Tek, etek, tek, etek. Bunyinya menyerupai mesin uap.

Ada lelaki berhidung mancung mengenakan helm biru menghadap depan. Seolah ia sedang memanggul dua ujung meriam kapal. Di belakangnya, berkibar sang saka yang terbuat dari seng. Mungkin, ia seperti sedang bertempur menghadapi musuh meski hanya sekedar mainan anak kecil. Musuhnya adalah mainan-mainan buatan Cina dan Jepang dengan kecepatan dan kepintaran. Ia hanya bisa lurus, sesekali memutar tanpa sensor mengikuti pinggiran baki.

Aku baru tahu kalau itu adalah kapal mainan ketika sedang bersandiwara, merengek di tengah-tengah riuh pasar malam, pada usia yang masih bau kencur.

“Ibu, aku hanya ingin beli kapal,” rontaku dengan menarik tangan kirinya.

“Tahukah, Nak. Ibu tak membawa uang walau lima ribupun,” ibuku membalas.

Aku tetap bersandiwara, sembari berjalan melintas penjual kapal,

“Lihat temanku itu, Bu. Rupanya dia lebih memilih mainan dengan baterai, bukankah itu lebih mahal dari pintaku.”

“Ibu kan sudah bilang, kita hanya berjalan dan melihat, tidak hendak membeli. Belum lagi persediaan dapur belum terbeli, Nak.” Ibuku memelas, agar aku sadar.

Namun aku tetap berkeras ingin, seperti anak kecil yang tak punya rasa prihatin.

Lama-lama rengekku berubah menjadi tangis, rasanya aku menyerah pada sandiwara. Tangisku bergelora memecahkan pasar malam yang bising. Tak terusik satupun dari hatiku untuk berkata iba pada ibu. Lantaran mainanku, yang pertama dan terakhir, telah rusak saat terjangan banjir menghempas seisi rumah di usiaku yang masih dua tahun.

Tangis itu membuat orang-orang menoleh. Barangkali mereka turut dalam kesedihanku, atau mungkin risih dengan suara jeritan yang mengganggu. Dari seberang, terlihat temanku beserta ayah dan ibunya menoleh padaku. Ia tak jadi membeli robot. Bersama ayah dan ibunya, ia menghampiriku.

“Kamu kenapa?” Tanya temanku bersimpati.

Tak aku jawab, ia seperti tak sadar jika aku begitu hanyut dalam tangisan.

“Ia minta dibelikan kapal mainan itu, tapi aku belum dapat membelikannya malam ini,” jawab Ibuku.

“Kalau begitu, suruh anakmu segera memilih warna yang dia pilih. Biar anakku juga membeli.” Sergah Ayah temanku mencoba menengarai.

***

Sesampai di rumah perasaanku mulai bangun menjelang lelapku. Tidakkah rengekan itu membuat ibu malu? Bagaimana perasaannya ketika bantuan tadi datang? Adalah rangkaian tanya yang seperti mengitari isi bantalku.

**

Aku terbangun dalam lamunan.

Kini ombak dengan rutin mendesau, menerpa batu karang tajam di pinggir dermaga. Sesekali camar hinggap, lalu pergi dengan sendiri. Beberapa kuli memanggul barang bawaan penumpang masuk ke dalam kapal. Sore ini aku pergi meninggalkan pulau, sisa-sisa kenangan masa lalu bersama Ibu menyentuh hati. Tak terasa sampai air mata menggores pipi, meski tak menggelegar bagai ombak. Di hadapku ada kapal besar yang akan mengantarkan sejauh ratusan kilometer, bukan lagi kapal mainan seperti sedia kala.

“Mas, segeralah masuk!” pinta petugas kapal dalam aksen Jawa.

“Bisakah kau beri sedikit waktu, aku sedang menunggu Ibu. Aku hanya ingin mencium tangannya”

“Ayolah, kuhitung sudah tiga kali kau meminta waktu, dan sekarang kau minta lagi”

“Ini yang terakhir”

“Ah, memangnya sudah sampai mana ibumu?”

“Aku tidak tahu, mungkin ia sedang terduduk di pelataran yang luas. Melihat anaknya hendak meraungi samudera”

“Maksudmu?” Ia mulai terheran.

“Sudah tunggulah sebentar, tidak lama lagi Ibuku datang”

“Ya sudahlah, aku beri waktu dua menit. Kalau dua menit lewat, kau aku tinggal,” tandasnya memaksa.

“Aku tetap menanti,” gumamku dalam hati.

Walau aku tahu Ibu takkan datang. Ya, Ibu takkan pernah datang sampai kapanpun, sebab ia telah tenang dalam pembaringan. Sedang yang datang adalah jelmaannya dalam bayangku. Dulu, ia pernah bercerita tentang kisah awan dan ombak yang berkejaran menarik hati senja. Aku tetap mengingat kisah yang berakhir pada rupa senja yang muram. Kisah itu dinilai ibu menyiratkan kasih sayang tanpa mengenal batas.

“Hai anak muda, berhentilah melamun! Apa yang sedang kau pikirkan?”

Seorang perempuan paruh baya mengacaukan jalinan mesraku dengan ibu.

“Aku tak memikirkan apapun,” aku mengelak.

“Ku tahu kau sedang melamun. Orang melamun pasti memikirkan sesuatu,” timpanya dengan cepat.

“Ya, aku sedang melamun, tentang masa lalu, sebuah kerinduan terhadap ibu. Lantas, saat ini aku sedang menunggunya.”

“Percayalah anak muda lebih baik kau berangkat. Pernah kau mendengar tentang Mark Twain?”

Aku hanya diam, tak mengerti apa tujuannya menggangguku.

“Ia adalah penulis dari negri jauh. Tapi siapa dia tidaklah penting. Yang jelas ada satu kutipan darinya yang baik untukmu.”

Aku tetap diam. Sambil sesekali melihatnya yang mulai duduk merapat di sebelahku.

Perempuan itu kembali membuka bibirnya: “Dua puluh tahun dari sekarang kau akan menyesali hal-hal yang tidak kau lakukan daripada yang telah kau lakukan. Jadi bebaskanlah. Berlayarlah meninggalkan pelabuhan yang aman. Sambutlah angin yang menerpa layar. Temukanlah, menjelajahlah, dan bermimpilah!”

Sejenak aku terhenyak dan menolehnya.

“Bagus sekali kutipan itu,” ujarku kagum.

“Masuklah kapal, Nak. Nanti kuceritakan kau tentang waktu yang tak pernah usai. Namun tak seperti waktu, ibumu tetap abadi bersamamu, kemanapun kau pergi. Ia ada dalam detak nadimu.”

Tak sadar aku menurutinya. Aku lihat senyumnya keibuan, dan aku lihat hari mulai gelap.

***

Deru mesin kapal mengalahkan desir ombak. Kapal mainan itu kini menjadi nyata, menjadi besar, tak pernah terbayangkan, dan kini aku menaikinya. Perempuan paruh baya itu tetap di dekatku, duduk di kursi panjang bersamaku dekat dek kapal. Kami sempatkan untuk berdo’a sebelum jangkar tercabut. Sedetik berlalu, kami segera akrab, ternyata rumahnya tak jauh dauh dari desaku.

Dalam ceritanya kutangkap perempuan paruh baya itu adalah seorang TKW yang meninggalkan anak dan suaminya untuk mencari nafkah di negri seberang. Begitupula denganku, hendak pergi merantau meninggalkan sejuta peluh kenangan. Barangkali aku akan kembali, sekedar untuk berdo’a di samping nisan ibu.

Seperti sajak Zawawi Imron yang aku bacakan di ulang tahunmu: “Bila kasihmu ibarat samudera, sempit lautan teduh.”

 

Dalam Rajutan Hari Ibu. Malang, 21 Desember 2015