Tepat ketika matahari sedang berada di ufuk tertinggi dari bumi, Noko sedang berdiri tepat disebuah gedung yang menjulang tinggi. Siang itu, Noko punya janji dengan pimpinan perusahaan untuk melakukan interview kerja. Noko sekarang berbeda, ia bukan lagi pemuda yang memegang teguh idealisme kaum perjuangan dan perlawanan.

Sekitar dua minggu sebelumnya, Noko baru saja pulang ke kampung halamannya. Sepanjang perjalanan menuju rumah, ia banyak menghabiskan waktu untuk merenung dan mengingat memori masa kecilnya dahulu. Barangkali ia sedang rindu, rindu untuk menuai padi bersama bapaknya. Rindu masa kecil yang lepas, tanpa beban dan tanpa tanggungan.

Dengan langkah mantap, ia masuk ke dalam gedung untuk wawancara kerjanya. Setelah menunggu antrian sekitar satu jam tiba gilirannya untuk masuk ke dalam ruang wawancara. Di dalam, ia sudah ditunggu oleh 2 orang jajaran direksi dari perusahaan. Ia kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman dan memperkenalkan diri.

Setelah menjawab beberapa pertanyaan, Noko mulai tersadar bahwa yang dihadapinya bukanlah sembarang orang. Kedua orang didepannya merupakan yang terbaik di bidang psikologi.

Pak Dani : Kamu yakin, kamu adalah yang kami cari?

Noko : Tentu saja, Pak. Saya yang terbaik.

Bu Esti : Apa yang bisa membuat kami percaya bahwa kamu adalah orang yang pantang menyerah?

Noko : Saya menjalani masa kecil sebagai anak petani, dan sekarang bisa berhadapan dengan bapak dan ibu merupakan bukti bahwa saya bukanlah orang yang hanya hidup untuk hidup.

Bu Esti : Maksudnya bukan hanya hidup untuk hidup?

Noko : Saya ingin berkontribusi, saya selalu mengusahakan manfaat untuk semua orang dan semua kondisi di sekitar saya. Bagaimana bisa saya bermanfaat jika saya pantang menyerah.

Wawancara tiba-tiba terhenti beberapa saat, terlihat Pak Dani dan Bu Esti sedang menulis beberapa catatan.

Pak Dani : Kamu orangnya nakal ya? Ndablek?

Noko : Bisa dibilang begitu, Pak. Dari mana bapak tau?

Pak Dani : Kamu harus mengganti tanda tangan kamu. Dua garis dibawah tanda tanganmu menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang ndablek. Kamu mau menggantinya?

Noko : Tergantung kontrak dengan perusahaan kedepan, Pak.

Seketika semua orang yang ada di dalam ruangan tertawa lepas, tak terkecuali Noko.

Wawancara kemudian berakhir. Sebelum meninggalkan ruangan Pak Dani memperingatkan Noko dengan nada yang cukup tinggi. “Jika nanti kamu ditaruh di Papua, dan belum sampai satu bulan kamu sudah pulang. Kamu lebih baik segera pergi ke pasar dan beli rok”. Seisi ruangan kembali gemuruh dengan gelak tawa.

Setelah melangkahkan kaki dari luar ruangan, Noko menghela nafas sembari mengucapkan syukur kepada tuhan. Ia melihat bayangan dirinya di cermin, menatap seluruh tubuhnya yang terlihat rapi dan klimis. Sambil merapikan rambut legamnya ia berkata “Karena hidup selalu menuntut perubahan. Let’s gone by gone. Bukankah hari ini aku sudah mirip dengan Marx ketika tua?”.

1 COMMENT