah karya yang selesai di tingkat pikiran, namun juga telah menjelma menjadi sebuah tradisi yang kini kita sebut sebagai Jawanisme.

Jawanisme merupakan proses yang secara sadar maupun tidak dijadikan sebagai pedoman hidup dan tata cara berperilaku. Memang, seperti ditulis oleh Mulder (2001:4), Jawanisme (baca juga: kejawen) bukanlah suatu kategori religius tertentu. Ia lebih merujuk pada sebuah etika, corak dan gaya berpikir yang mengilhami perilaku orang-orang Jawa. Sehingga ketika ada yang mengungkapkan kejawaan mereka dalam praktik-praktik religius, hal tersebut tak lebih sebagai corak yang secara dominan mewarnai tingkah laku mereka.

Satu hal lagi, Jawanisme menurut Muelder merupakan produk pertemuan antara Islam dengan peradaban Jawa kuno; juga merupakan produk penjinakan kerajaan-kerajaan Jawa oleh Hindia Timur (VOC); atau juga adalah hasil pertemuan antara kolonial dengan orang Jawa. Gesekan-gesekan itu lantas mau tidak mau memacu orang Jawa untuk merefleksikan dirinya sendiri dan mengkonstruksi sebuah budaya dan jati diri yang betul-betul merepresentasikan kejawaan mereka. Sehingga Jawanisme bisa disebut sebagai sesuatu yang lebih kurang “asli”, hasil refleksi dan sublimasi berbagai pertentangan yang ada dulu kala.

Tarik-menarik perdebatan tentang posisi eksistensi Jawanisme tersebut ke dalam ranah agama, menjadi diskusi panjang di masa pra dan pascakemerdekaan. Bahkan, guna menertibkan anarki keagamaan yang mencuat di masa itu, Presiden Soekarno menyatakan bahwa hanya agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu saja yang mendapat pengakuan resmi (Mulde, 2001). Selain itu dilarang dan dibubarkan atas rekomendasi Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri. Selanjutnya, di masa-masa kudeta 1965, Islam bergerak menyerang kelompok kebatinan ini lantaran menganggap mereka sudah disusupi oleh komunisme yang ateistik. Bahkan di Presiden Soekarno sendiri mengingatkan akan bahaya ilmu hitam, ekspresi klenik mistisisme Jawa. Sampai pada era 70an bisa dilihat pressure pada aliran yang sebenarnya monoteistik ini.

***

APA dan siapa sebenarnya aliran (gerakan) ini? Premis dasar untuk memahami aliran ini bisa kita runut dalam mitologi Jawa. Seperti kita tahu, dalam mitologi Jawa, yang diadopsi dari epos Ramayana dan Mahabharata, kehidupan dilihat sebagai proses pertempuran antara “yang baik” dan “yang buruk”; antara “kekacauan” dan “ketertiban”. Kekacauan direpresentasikan oleh Bala Kurawa dan ketertiban oleh Pandawa Lima. Kurawa adalah manifestasi dari kesombongan, keangkaramurkaan, penuh nafsu, dan egois. Sementara Pandawa adalah penjelmaan dari kehidupan yang harmonis, tentram, sepi dari konflik. Cerita selanjutnya, perang yang diungkapkan melalui prosesi Bharata Yudha itu pada akhirnya dimenangkan oleh Pandawa Lima, lima bersaudara yang memihak belas kasih dan tanpa pamrih.

Demikianlah para penganut aliran mistik Jawa ini. Setiap individu-pribadi akan mengalami benturan-benturan dalam kenyataan hidup yang mencerminkan proses peperangan itu. Dalam berbagai prosesi yang mengandung mistik, individu-individu tersebut berjuang untuk menundukkan dan membebaskan batin mereka demi mencapai penyatuan (integrasi) dengan asal-muasalnya. Kesatuan eksistensi itu disimbolkan pada titik pusatnya yang merangkum segala sesuatu, dalam Sang Hyang (Sang Tunggal), Hyang Suksma (Sang Maha Jiwa), Urip (Hidup); dari mana satu eksistensi berasal maka ke sanalah mereka kembali. Dengan demikian, menjaga keselarasan, keharmonisan dan ketertiban adalah tujuan mulia dari ajaran mistisisme ini. Sehingga pada titik tertinggi perjalanan mistik ini, dunia fana menjadi tak berarti. Namun demikian, atas dasar bekal moralitas yang demikian itu, seorang mistikus akan bersinar bagaikan mercusuar. Karena itu praktik mistisisme dipandang sebagai upaya menempuh hidup yang lurus di dunia ini dan berusaha mewujudkan kehidupan damai yang didambakan.

Bagi kaum mistikus, hakikat ketuhanan meliputi sifat yang terang maupun yang tersembunyi. “Tuhan” itu immanen dalam ciptaan dan menjadi bagian dari segala sesuatu itu sendiri. Ketika kita melontarkan sebuah pertanyaan pada mereka, “Adakah Tuhan itu?”, Maka jawab mereka, “Selama kita masih bisa berpikir dan menggunakan akal, maka ‘Tuhan’ tidak ada, akan tetapi ketika kita sudah berhenti berpikir dan merasa cemas, maka ‘Tuhan’ ada.” Jadi, ‘Tuhan’ adalah kekuatan yang berada di sekeliling manusia, dan manusia adalah bagian dari-Nya.

Pada praktiknya, mistisisme adalah upaya individual, yakni pencarian tunggal seorang manusia yang menghendaki penyatuan kembali dengan asalnya, yang menyatakan pelepasan dari rasa duniawi. Hal ini bisa kita lihat dalam cerita-cerita mitologi wayang seperti Dewa Ruci, yakni perjalanan Bima dalam mencari kesejatian hidup. Untuk menempuh jalan mistik ini merupakan perjalanan yang amat berat dan mensyaratkan satu tekad yang bulat. Bahkan berbahaya dan sukar, sebab orang bisa menjadi gila atau dimasuki oleh kekuatan jahat. Manusia harus berlatih dalam mengatasi godaan-godaan dunia dengan berlatih, seperti tapa, puasa, meditasi dan sebagainya. Sampai pada puncak tertinggi, seorang mistikus akan sampai pada tahapan terakhir, yakni tahapan makripat, di mana tujuan menyatunya hamba dengan Tuhan (manunggaling kawula lan gusti) sudah terwujud. Pada tahap ini, jiwa individu akan berbaur dengan jiwa universal, tindakan sudah menjadi laku yang betul-betul murni. Ia telah menjadi wakil “Tuhan” di muka bumi, dan memberi cahaya pada bumi.

Pada umumnya, praktik mistik dan atau kebatinan ini dilangsungkan di rumah seorang guru dari aliran tertentu. Pria dan wanita berkumpul bersama, segala umur boleh ikut serta. Pengikut dari berbagai macam agama bergabung bersama. Kemudian pertemuan dibuka melalui sujud pengheningan untuk mendapatkan kejernihan pikiran dan konsentrasi. Setelah itu sang guru berceramah tentang makna kehidupan menurut pemahaman aliran tersebut.

Sumber bacaan: Niels Mulder. 2001. Mistisisme Jawa, Ideologi di Indonesia (Mysticism in Java Ideology in Indonesia). Terj. Noor Cholish. Yogyakarta: LKiS
Gambar: http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2009 /05/wayang-kulit-001.jpg