Setiap pernyataan ada konteksnya. Sebagaimana menafsiri Qur’an dan Hadis, harus direfleksikan dengan asbabun nuzul dan asbabul wurud-nya.

Said Aqil Siradj melontarkan pernyataan kontroversial mengenai jenggot. Tak pelak, muncul pro dan kontra atas guyonan-nya itu. Mungkin khawatir menimbulkan perpecahan umat, ia kemudian mensyarahi pernyataaannya dengan video klarifikasi. Sebuah upaya yang layak diapresiasi.

Ibarat pepatah jawa, “Parman bacokan, mari mangan rokokan”. Hari Santri belum selesai diperdebatkan, perkara jenggot muncul lagi ke permukaan. Lukisan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari tampak bersih tanpa jenggot. Gambar Sang Kyai itu terpampang dengan elegan di background panggung Tugu Proklamasi saat deklarasi Hari Santri.

Ah sudah lah, saya tak mau turut serta memperpanjang perdebatan benar salahnya, wajib sunnahnya, makruh mubahnya memelihara jenggot. Hanya saja, perdebatan soal jenggot mengingatkan saya pada cerita mengenai “kenakalan” masa remajanya Muso.

Semua orang tahu bahwa Sarekat Islam (SI) adalah tempat “kongkow” para tokoh besar. Dari yang tua seperti KH. Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto, hingga yang muda seperti halnya Tan Malaka dan Muso. Para tokoh tua kemudian ngeblok menjadi SI Putih yang berhaluan kanan, sedangkan yang muda ngeblok menjadi SI Merah yang berhaluan kiri.

Perpecahan di tubuh organisasi itu memicu suasana panas di setiap rapat. Muso, tokoh muda yang sedang “nakal-nakalnya” berpidato dengan semangat membara. Sampailah pidato itu pada sebuah pertanyaan kepada para peserta:

“Saudara-saudara kalau orang yang berjenggot, maka ia seperti apa?” Katanya lantang.

”Kambingggg” Jawab sebagian peserta rapat.

“Kalau yg berkumis seperti apa?” Lanjut Muso.

“Kucingggg” timpal para hadirin.

Atas ulahnya itu, HOS Cokroamintoto merasa tersindir karena ia adalah ketua SI Merah yang kebetulan memelihara kumis. Pun demikian dengan KH. Agus Salim, tak tanggung-tanggung, selain berseberangan dengan Muso ia berkumis sekaligus berjenggot. Bayangkan bagaimana perasaan KH. Agus Salim? Bagaimana pula beliau mengimajinasikan dirinya sebagai siluman berkumis kucing namun berjenggot kambing?

Perlahan keramaian akibat ulah Muso pun reda. Hingga tiba saatnya KH. Agus Salim berpidato. Dengan santai namun tetap penuh wibawa, beliau bertanya kepada hadirin. Kira-kira begini kalimat belau:

“Nah, kalau orang yang tidak berjenggot dan tidak berkumis itu seperti apa?”

“ANJING!!!” Jawab para hadirin spontan.

Cerita kenakalan muso itu ada hikmahnya, bahwa pernyataan yang disampaikan melalui pidato haruslah dijawab dengan pidato, dalil akan patah karena dalil, pasal akan patah karena pasal dan guyonan juga akan lebih indah dibantah dengan guyonan. Jika anda pro-jenggot, silakan timpali pidato Kang said dengan guyonan saja. Jangan terlalu diambil pusing.

Nah bagi yang kontra-jenggot, ada baiknya belajar kepada Asuma Sarutobi. Beliau adalah tokoh yang menjadi idola para penikmat manga. Ia memiliki karakter kebapak-bapakan yang santai sekaligus serius.

Anda tahu kenapa ia begitu digandrungi? Bukan karena sifat kebapakan maupun keseriusannya, tapi karena jenggotnya. Jenggot lebatnya itu lho yang bikin cewek-cewek jadi geregetan, sekaligus bikin cowok-cowok obsesif menirunya. Bukan hanya jenggot ding, rokok juga menjadi pemicu peningkatan angka fans beratnya. Ia tampak sering ngudud dalam setiap secene penampilannya. Penikmat manga yang sebagian besar adalah anak laki-laki yang beranjak dewasa tentu bermimpi suatu saat nanti bisa ngudud layaknya Asuma Sarutobi.

Bukankah lebih adem jika Kang Said meniru Asuma Sarutobi. Sudah merokok, tinggal tambahkan sejengkal jenggot. Siapa tahu dengan begitu cewek-cewek penggemar cosplay, manga dan harajuku berbondong-bondong bikin KARTANU.

Kembali pada kalimat pertama tulisan ini, tak bijak kiranya menafsiri jenggot tanpa kajian mendalam terhadap latar belakang, asbabul wurud dan konteks kehidupan sang pemelihara. Terkadang jenggot lekat erat dengan jamaah teroris, tapi bisa jadi adalah penganut jenggot Marxist, atau cowok kekinian bergaya hippies.

Akhir kata, jenggot itu zonder-ideologi dan nir-afiliasi. Lebih baik anda ngaji, daripada ngerasani jenggotnya Pak Kyai. Lebih ndak penting lagi anda buang energi baca tulisan ini sampai selesai.