Sebelum telat, saya segerakan unggah tulisan ini. Karena saya sering khawatir, apalagi isu temporal yang mudah basi, tanda pengingat bahwa ada perempuan yang dipahlawankan pun cepat surut begitu saja di negeri ini.

Siang tadi saya buka Facebook. Banyak ucapan selamat hari Kartini. Dari sekian banyak ucapan itu, lebih dari setengahnya adalah ungkapan bermuatan superioritas perempuan, kutipan Kartini, dan motivasi agar perempuan Indonesia bisa berkarya sebagaimana lelaki. Saya merasa indah membacanya. Ingatan saya langsung pulang ke rumah, tanpa harus naik bis terlebih  dahulu dari terminal. Ada bayang emak saya, tak melintas, tapi tinggal di sudut pikiran saya yang sibuk jualan lemari dan mengangkut kayu dari Pasuruan ke Kota Malang.

Di beranda Facebook saya scroll ke bawah, hingga lebih banyak lagi pernyataan yang berkaitan dengan Hari Kartini. Namun yang muncul semakin membuat saya miris, yaitu meme Syahrini disertai kalimat “Habis gelap terbitlah sesuatu.” Saya benar-benar terperanjat. Foto Syahrini di situ benar-benar memikat, tampil hitam putih seperti foto yang habis dipermak di Instagram dengan opsi “vintage”. Tidak ada masalah jika Syahrini me-Kartini. Tapi kutipan “habis gelap terbitlah sesuatu” membuat saya juga teringat pada “maju mundur cantik” Syahrini yang memegang tas bermerk di Paris.

Meski Syahrini bukan satu-satunya cerminan perempuan Indonesia masa kini, namun ia adalah contoh dari sebagian perempuan yang hidup di kepulauan ini. Yang tidak seperti Syahrini banyak, seperti ibu-ibu yang memprotes pertambangan semen di Kendeng, atau ibu-ibu petani di desa-desa yang tetap berjuang setiap hari untuk menunjang kebutuhan keluarganya. Yang menanam padi berjalan mundur di sawah itu tidak maju mundur, tapi mundur terus sampai semua bibit padi tertanam hingga harapan hidup bersemi kembali. Di tengah terik yang panas!

Perempuan Satu Dimensi

Gara-gara Hari Kartini, saya jadi teringat untuk membuka lagi bukunya Nina Power yang berjudul One Dimensional Woman. Buku ini mirip judul buku yang ditulis pula oleh Herbert Marcuse, One Dimensional Man. Marcuse membicarakan kesatu-dimensian manusia secara umum. Jadi “man” di situ tidak berarti hanya laki-laki. Power, terinspirasi Marcuse, meradikalisasi kritik atas kesatu-dimensian itu dan diarahkan pada eksistensi perempuan. Penunggalan dimensi kemanusiaan yang terjadi pada masyarakat industrial memang berbahaya. Seakan-akan, yang memang paling berbahaya, semua seperti menjadi objek dari system dan sirkulasi konsumsi yang memangsa subjektifitas manusia.

Power menggambarkan dengan kalimat sederhana tapi muatannya kompleks, kondisi terkini dari perempuan dewasa ini. Katanya, “Pencapaian perempuan yang paling kontemporer hari ini adalah kulminasi dari kepemilikan tas berharga selangit, vibrator, pekerjaan, flat mewah, dan lelaki ganteng!” Saya tidak paham apa yang Power maksud dengan vibrator. Sedangkan yang ia maksud lelaki ganteng adalah ganteng dari sisi penghasilan dan rupa yang menunjang. Itulah mengapa, kalau Anda lelaki dan tidak memiliki dua aspek kegantengan dan tingginya pemasukan, nasib Anda adalah kere dan kesepian.

Perempuan zaman sekarang, terutama di kota-kota besar di Indonesia, terlihat sangat artifisial. Mereka mengenakan kawat gigi hingga model baju aneh yang terkesan buang lebihan. Sayangnya, ukuran perempuan masa kini di negeri ini bukan lagi Kartini atau pun para pejuang penghapusan kesenjangan gender lainnya, tapi Syahrini dan konco-konconya. Penampilan perempuan cantik dalam iklan bedak dan pemutih kulit juga menjadi ukuran keperempuanan itu. Jadinya, Power benar seratus persen, bahwa penunggalan dimensi keperempuanan di zaman industrial yang seksis ini mengarah pada peniadaan subjek perempuan dalam diri perempuan sendiri.

Yang berbahaya dari penunggalan-dimensi perempuan pada hal-hal yang tak substansial seperti di atas adalah penghancurannya terhadap subjektifikasi yang diusahakan sedari dulu oleh para emansipatoris dari kalangan perempuan sendiri. Sederhananya, jika pacar Anda terlalu sibuk berdandan dan macak, itu berarti harus ada pertanyaan yang mengarah pada peran kemanusiaannya sendiri bagi dirinya dan bagi Anda. Tapi, saya sarankan agar Anda tidak bertanya demikian jika Anda lebih mencintai bedaknya daripada naturalitas keperempuanan yang ia miliki.

Saya juga berpikir berulang kali, mengandai-andai, bagaimana jika sekiranya Kartini hidup di zaman ini. Mungkin ia tidak akan surat-suratan via pos dengan orang Belanda itu. Ya, dikirim lewat email. Atau ia chatting-an tipa hari via Line atau WhatsApp, saling kirim foto, atau bahkan sesekali meet up sambil tak lupa menampilkan location tagging di Path di sebuah warung makan ternama di Den Haag. Oh ya, selfie pula untuk menambah stok display picture BlackBerry Messenger.

Ayolah, setelah di-Kartini-kan oleh Orde Bau, masak perempuan Indonesia di-Syahrini-kan oleh perusahaan tekstil, parfum dan pemutih kulit?